Nasehat Bagi yang Tak Kunjung Hamil

Nasehat Bagi yang Tak Kunjung Hamil

Ada yang sudah lama menikah namun tak juga dianugerahi anak. Boleh jadi salah satu dari suami istri tersebut mandul. Adakah nasehat dalam hal ini?

Pernah ditanyakan pada Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “Ada seorang wanita terus gelisah karena ia tak kunjung hamil. Kadang ia terus-terusan menangis dan banyak berpikir dan ingin berpaling dari kehidupan dunia ini. Apa hukumnya? Dan apa nasehat padanya?”

Jawab para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, “Tidak pantas bagi wanita semacam ini untuk gelisah dan banyak menangis karena tak kunjung hamil. Karena memiliki keturunan pada pasangan laki-laki dan perempuan yaitu mendapatkan anak laki-laki saja atau perempuan saja atau mendapatkan anak laki-laki dan perempuan, begitu pula tidak memiliki keturunan, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman,

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50)

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50).

Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi. Allah pula yang mampu menentukan manusia itu bervariasi (bertingkat-tingkat). Cobalah yang bertanya melihat pada kisah Yahya bin Zakariya dan ‘Isa bin Maryam ‘alaihimash sholaatu was salaam. Kedua orang tuanya belum memiliki anak sebelumnya. Maka bagi wanita yang bertanya hendaklah pun ia ridho pada ketentuan Allah dan hendaklah ia banyak meminta akan hajatnya pada Allah. Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang besar dan ketentuan yang tiada disangka.

Tidak terlarang jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau ia datang pada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita. Moga saja dengan konsultasi semacam itu, ia mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya tak kunjung hamil. Begitu pula untuk sang suami, hendaklah ia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar karena boleh jadi masalahnya adalah pada diri suami.

Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 8844. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota.

Dinukil dari Al Fatawa Al Muta’alliqoh bith Thib wa Ahkamil Marodh, terbitan Darul Ifta’ Al Lajnah Ad Daimah, hal. 309.

Akhukum fillah,

Sedekah Ketika Pelit dan Sehat

Sedekah Ketika Pelit dan Sehat

Ketika seseorang sehat, maka ia cenderung untuk pelit. Sehingga dalam keadaan sehat dan pelit, sulit sekali untuk sedekah. Padahal sedekah ketika pelit dan sehat adalah sebaik-baiknya sedekah dan berpahala lebih besar.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Yang dimaksud keadaan sehat di sini adalah dalam keadaan tidak tertimpa sakit. Adapun pelit atau syahih yang dimaksud adalah pelit ditambah punya rasa tamak.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. Jika ia berbaik hati bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang berbeda halnya ketika sehat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 112)

Ibnul Munir menyampaikan bahwa ayat yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebelum hadits di atas menunjukkan larangan menunda-nunda untuk berinfak dan supaya menjauhi panjang angan-angan. Juga di dalamnya diajarkan supaya bersegera dalam sedekah, jangan suka menunda-nunda. Dinukil dari Fathul Bari, 3: 285.

Ayat yang dibawakan adalah firman Allah,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian.” (QS. Al Munafiqun: 10).

Dan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli” (QS. Al Baqarah: 254).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas mendorong supaya setiang orang berjuang melawan hawa nafsunya untuk mengeluarkan harta padahal ada sifat pelit dan tamak yang menghalangi. Ini yang menunjukkan bahwa sedekahnya benar-benar jujur dan kuatnya semangat orang yang melakukannya.” (Fathul Bari, 3: 285).

Hanya Allah yang memberi hidayah dan taufik.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Fathul Bari bi Syarh Shohih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Ciri Hati yang Sehat

Ciri Hati yang Sehat

Hati yang sehat dan selamat -kata Ibnul Qayyim- adalah hati yang lepas dari noda syirik dan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah hati yang nantinya bermanfaat ketika bertemu Sang Khalik di hari kiamat kelak.
hati sehat

Perlu kita tahu bahwa hati itu ada tiga macam. Ada hati yang sehat (selamat dari penyakit), hati yang sakit dan hati yang mati. Ketiga jenis hati ini disebutkan dalam ayat berikut ini,

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54)

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit (hati yang sakit) dan yang mati hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu (yang punya hati yang sehat), meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Hajj: 52-54). Dalam ayat ini, disebutkan tiga macam hati, yaitu dua hati yang terkena fitnah dan satu hati yang selamat. Hati yang terkena fitnah adalah hati yang sakit dan yang mati. Sedangkan hati yang selamat adalah hati orang beriman yang selalu tunduk dan patuh pada Rabb-Nya, serta selalu merasakan ketenangan.

Bagaimana keadaan hati yang sehat?

Hati yang sehat, itulah yang akan selamat pada kegentingan hari kiamat kelak. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’araa’: 88-89).

Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah dan selamat dari syubhat yang bertentangan dengan kabar dari Allah, selamat dari penghambaan pada selain Allah, selamat dari berhukum pada selain hukum Rasulullah. Hati yang sehat juga selamat dari cinta ibadah yang menduakan Allah, dari takut ibadah yang menduakan Allah, begitu pula dari rasa harap yang menduakan Allah. Intinya, segala ubudiyah (penghambaan) hanyalah ditujukan pada Allah, itulah hati yang selamat. Demikian kalimat yang jaami’ ketika mendefinisikan hati yang sehat sebagaimana diuraikan oleh Ibnul Qayyim.

Hati yang sehat, selamat dari syirik (penghambaan ibadah pada selain Allah) dan hati tersebut tunduk pada syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua unsur penting ini dimiliki oleh orang yang memiliki hati yang sehat. Demikian kesimpulan dari Ibnul Qayyim rahimahullah.

Dalam ibadah ditanyakan dua hal, yaitu: (1) Mengapa? (2) Bagaimana?

Sebagian salaf berkata,

ما من فعلة وإن صغرت إلا ينشر لها ديوانان : لم وكيف أى لم فعلت وكيف فعلت

“Setiap amalan tidak lepas dari dua pertanyaan yaitu mengapa dan bagaimana, maksudnya (1) mengapa dilakukan? (2) bagaimana dilakukan?” (Ighotsatul Lahfan, 1: 42).

Pertanyaan pertama dimaksudkan apakah motivasi yang mendorong melakukan amalan tersebut, apakah dilakukan untuk meraup keuntungan dunia, suka akan pujian manusia, takut pada celaan mereka, ataukah ingin mendekatkan diri pada Allah.

Pertanyaan kedua dimaksudkan bagaimana amalan tersebut dilakukan, apakah sesuai yang disyari’atkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ataukah tidak.

Intinya, pertanyaan pertama tentang ikhlas dalam amalan, sedangkan pertanyaan kedua tentang ittiba’ (mengikuti ajaran Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Amalan tidaklah diterima melainkan dengan memenuhi dua syarat ini. Sehingga hati yang selamat dan meraih kebahagiaan adalah hati yang ikhlas dan hati yang berusaha mengikuti setiap petunjuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam amalan ibadah. Sehingga Ibnul Qayyim pun mengatakan,

فهذا حقيقة سلامة القلب الذي ضمنت له النجاة والسعادة

Inilah (hati yang ikhlas dan ittiba’) itulah hakikat hati yang salim, yang akan meraih keselamatan dan kebahagiaan.” (Ighotsatul Lahfan, 1: 43).

 

Semoga Allah menganugerahkan pada kita hati yang sehat, bersih dari noda syirik dan noda amalan tiada tuntunan.

Wallahu waliyyut taufiq.

Polemik Alkohol dalam Obat-Obatan 

Polemik Alkohol dalam Obat-Obatan 

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Para pengunjung setia wahdaniyah.com yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Pembahasan kali ini adalah pembahasan lanjutan mengenai alkohol dari pembahasan kami sebelumnya. Sekarang kita akan meninjau bagaimanakah pengaruh alkohol dalam obat-obatan dan bagaimana hukum menggunakan obat semacam itu.

Kami berawal dengan menjelaskan alkohol dalam obat batuk. Karena inilah obat-obatan yang sering menggunakan bahan campuran alkohol.

Alkohol dalam Obat Batuk

Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalangan. Sehingga batuk diidentikan sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernafasan kemasukan benda-benda asing atau karena produksi lendir yang berlebih. Benda asing yang sering masuk ke dalam saluran pernafasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi. Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat dalam obat batuk jenis sirup adalah alkohol.

Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar produsen obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari 1 persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods’, Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorant, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon.

Fungsi Alkohol dalam Obat Batuk Menurut Pakarnya

Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.

Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, “Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut.”

Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja. [1]

Bedakan Antara Alkohol Pelarut dan Khomr

Sebagaimana telah diketahui tadi bahwa fungsi alkohol dalam obat semacam obat batuk adalah sebagai solvent (pelarut). Oleh karenanya, sebagaimana penjelesan kami yang telah lewat mengenai alkohol, mohon alkohol yang bertindak sebagai solvent (pelarut) ini dibedakan baik-baik dengan alkohol pada khomr. Karena kedua alkohol ini berbeda.

Perlu kita ketahui terlebih dahulu, khomr adalah segala sesuatu yang memabukkan. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram.”[2]

Yang jadi illah (sebab) pengharaman khomr adalah karena memabukkan. Khomr diharamkan karena illah (sebab pelarangan) yang ada di dalamnya yaitu karena memabukkan. Jika illah tersebut hilang, maka pengharamannya pun hilang. Karena sesuai kaedah “al hukmu yaduuru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman (hukum itu ada dilihat dari ada atau tidak adanya illah)”. Illah dalam pengharaman khomr adalah memabukkan dan illah ini berasal dari Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan ulama kaum muslimin).”[3]

Inilah sebab pengharaman khomr yaitu karena memabukkan. Oleh karenanya, tidak tepat jika dikatakan bahwa khomr itu diharamkan karena alkohol yang terkandung di dalamnya. Walaupun kami akui bahwa yang jadi patokan dalam menilai keras atau tidaknya minuman keras adalah karena alkohol di dalamnya. Namun ingat, alkohol bukan satu-satunya zat yang dapat menimbulkan efek memabukkan, masih ada zat lainnya dalam minuman keras yang juga sifatnya sama-sama toksik (beracun). Dan sekali lagi kami katakan bahwa Al Qur’an dan Al Hadits sama sekali tidak pernah mengharamkan alkohol, namun yang dilarang adalah khomr yaitu segala sesuatu yang memabukkan.

Sedangkan alkohol yang bertindak sebagai pelarut sebenarnya tidak memabukkan karena kadarnya yang terlalu tinggi sehingga mustahil untuk dikonsumsi. Kalau mau dikonsumsi, maka cuma ada dua kemungkinan yaitu sakit perut, atau bahkan mati. Sehingga alkohol pelarut bukanlah khomr, namun termasuk zat berbahaya jika dikonsumsi sebagaimana layaknya Baygon.

Jadi yang tepat kita katakan bahwa alkohol disebut khomr jika memabukkan dan tidak disebut khomr jika tidak memabukkan.

Pandangan Ilmu Fiqih Mengenai Obat Beralkohol

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan, “Adapun beberapa obat yang menggunakan campuran alkohol, maka itu tidaklah haram selama campuran tersebut sedikit dan tidak nampak memberikan pengaruh.”[4]

Obat yang mengandung alkohol ini dibolehkan karena adanya istihlak. Yang dimaksud dengan istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang jumlahnya lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharaman benda yang sebelumnya najis, baik rasa, warna dan baunya.[5]

Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci.

Alasannya adalah dua dalil berikut.

Hadits pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.”[6]

Hadits kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).”[7]

Dua hadits di atas menjelaskan bahwa apabila benda yang najis atau haram bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakan warna atau baunya, maka dia menjadi suci.

Jadi suatu saat air yang najis, bisa berubah menjadi suci jika bercampur dengan air suci yang banyak. Tidak mungkin air yang najis selamanya berada dalam keadaan najis tanpa perubahan. Tepatlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  “Siapa saja yang  mau merenungkan dalil-dalil yang telah disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat inilah yang lebih tepat. Sangat tidak mungkin ada air atau benda cair yang tidak mungkin mengalami perubahan menjadi suci (tetap najis). Ini sungguh bertentangan dengan dalil dan akal sehat.”[8]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mengatakan, “Begitu pula khomr apabila dia bercampur dengan zat lain yang halal dan tidak memberikan pengaruh apa-apa, maka campuran yang ada akan tetap halal.”[9]

Di samping itu pula selain karena alasan istihlak sebagaimana dijelaskan di atas, obat yang mengandung alkohol diperbolehkan karena illah (sebab) seperti yang ada pada khomr tidak ada lagi, yaitu memabukkan. Padahal hukum berputar sesuai dengan ada tidaknya illah (sebab).

Sebagian orang mungkin ada yang salah memahami hadits berikut.

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

“Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram.”[10] Sehingga dari sini ada sebagian yang mengatakan bahwa dalam obat ini terdapat alkohol sekian persen, maka itu terlarang dikonsumsi.

Kami katakan bahwa pernyataan seperti ini muncul, di antaranya karena kurang memahami hadits di atas. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Mereka menyangka bahwa makna hadits tersebut adalah jika sedikit khomr tercampur dengan minuman selain khomr, maka minuman tersebut menjadi haram. Ini bukanlah makna dari hadits di atas. Namun makna hadits yang sebenarnya adalah jika sesuatu diminum dalam jumlah banyak sudah memabukkan, maka kalau diminum dalam jumlah sedikit tetap dinilai haram.”[11] Sedangkan yang ada pada obat-obatan tidaklah demikian.

Untuk Kehati-hatian

Chilwan Pandji mengatakan, “Konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, di mana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning).”

Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.[12]

Oleh karena itu, dari sisi inilah obat yang mengandung alkohol bisa kita katakan sebaiknya dijauhi. Alasannya, karena jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29). Di antara maksud ayat ini adalah janganlah menjerumuskan diri dalam kebinasaan yaitu yang dapat mencelakakan diri sendiri.[13] Di antara bentuknya adalah mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat membahayakan jiwa.

Begitu pula sebagaimana dikatakan oleh Chilwan Pandji di awal, berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.[14]

Sebagaimana pula hasil rapat Komisi Fatwa MUI tahun 2001 menyimpulkan bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1%  (satu persen).[15] Sehingga untuk kehati-hatian, kami sarankan untuk meninggalkan obat beralkohol jika kandungan alkoholnya di atas 1%.

Penutup

Sebagai solusi, kami sarankan menggunakan obat herbal, di mana diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Inilah solusi yang lebih aman.

Demikian sekelumit pembahasan mengenai obat beralkohol seperti obat batuk. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Nyeri Otot: Dikompres Es Atau Air Panas? 

Ilustrasi. kosmicamusic.com

Nyeri otot dan cedera, tentu saja, tidak pernah bagian dari rencana. Bergerak aktif, meskipun menyenangkan terkadang dapat menyebabkan nyeri otot yang menyakitkan. Karena itu mengetahui cara cepat mengembalikan otot tubuh menjadi sangat penting. Sayangnya, hanya sedikit seseorang yang mengetahui bagaimana mengatasi rasa nyeri setelah berolahraga.

Seperti yang dikutip dari situs www.thebeautybean.com mencari tahu cara yang tepat untuk mengurangi ketidaknyamanan agak membingungkan. Apalagi ketika dihadapkan pada pilihan mengompres dengan batu es atau air panas. Akan selalu timbul pertanyaan jika menggunakan air panas seberapa panas yang dibutuhkan? atau bila menggunakan es seberapa lama waktu yang dibutuhkan?

Nyeri otot dapat disebabkan berolahraga terlalu keras, penggunaan otot besar tertentu secara berulang-ulang, berdiri atau duduk di kursi terlalu lama, bahkan rutinitas atau aktivitas sehari-hari. Karena itu penting untuk mengenali perbedaan antara menjadi sakit dan sakit.

Sebuah latihan lengan atau tungkai kaki yang terlalu berat dapat menyebabkan sakit atau bengkak pada bagian tubuh tertentu. Dalam beberapa kasus, nyeri otot seperti ini dapat diatasi dengan obat-obatan tertentu. Namun lebih penting untuk mengunjungi dokter dengan memaparkan rasa nyeri secara jelas. Sebab hanya dokter yang dapat mendiagnosa dan mengobati luka pada cidera yaitu peradangan akut dan perbaikan bagian tubuh tertentu.

Mayo Clinic menyarankan, dingin menjadi pengobatan pertama untuk bantuan pada nyeri otot. Suhu dingin dapat membantu mengurangi peradangan dan pembengkakan atau rasa tidak nyaman, saat otot mengalami cidera.

Dalam Mayo Clinic disebutkan, otot dapat dikompres sesuatu yang dingin yaitu es batu atau sekantong sayuran beku selama kurang lebih 20 menit. Pengompresan ini diulang setiap 4 sampai 6 jam sekali dalam 48 jam pertama pengompresan. Kompresi dingin dapat dilakukan dengan handuk kertas atau kantung kain agar tidak mengiritasi kulit. Biasanya rasa sakit dan peradangan akan berkurang dalam waktu 2 – 3 hari.

Sementara itu, kompres panas tidak hanya membuat tubuh menjadi lebih nyaman, tetapi juga dapat membantu mengendurkan otot-otot tegang penyebab sakit. Namun ada baiknya menunda keinginan untuk mengompres panas ketika baru cidera. Sebab kompres panas dapat membahayakan bila diberikan pada tubuh yang baru cidera.

Panas dapat meningkatkan sirkulasi darah ke daerah cidera, hal ini malah dapat memperparah pembengkakan. Karena itu mengompres panas tidak boleh dilakukan langsung sehabis cidera. Selain itu pengompresan harus dilakukan dengan menggunakan botol atau kantung khusus air hangat. Sedangkan mandi air hangat baik untuk beristirahat dan bersantai sambil meredakan rasa nyeri.

Tips terakhir yang diberikan Mayo Clinic adalah bila rutinitas latihan kekuatan membuat Anda merasakan nyeri satu atau dua hari sesudahnya, jangan hentikan kegiatan latihan untuk minggu depan. Sebab, latihan selanjutnya membantu menciptakan efek adaptasi, yang dapat mengurasi rasa nyeri pada otot. Latihan selanjutnya juga dapat memulihkan otot yang cidera secara lebih cepat. Ini karena tubuh mulai beradaptasi dengan gerakan baru. Bila cidera tidak juga sembuh, ada baiknya segera konsultasi dengan dokter spesialis olahraga atau tulang.

4 Kesalahan Saat Mengobati Cedera Pakai Kompres Dingin

Banyak orang yang langsung menggunakan kompres dingin untuk mengobati kaki yang keseleo atau terkilir setelah olahraga atau dahi yang bengkak karena kejedot pintu. Sayangnya, tak sedikit orang yang masih melakukan beberapa kesalahan saat menggunakan kompres es untuk mengatasi bengkak atau cedera lainnya.

Alih-alih menyembuhkan, hal tersebut justru dapat memperburuk kondisi Anda. Lantas, apa saja kesalahan paling umum saat menggunakan kompres dingin untuk mengatasi cedera? Simak ulasan berikut.

Kompres es bisa mengempiskan bengkak

Kompres dingin biasa digunakan untuk meredakan nyeri serta mengempiskan memar dan bengkak yang baru timbul dalam 24-48 jam setelah terjadinya cedera. Kompres dingin bertujuan mengurangi peradangan, mengurangi perdarahan ke dalam jaringan, dan mengurangi kejang otot serta nyeri.

Segera setelah cedera terjadi, area cedera tersebut akan mengalami peradangan dan kerusakan pembuluh yang menyebabkan sel-sel darah bocor keluar. Itu sebabnya kenapa kulit Anda bisa tampak merah kebiruan hingga ungu tua beberapa saat setelah cedera terjadi.

Nah, suhu rendah dari kompres es dapat merangsang pembuluh darah menyempit untuk memperlambat darah mengalir menuju lokasi cedera. Penurunan aliran darah ini menyebabkan berkurangnya zat-zat perangsang peradangan yang bergerak menuju daerah cedera sehingga dapat mengurangi bengkak dan nyeri.

Dalam dunia pertolongan pertama, penggunaan kompres dingin menjadi bagian dalam metode RICE, yaitu:

  • Rest,

mengistirahatkan bagian yang mengalami cedera.

  • Ice,

melakukan kompres es pada bagian yang mengalami cedera.

  • Compression,

menggunakan pembalut elastis untuk mengurangi pembengkakan jaringan dan perdarahan lebih lanjut.

  • Elevation,

meninggikan bagian yang mengalami cedera dari posisi jantung supaya aliran darah bisa berjalan lancar.

Karena menjadi bagian penting dalam pertolongan pertama saat cedera, itu sebabnya penting untuk tahu cara menggunakan kompres es dengan baik dan benar.

Kesalahan yang paling sering dilakukan orang saat kompres es

Berikut 4 kesalahan yang paling sering dilakukan saat menggunakan kompres es:

1. Terlalu lama mengompres

Terlalu lama mengompres kulit dengan es bisa membuat kondisi Anda malah makin memburuk. Ini karena paparan suhu dingin dalam waktu lama justru dapat mematikan jaringan yang membuat proses pemulihan makin tertunda.

Anda boleh mengompres dingin daerah yang cedera minimal 3 kali sehari. Namun, Anda hanya dianjurkan untuk mengompres 10-15 menit setiap kalinya. Jika ingin diulang, beri jeda 10-30 menit di antara waktu mengompres agar daerah yang cedera tetap bisa mendapatkan cukup aliran darah.

2. Menerapkan es langsung ke kulit

Ini adalah kesalahan paling umum yang sering dilakukan banyak orang. Alih-alih ingin cepat sembuh, menerapkan es langsung ke kulit yang cedera dapat menyebabkan radang beku dan kerusakan pada jaringan serta sistem saraf yang ada pada kulit Anda.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, balut dulu es batu dengan waslap tipis sebelum ditempelkan ke kulit. Anda juga bisa merendam handuk dalam baskom berisi air dingin dan es batu, peras dulu sebelum ditempelkan ke kulit.

3. Memaksa beraktivitas saat dikompres

Mengompres bagian tubuh yang cedera hanya sebatas tindakan pertolongan pertama saja, tidak benar-benar menyembuhkan atau mengobati.

Agar cepat sembuh, Anda harus mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera tersebut. Jangan dulu beraktivitas terlalu berat selama masa penyembuhan ini meski cedera sudah kempes setelah dikompres. Ada baiknya Anda mengistirahatkan bagian yang cedera setidaknya selama 24 jam sampai kondisi Anda benar-benar membaik.

Memaksa melanjutkan aktivitas fisik justru memperlama proses penyembuhan cedera.

4. Tidak segera cari bantuan medis

Karena sifatnya sebagai pertolongan pertama, penting bagi Anda untuk tetap mencari bantuan medis setelah cedera. Terutama apabila Anda mengalami cedera serius akibat olahraga ataupun kecelakaan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya komplikasi setelah cedera.

Jadi, setelah penanganan dengan kompres es, Anda sebaiknya mencari bantuan medis ke dokter, rumah sakit, atau pelayanan kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Cara Menanam Alpukat Bermodalkan Tusuk Gigi & Pot

Alpukat adalah buah dengan cita rasa unik yang disukai oleh banyak sekali orang. Terlebih, buah ini bisa membuat telur, sandwich, dan salad terasa lebih nikmat untuk dikonsumsi. Jika kamu sangat menyukai buah yang satu, mungkin kamu bisa mencoba cara menanam alpukat sendiri di rumah.

Nah, tahukah kamu bahwa ada cara mudah menanam alpukat di dalam rumah dengan peralatan seadanya?

Jika belum, kamu bisa menggunakan cara yang satu ini untuk menghemat biaya membeli alpukat yang harganya relatif mahal dibandingkan dengan buah-buah kebanyakan.

Jika kamu tertarik, kamu bisa mengikuti trik yang satu ini.

Sebelum memulai, inilah beberapa hal yang harus dipersiapkan:

  • Biji alpukat
  • Tusuk gigi
  • Gelas
  • Pot berukuran 10 inci
  • Tanah
  • Sekop

Setelah menyiapkan semuanya, ikuti langkah di bawah ini ya, Sahabat wahdaniyah

Cara Menanam Alpukat dengan Media Pot

  • Siapkan biji alpukat yang masih utuh dan bersihkan dari segala kotoran termasuk sisa daging buah.
  • Biarkan hingga kering dan tusuk dengan 3-4 tusuk gigi di bagian tengah biji.
  • Siapkan gelas yang berisikan air dan posisikan agar 1/3 bagian bawah biji tersebut terendam air.
  • Simpan gelas tersebut di area dengan suhu hangat yang terhindar dari cahaya matahari langsung.
  • Jangan lupa untuk mengganti air secara teratur.
  • Setelah 2-6 minggu, akar dan tunas akan tumbuh (jika tidak, cobalah dengan biji alpukat yang lain).
  • Ketika tunas tumbuh hingga 6 inci, potong menjadi 3 inci untuk mempercepat pertumbuhan akar.
  • Ketika sudah tumbuh, tanam biji tersebut di dalam pot berukuran 10 inci yang sudah dipenuhi dengan tanah.
  • Inilah saatnya untuk menunggu biji tersebut tumbuh menjadi pohon alpukat yang menghasilkan banyak buah!

Sebagai tips, gunakan biji alpukat yang berasa dari buah yang sudah tua, tidak jatuh dengan keras, dan tidak pecah.

Tips Memelihara Pohon Alpukat

Untuk merawatnya, kamu bisa menyimpan pot tersebut di tempat yang tersinari cahaya matahari dan siram secukupnya.

Kuncinya adalah membuat tanah pada pot tetap lembap.

Jika daun menguning, itu tandanya kamu terlalu banyak menyiramnya dengan air.

Agar tanaman tidak membusuk, segera kurangi asupan air.

Selain itu, terus pangkas pendek dedaunan agar pohon bisa tumbuh dengan sempurna.

Proses Memanen Alpukat

Setelah pembibitan, biasanya alpukat bisa dipanen 6-7 bulan kemudian.

Pokoknya, tumbuh kembang pohon alpukatmu dipengaruhi oleh kondisi cuaca, angin, intensitas cahaya yang didapat, dan masih banyak lagi.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa kematangan buah alpukat tidak bisa ditentukan dari tampilannya yang terlihat tua.

Untuk menentukannya, kamu harus memerhatikan hal ini:

  • Warna buah alpukat berubah menjadi coklat atau kemerahan
  • Buah terlihat mengkilap
  • Tiduk bunyi saat digoyangkan
  • Saat diketuk, tidak terdengar suara nyaring

Jika buah alpukatmu sudah memperlihatkan tanda-tanda di atas, inilah saat yang tepat untuk memanennya.

Saat memanen, gunakan tangan dan petik hingga tangkainya.

Hal ini dilakukan untuk mencegah luka pada bagian dekat tangkai buah.

Inilah cara menanam buah alpukat di rumah dengan media yang sederhana.

Bagaimana? Mudah, bukan?

Jika kamu berhasil, jangan lupa untuk memadukan rasa unik buah yang satu ini dengan makanan favoritmu, ya!

Semoga artikel ini bermanfaat, Sahabat

Berakal Sehat Juga Harus Bertuhan

Justru saat ini ada orang yang mengaku berakal sehat tapi tidak bertuhan.

Sejarah panjang manusia selalu dibayang-bayangi oleh kekuatan gaib, ‘tak-terukur’, supranatural dan segala varian nama-nama bermakna ‘tak terdefinisikan’ atau ‘tak-terpersepsikan’ oleh pancaindra. Berjalannya jagat raya yang teratur dan tersistem sedemikian rupa membuat akal dan seluruh dalil ilmu pengetahuan hingga sekarang mesti ‘puas’ dengan jawaban tentang realitas adanya Sang Pengatur.

Pasti! Ada Kekuatan Besar di balik rupa-rupa kehidupan di dunia ini. Keyakinan yang bahkan sudah tumbuh di kepala manusia sejak zaman primitif, ketika Kekuatan Besar itu dipersepsikan amat manusiawi dengan rupa, simbol atau lambang yang mewakili keyakinan yang mencuat dari perasaan kolektif manusia kala itu.

Ketika rupa kehidupan, keajaiban dan kegaiban tak kunjung diselesaikan dengan kontemplasi, realitas adanya kematian akibat purnanya ruh dan raga dari kehidupan nyata membuat masalah manusia bertambah lagi. Mengapa ada sekian juta makhluk pernah hidup dan sekian juta lainnya kemudian mati? Mengapa terjadi perputaran semacam ini?

Manusia kemudian memercayai bahwa kekuatan gaib memang ada. Kekuatan gaib itu pernah ditafsirkan bersemayam di benda-benda (dinamisme). Ada pula yang melekatkannya di roh-roh nenek moyang (animisme) dan hewan-hewan yang disakralkan (totemisme). Manusia berpikir dan mengembangkan akalnya, tetapi tetap percaya di balik mekanisme ini kekuatan gaib itulah yang memiliki dan mengatur segalanya.

Begitulah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) memulai berfalsafah tentang ketuhanan. Tokoh melesat namanya sebagai pegiat susastra lewat Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)Lewat dua karya itu pula namanya berada di ingatan pembaca sebagai salah seorang ‘pengembang’ Sastra Indonesia Modern yang karyanya masih dicetak dan dijadikan bahan kajian oleh akademisi.

Khalayak mungkin agak mengaburkan biografi sang tokoh sebagai agamawan dan politikus karena ‘kedua’ karya di atas sempat muncul dengan wahana film dan memopulerkan namanya sebagai pengarang kasusastraan. Padahal puluhan buku hadir ke pembaca dikenal dengan buku-buku bercap agama.

Salah satu buku itu berjudul Falsafah Ketuhanan. Buku ini mengenalkan pelbagai sejarah manusia dalam memikirkan muasal alam dan Tuhan. Hamka berkisah bahwa sejak primitif, kala manusia belum mahir mengasah akalnya, telah mewujud perasaan ada yang menguasai alam ini.

Ia menulis: Kesan pertama bahwa ada yang Mahakuasa itu merata pada seluruh manusia karena kesan ini tumbuh apabila akalnya sudah mulai berjalan. Bahwasanya ada suatu kekuatan tersembunyi di latar yang tampak ini. Yang selalu terasa ada tetapi tidak dapat ditunjukkan tempatnya.

Hamka menerangkan semakin berkembangnya akal dan pikiran, maka akan berbanding lurus dengan ketakjuban dan keimanan kepada Tuhan. Namun, sekarang manusia lebih banyak menuhankan akal. Padahal akal tidak berkompetensi untuk berpikir hingga wilayah ruang, waktu dan aturan-aturan alamiah yang ada di muka bumi ini yang senantiasa berjalan berkecenderungan sifat sama yang artinya ada Zat yang membuatnya berlaku seperti itu.

Alam memiliki aturan-aturan dan sudah barang tentu aturan itu dapat dijalankan berkat adanya Sang Pengatur. Tidak ada yang mengatur mengartikan tidak ada aturan. Apabila semua yang hidup pada hari ini bebas bertindak sendiri, tetapi mengapa secara kebetulan dalam kebebasan itu seluruh makhluk itu ‘tumbuh’ dengan aturan yang sama?

Hamka menuliskan. “… memutuskan bahwa sang pengatur itu tidak ada adalah memutuskan suatu pikiran dalam kekacauannya. Sebab, lebih sangat sulit jika dikatakan bahwa zarrah mengatur dirinya sendiri dan lebih sulit lagi jika dikatakan bahwa zarrah itu menciptakan dirinya sendiri atau terjadi sendiri.” Perjalanan berakal mesti berakhir pada simpulan: ada yang mengatur. Titik.

Hamka melanjutkan bukti-bukti lain terkait mekanisme alam dan hubungannya dengan keberadaan Tuhan. Ia menyebutkan empat dalil: pertama, manusia mengakui bahwa mereka ada bukan atas kehendaknya. Begitu pula benda-benda baik hidup maupun tak hidup. Tak pernah sekalipun benar-benar ada peran manusia dalam penciptaannya.

Kedua, setiap kali manusia mendapati makhluk tumbuh dapat hidup dan bahkan menghidupi, manusia tak sekalipun pernah bisa benar-benar meniru dalam menciptakannya. Hewan, binatang, bahkan unsur abiotik seperti tanah, awan, gunung, dan seterusnya. Semua itu tumbuh dan bertahan menurut peraturan tertentu. Sudah pastilah yang menciptakan adalah Zat yang sama dengan yang memeliharanya sedemikian rupa.

Ketiga, manusia meyakini benda-benda berat akan tenggelam ketika dilemparkan ke air. Lalu lintas dengan jamaknya kendaraan akan berbenturan pula meski ada aturan, rambu dan petugas yang mengaturnya. Namun, mengapa bintang, bulan, matahari yang tentu lebih berat tak jua jatuh? Mengapa planet-planet, bintang-bintang dan benda-benda langit lain tak pernah berbenturan dan memiliki lintasannya masing-masing, meski di angkasa terdapat milyaran benda?

Keempat, dalil permulaan. Tiap-tiap hal memiliki permulaan. Suatu batu bisa bermula bermilyar-milyar tahun. Begitu pun tanah bisa bermula sekian juta tahun. Seburuk-buruknya kita hanya bisa menyebutkan ‘tidak tahu siapa yang membuat’, bukan berkata ‘tidak ada yang membuat’. Yang mengadakan adalah Allah atau Tuhan!

Hamka melalui Falsafah Ketuhanan sebenarnya telah membuka suaka pikiran kita dalam menuntaskan keraguan atas Allah atau Tuhan. Hamka berharap pembaca dapat lebih baik dalam membenarkan firman-firman Allah dalam Alquran dan yang tersirat melalui alam.

Orang-orang diajak membaca agar turut merasakan getaran-getaran dalam sanubari mereka atas fakta-fakta bergelimangan di sekitar mereka. Getaran-getaran itu lantas membuat mereka menunduk dan mengakui kebesaran dan kekuasaan-Nya yang takkan pernah sepadan disandingkan dengan akal, mental dan seluruh pengetahuan mereka. Hamka mengajak kita tetap berakal dan bertuhan agar meningkatkan iman dan takwa. Wallahua’lam.

Sekilas Kedokteran Ibnu Sina Era Islam Klasik

Ilmu kedokteran terus berkembang seiring zaman. Dalam beberapa artikel sebelumnya dibahas bagaimana institusi layanan kesehatan, yang disebut bimaristan banyak dikembangkan oleh penguasa kerajaan Islam. Anda bisa cermati tautan berikut seputar sejarah pembangunan bimaristan dan sistem pelayanannya.

Sekilas Pendidikan Kedokteran Era Islam Klasik

Bimaristan didirikan untuk kebutuhan publik. Ahmed Ragab dalam bukunya The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion, and Charity mencatat bahwa kebanyakan bimaristan dibangun pemerintah dengan akad wakaf. Pemberi wakaf ini berasal dari kalangan sultan atau saudagar kaya.

Dalam dokumen-dokumen wakaf yang dianalisis oleh Ahmed Ragab, rupanya perwakafan bimaristanpada masa Islam klasik, selain mendokumentasikan akad wakaf, juga menyertakan hal-hal penting yang patut diperhatikan para pengelola bimaristan.

Dalam kasus Bimaristan al Mansuri di Baghdad misalnya, selain untuk pengembangan infrastruktur, wakaf bimaristan ini mesti digunakan untuk pelayanan publik, serta anggaran yang disalurkan melalui lembaga-lembaga amal dan badan wakaf terkait mesti digunakan untuk kesejahteraan pasien dan para tenaga kesehatan.

Nah, di samping soal pengelolaan dan pelayanan, pengajaran ilmu kedokteran merupakan salah satu hal yang dimandatkan dalam dokumen wakaf bimaristan. Sebagaimana dicatat Ahmed Ragab, bimaristan al Mansuri mesti mengangkat guru-guru (syeikh) yang mampu mengajarkan ilmu pada “siswa-siswa kedokteran”.

Kendati tidak terdapat keterangan pasti bagaimana alur administratif bagaimana seorang dokter diberikan mandat menjadi syeikh atau guru oleh pengelola bimaristan atau pemerintah, syeikh ini adalah pakar yang disegani di rumah sakit berkat pengalaman dan keilmuannya.  Sebagai contoh, setelah meresmikan Bimaristan al Mansuri, khalifah al Mansur mengangkat Ibnu Abi Hulayqah untuk menduduki jabatan pengajar di bimaristan tersebut.

Para pengajar ini biasa membagi murid-murid dalam beberapa kelompok, seperti dicatat Ahmed Ragab, semisal dalam kelompok khusus bedah, khusus pengobatan mata, pengobatan tulang, serta peracikan obat. Dalam kelompok-kelompok belajar ini, para murid akan mempelajari dan mengingat hal-hal yang dibutuhkan dalam profesi mereka.

Biasanya, beberapa murid akan membaca suatu buku kanon kedokteran di hadapan seorang syeikh, lantas hasil bacaan ini dijelaskan dan didiskusikan oleh guru bersama para muridnya. Ibnu Abi Usaibiah dalam ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’ pernah mencatat bagaimana seorang dokter senior membimbing para pelajar kedokteran sepertinya dan staf medis lain di Bimaristan al Nuri. Model membaca di depan guru ini tidak lepas dari tradisi literasi qira’ah ‘ala syeikh yang marak kala itu, seperti dalam sistem kajian hadis dan filsafat.

Buku kanon yang mereka kaji merujuk pada karya-karya yang beredar di daerah Baghdad. Konon hal ini menyebabkan standar operasional yang dipakai oleh banyak bimaristan mengacu pada model bimaristan di Baghdad. Karya Al Razi yang berjudul Al Hawi, karya Ibnu Sina Al Qanun fi Al Tib, serta karya-karya murid mereka yang menjadi buku syarah, adalah sebagian kecil di antara bahan dan pedoman pembelajaran.

Selain membaca dan berdiskusi, para guru melakukan pengawasan bagaimana mestinya murid-murid ini bekerja. Barangkali seperti sistem pendidikan profesi di masa sekarang, para pelajar dihadapkan langsung pada masalah-masalah klinis.

Pendidikan dengan metode seperti dipaparkan di atas, disimpulkan oleh Ahmed Ragab mampu membentuk suatu cara pandang yang khas mengenai peranan dokter, cara mereka berpraktek dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain juga pasien mereka.

Pada akhir pendidikan, para murid ini mendapatkan rekomendasi dan ijazah untuk melakukan pengajaran atau praktek kedokteran. Ahmed Ragab mengutip dari Tarikh Ibn Furat mengenai bagaimana jika murid kedokteran telah menyelesaikan pendidikannya:

“…li-yuqaal li-kullin min thalabatihi idza syuri’a fi ijazatihi wa tazkiyatihi, la-qad ahsana shaykhuhu alladzi ʿalayhi taaddab

“…(Seorang syekh mesti mengajar pada muridnya), sehingga ia berkata pada setiap muridnya ketika telah diperkenankan atas ijazah (rekomendasi) bahwa gurunya ini – yaitu sang syeikh – telah melaksanakan pendidikan dengan baik…”

Keterangan seputar akhir pengajaran kedokteran di atas, kalimatnya menggunakan diksi taaddab, yang dalam bahasa inggrisnya adalah cultured yang berarti “membudayakan” atau “mendidik”. Dapat dipahami dari pilihan kata tersebut, bahwa pembelajaran kedokteran di masa itu – hingga masa sekarang, di samping keterampilan praktis dan klinis, pendidikan karakter dan moral adalah hal yang begitu ditekankan dalam pendidikan kedokteran.

Agaknya demikianlah ilmu kedokteran diajarkan, dari masa ke masa. Tidak hanya ilmu dan keterampilan, namun juga menempa perilaku. Wallahu a’lam.

Kolaborasi Kemandirian Vaksin Negara-Negara Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bandung – Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE) di bidang vaksin dan produk biologi di antara negara-negara OKI, dinilai memiliki leading role dalam mendorong kerja sama terkait ketersediaan dan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan obat termasuk vaksin yang aman, berkhasiat dan bermutu, serta terjangkau bagi rakyat di negara anggota OKI. Karena itu, pada November 2018, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Pengawas Obat Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jakarta. 

Kamis (25/07), Badan POM menggelar acara Sosialisasi Hasil Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara-Negara OKI di Aston Pasteur Bandung. Acara yang berlangsung selama dua hari ini dibuka langsung oleh Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. 

“Tahun lalu, kita sukses menjadi tuan rumah Pertemuan Pertama OKI pada tanggal 21–22 November 2018 lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI, yang perlu kita tindak lanjuti,” ujar Kepala Badan POM. “Indonesia sebagai penggagas pertemuan dan tuan rumah tentu memiliki tanggung jawab moral atas tindak lanjut hasil pertemuan dan kesinambungan forum Otoritas Pengawas Obat negara anggota OKI tersebut,” lanjutnya.

Melalui pertemuan hari ini, Badan POM mengajak seluruh pihak, yaitu para pemangku kepentingan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk saling mendukung dan bahu-membahu melakukan langkah nyata dalam upaya implementasi hasil pertemuan OKI yang strategis ini, guna meningkatkan peran strategis Indonesia dalam forum OKI, mendorong kerja sama antar negara anggota OKI melalui kerja sama teknis dan program perkuatan kapasitas serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI. 

Dalam rangkaian acara ini, Kepala Badan POM berkesempatan menyerahkan Laporan Lengkap Pertemuan Pertama OKI kepada tujuh perwakilan kementerian/lembaga diantaranya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Sekretariat Kabinet dan Bea Cukai. Selain itu juga diserahkan plakat ppresiasi atas dukungan pertemuan OKI kepada Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia dan 22 Pelaku Usaha.

“Saya mengundang Bapak/Ibu yang hadir pada hari ini untuk berdiskusi, memberikan masukan terkait rencana implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI,” ujar Kepala Badan POM. “Mari kita bersinergi untuk meningkatkan peran strategis Indonesia. Peningkatan kerja sama Indonesia dalam Forum OKI akan meningkatkan peran strategis Indonesia serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI.” tutup Kepala Badan POM.