Anak Petani Nanas dari Sipahutar Dkk Ciptakan Bantal Cantik Anti Insomnia Berbahan Daun Nanas

Anak Petani Nanas dari Sipahutar Dkk Ciptakan Bantal Cantik Anti Insomnia Berbahan Daun Nanas


Salah seorang tim bersama mitra saat menunjukkan produk hasil penelitian dengan bahan limbah daun nanas.

Lima orang mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) mengolah limbah kulit buah nanas menjadi bahan yang bermanfaat.

Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Nurhikmah Weisdiyanti, Kiki Santoso, Riri Syavira, Liza Karina Otvyanda Pohan dan Rionaldo Tamba tersebut berhasil menciptakan bantal anti insomnia dari limbah kulit nanas tersebut.

Mahasiswa yang berasal dari berbagai program studi itu berhasil menciptakan mesin yang mampu mengolah daun nanas menjadi bahan baku tekstil yang diolah menjadi bantal yang bermanfaat bagi kesehatan, yang merekan namakan bantal cantik anti insomnia.

“Awal penelitian tersebut karena saya sendiri adalah anak petani nanas, jadi sering membantu orang tua ke kebun nanas dan melihat bahwa banyak limbah daun nanas yang terbuang sia-sia,” ujar ketua Tim, Nurhikmah, Selasa (11/6/2019).

Ia kemudian mencoba membuat limbah kulit nanas tersebut menjadi hal yang bermanfaat dengan cara melakukan penelitian dan berhasil melihat bahwa karakteristik dari serta nanas terutama nanas dari Sipahutar cocok untuk bahan baku tekstil.

“Saya merasa sangat sayang jika dibuang begitu saja dan ditambah lagi ternyata di Sumatera Utara merupakan sentra produksi terbesar di Indonesia, jadi saya berpikir untuk melihat potensi yang besar bagi Sumut jika bisa memanfaatkannya,” terangnya.

Ia menjelaskan, buah nanas yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah buah nanas dari Sipahutar karena seratnya halus dan kuat sehingga cocok juga untuk dijadikan bahan baku tekstil yang kemudian dikembangkan menjadi kain, tali dan juga isian bantal.

“Kemarin saya juga bertanya kepada petani Nanas Sipahutar dan ternyata mereka juga kewalahan dengan limbah daun Nanas tersebut banyak meski sebagian sudah dibakar dan dijadikan pupuk, namun daun Nanas juga masih melimpah di Sipahutar,” jelasnya.

Oleh karena itu kemudian ia dan tim berusaha membantu para petani tersebut dengan memberikan edukasi bahwa daun nanas tersebut memiliki potensi sebagai bahan baku tekstil, bahkan juga bisa dijadikan isian bantal.

“Kesulitannya pada pembuatan alat untuk membuat serat karena kualitas serat nanas yang dihasilkan bagus atau tidaknya tergantung alatnya dan juga proses pengeringannya membutuhkan waktu yang cukup lama,” ungkapnya.

Ia menuturkan, memberi nama bantal cantik anti insomnia karena menambahkan aromaterapi pada bantal tersebut dan isiannya terbuat dari serat Nanas agar lebih empuk dan si pemakai bantal lebih mudah tidur terutama untuk yang sulit tidur atau insomnia.

“Penelitian ini dilakukan mulai awal April lalu hingga Juni dan hasil penelitian tersebut rencananya akan dikomersilkan namun bukan kami yang menjalankan, melainkan para petani nanas tersebut sebagai mitra yang menjalankannya karena memang penelitian ini bertujuan untuk memberikan manfaat kepada petani,” tuturnya.

Ia mengatakan, saat ini sedang mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang merupakan program karya dan kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Kemenristekdikti dan jika lolos maka akan dibiayai oleh Kementerian Ristekdikti.

“Kegiatan tersebut tidak hanya untuk penelitian saja, ada lima bidang yaitu penelitian, penerapan teknologi, pengabdian masyarakat, karsa cipta dan kewirausahaan. Jadi kami di bidang penerapan teknologi, dimana teknologi yang kami buat diterapkan kepada mitra yang dalam hal ini adalah petani nanas,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *