Pengaruh Kuliner Islam: Dari Asia Hingga Eropa 

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar.

Pada tahun 1258, Bangsa Mongol menaklukkan Baghdad dan menggulingkan Dinasti Abbasiyah. Sementara itu, di Iberia orang-orang Kristen mendesak kaum Muslimin kembali ke wilayah selatan Andalusia.

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar, bahkan wilayah penyebarannya kian luas. Pada tahun 1300, pengaruh kuliner Islam sudah menjangkau kota-kota di Asia Tengah, seperti Samarkand, Bukhara, dan Merv, serta di Kesultanan Delhi, India.

Di India bagian tengah, sebagaimana terungkap dalam Book of Delights yang ditulis pada akhir abad ke-15, Sultan Mandu, yakni Ghiyath al-Din digambarkan sedang berada di taman sembari memperhatikan para juru masaknya. Di buku yang dilengkapi gambar-gambar itu terdapat sejumlah resep favorit pada masa itu, se perti aneka kue di antaranya samosa, aneka masakan berbahan dasar daging, serta minuman.

Di Cina, buku kuliner dan tata cara pengaturan makanan (diet) dikemas dalam satu buku bagus berjudul Proper and Essential Things for the Emperor’s Food and Drink. Ditulis pada tahun 1330 oleh dokter kekaisaran, Hu Szu-hui, buku ini menerangkan tentang bagaimana orangorang Mongol mengadopsi unsur-unsur kuliner Islam dalam masakan mereka.

Sentuhan Islam itu antara lain tampak dalam sup tradisional Mongol. Karena pengaruh kuliner Islam itulah, orang Mongol saat membuat sup akan menambahkan sedikit beras, sejenis kacang Arab, dan membumbuinya dengan kayu manis, biji fenugreek, kunyit, asafetida, mawar, lada hitam, dan sedikit cuka sebagai penambah cita rasa.

Begitupun saat memasak mi. Orang Mongol, sebagaimana kebiasaan dalam kuliner Islam di Turki maupun Timur Tengah, akan menambahkan saus bawang putih dengan yoghurt yang creamy. Selain itu, mereka pun membuat permen dan minuman ala Islam, seperti jus buah, selai, jeli, julab, dan umbi.

Pengaruh kuliner Islam juga menyentuh daratan Eropa, di antaranya berkat jasa para pedagang Kristen dari Genoa, Barcelona, dan Venesia. Saat berdagang dan menetap cukup lama di negeri-negeri Islam, mereka jadi tahu tentang kuliner Islam, seperti jenis-jenis masakannya, bumbunya, juga cara mengolahnya.

Bahkan, para saudagar Eropa itupun membeli perangkat masak dari dunia Islam. Di antaranya, mereka memborong panci masak di Afrika Utara lalu menjual nya kembali di Eropa Selatan. Dengan sendirinya, segala hal ihwal mengenai kuliner Islam makin dikenal bangsa Eropa.

Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Kisah Snouck Hurgronje Orang Belanda, Orientalis Imperialis yang Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori, Tapi tidak Islam

Gus Muwafiq, Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? 
Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar.

Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : “…. masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat ‘imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma’mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma’mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. “Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Makam Penyebar Agama Islam Sun An Ing, Tergores Lokalisasi Sunan Kuning

LOKALISASI Sunan Kuning di Semarang dikenal sebagai salah satu lokalisasi terbesar di Indonesia. Mendengar nama Sunan Kuning, pikiran sebagian orang tertuju pada kompleks lokalisasi di bagian barat Kota Semarang, yang oleh Pemkot Semarang rencananya akan ditutup tahun ini.

Sebelumnya lokalisasi tersebut lebih dikenal sebagai resosialisasi Argorejo. Letaknya berdekatan dengan Simpang Kalibanteng, Semarang.

Asal usul nama Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK) secara tidak langsung ada hubungannya dari sejarah dengan Petilasan Sun Ang Ing yang sudah ada di kampung Argorejo.

Menurut warga sekitar, nama Sunan Kuning merupakan nama penyebutan lafal yang telah berubah, dari seorang tokoh ulama keturunan Tionghoa-Jawa yang dimakamkan di komplek Argorejo, yakni Soen An Ing. Dia hidup sekitar abad 17 Masehi, menyebarkan agama Islam di wilayah Semarang dan Pantura Jateng.

Sunan Kuning sebenarnya memiliki nama lain yakni Raden Mas Garendi. Nama itu populer saat membantu pemberontakan Jawa-Tionghoa melawan VOC Belanda di Pati Jawa Tengah tahun 1742.

Bahkan Sunan Kuning dinobatkan juga sebagai Raja Orang Jawa – Tionghoa karena kegigihannya melawan penjajahan.

Untuk mempermudah lafal penyebutan masyarakat lokal pun akhirnya menyebut Sunan Kuning. Nama itu kian melekat jika menyebut sebuah komplek prostitusi di Semarang.

Berusaha menyusuri makam Sunan Kuning yang terletak 50 meter dari Resosialisasi Argorejo. Tepatnya, di bukit kecil Gunung Pekayangan di Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang. Makam itu kini dikelilingi pekuburan umum oleh warga sekitar.

Memasuki area pekuburan umum Bukit Pakayangan, makam Sunan Kuning ada di posisi paling atas komplek pekuburan warga Argorejo Kalibanteng Kulon itu. Dipisahkan dengan tembok dan gapura khas Tiongkok, pohon rindang menjadikan komplek makam itu terasa sejuk.

Di sana dapat ditemui tiga bangunan makam, dengan gaya khas Tiongkok perpaduan rumah Jawa. Aksesori serba China juga terpasang, ada lampion, tulisan kanji, juga dupa di depan pintu masuk tiga bangunan makam itu.

Dua makam itu merupakan makam pengikut setianya semasa menemani penyebaran Islam di Semarang yaitu makam Sunan Kali dan Sunan Ambarawa. Ada juga satu bangunan mushala diperuntukan bagi peziarah yang datang.

Pada Jumat (14/6/2019) hingga sekarang Petilasan Sun An Ing banyak didatangi para musafir dan peziarah dari luar kota, seperti Surabaya, Jakarta dan bahkan dari luar Jawa.

Dengan cat dominasi warna kuning dan merah dan pagar kayu berwarna merah, nampak ada dua orang musafir yang sedang tidur-tiduran di teras luar petilasan. Karena memang saat ini belum dibuka untuk umum. Karena masih sedang proses pergantian pengurus dari yang lama ke pengurus baru.

Juru kunci petilasan Soen An Ing, Mbah Noer Ichwan saat ditemui mengatakan, menurut kisah masyarakat setempat, sejak jejaka Soen Ang Ing tinggal dikampung ini sebagai penyebar agama Islam.

“Dan sampai meninggal di sini, dan dimakamkan juga di sini. Soen Ang Ing mengikuti agamanya Cheng Hoo, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Indonesia, meski dari etnis Tionghoa,” katanya.

Ditambahkan Mbah Nur, sekarang banyak orang yang salah kaprah, menggunakan nama Sunan Kuning sebagai penyebutan nama kompleks lokalisasi. Sebenarnya, nama Soen Ang Ing sendiri merupakan kompleks makam, bukan
kompleks lokalisasi yang selama ini berada di kampung Argorejo tersebut. Memang kompleks petilasan berada dekat dengan lokalisasi itu, yakni di Jalan Taman Srirejeki, di kelurahan Kalibanteng Kulon.

 

Kompleks Petilasan Soen An Ing.

 

Menjamurnya Prostitusi

Awal mula persoalan pergeseran nama muncul setelah Pemerintah Kota Semarang menetapkan komplek di sebelah makam ulama Soen An Ing, menjadi lokalisasi pada 1963.

Saat itu Kota Semarang dilanda menjamurnya prostitusi liar di jalan-jalan kota. Imbasnya, operasi prostitusi di Kota Lunpia secara besar-besaran yang sudah menjamur di sekitar jembatan Banjir Kanal Barat, Jalan Stadion, Gang Warung, Gang Pinggir, Jagalan, Jembatan Mberok, Sebandaran, dan lainnya.

Melalui Wali Kota Semarang saat itu Hadi Subeno, diterbitkan SK Nomor 21/15/17/66, menetapkan komplek Argorejo sebagai lokalisasi. Penempatan resminya pada 29 Agustus 1966 dan tanggal itu diperingati Hari Jadi Resosialisasi Argorejo.
Tahun 2003, istilah lokalisasi Sunan Kuning diubah menjadi Resosialisasi Argorejo. Lokalisasi ini resmi dibentuk pemerintah agar para kupu-kupu malam tidak menyebar di sudut-sudut kota.

Sementara dari sumber yang diperoleh Dian Arymami dalam essainya “Transaksi Seks di Era Media Baru ” dalam buku berjudul Media (Baru), Tubuh, dan Ruang Publik (Jalasutra, 2017), lokalisasi Sunan Kuning (SK) berawal dari upaya pemerintah Kota Semarang, sekitar tahun 1960-an yang berusaha mengumpulkan penjaja seks perempuan yang berkeliaran di jalan raya Kota Semarang dalam satu kompleks resosialisasi.

 

Tujuannya supaya kota menjadi bersih dari praktik prostitusi liar di jalan-jalan. Kemudian wanita-wanita penghibur ini dicarikan satu tempat di sebuah kampung yang bernama Karang Kembang. Akibat dari pemekaran kota, Karang Kembang dirasa sudah tidak cukup untuk menampung jumlah para penjaja seks perempuan yang semakin banyak.

Untuk itu, pada tahun 1963, pemerintah daerah Kota Semarang waktu itu memindahkannya ke sebuah bukit yang jauh dari permukiman penduduk, yaitu di daerah Kalibanteng Kulon. Nama Sunan Kuning sendiri sebenarnya adalah penyebutan lain nama Soen An Ing, seorang tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Tiongkok.

Pada pemerintahan Wali Kota Hadi Subeno meresmikan lokalisasi Sunan Kuning lewat SK Wali Kota Semarang pada tanggal 15 Agustus 1966, No 21/5/17/66. Lokalisasi Sunan Kuning resmi ditempati pada tanggal 29 Agustus 1966.

Sekitar tahun 1984-1985 ketika Semarang dipimpin Wali Kota Iman Soeparno Tjakrayuda, sempat timbul wacana untuk memindahkan lokalisasi tersebut ke daerah Dawung, Pudakpayung. Namun rencana tersebut gagal total karena masyarakat sekitar Dawung menentang adanya lokasisasi tersebut.

Para penghuni sebagian pulang kampung, namun tidak sedikit di antara mereka beroperasi di pinggir jalan. Karena kondisi ini dianggap lebih berdampak buruk, maka sebagian penjaja seks perempuan kembali lagi ke Argorejo. Pada sekitar tahun 2000, lokalisasi tersebut dibuka kembali dan tetap beroperasi.

Ternyata, Wanita Mudah Marah Justru Buat Pria Lebih Sehat! 

Jangan Ngeluh, Wanita yang Mudah Marah Justru Buat Pria Lebih Sehat!

Penelitian mengungkap pria justru beruntung memiliki pasangan yang mudah marah dan tersinggung.

Hampir semua pria pasti akan mengeluh jika memiliki pasangan mudah tersinggung, marah dan menjengkelkan. Faktanya, pria yang memiliki pasangan mudah marah ini justru harus bersyukur.Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa wanita yang memiliki kepribadian seperti ini justru menguntungkan bagi pasangannya. Karena, sifat mereka dapat mengurangi risiko diabetes pada pasangannya.

Para peneliti dari Michigan State University dan University of Chicago dilansir dari brightside.com telah melakukan riset tentang hubungan karakter wanita yang menjengkelkan dengan risiko diabetes pada pasangannya.

Mereka melibatkan sebanyak 1.228 pasangan untuk membicarakan tentang hubungan asmara masing-masing pasangan. Mulai tingkat kebahagiaan, seberapa sering menghabiskan waktu bersama, tingkat kepercayaan dan keterbukaan.

 

 

Ilustrasi pasangan konflik, berdebat atau bertengkar. (Shutterstock)

Para peneliti menemukan kondisi kesehatan wanita cenderung sangat baik jika berada di lingkungan yang positif. Artinya, mereka justru lebih sehat dan tidak rentang terkena diabetes jika memiliki pasangan pintar yang dewasa.

Sebab, wanita cenderung lebih peka dan memahami cara berinteraksi atau menanggapi pasangannya. Hal itulah yang memberikan efek positif pada metabolisme tubuhnya.

Sebaliknya, pria justru lebih sehat jika memiliki pasangan yang mudah marah dan banyak menuntut. Karakter wanita yang seperti itulah membuat pria tidak berisiko terkena diabetes atau penyakit apapun.

Selain itu, penelitian oleh School of Psychology dari University of South Wales juga menyatakan bahwa wanita temperamen justru lebih pintar. Mereka lebih skeptis dan tidak sembarangan dalam mengambil keputusan.

Karakter itulah yang mungkin berdampak baik pada kesehatan serta kehidupan pasangannya. Karena, pastinya wanita seperti ini lebih perhatian sehingga banyak menutut yang sebenarnya baik untuk pasangannya.

8 Obat Batu Ginjal Tanpa Operasi


Pengobatan batu ginjal tergantung terhadap ukuran dan jumlah batu, di mana beradanya, dan apakah ada infeksi atau tidak. Batu ginjal yang belum menghalangi saluran kemih dapat dilakukan pengobatan tanpa operasi.

Semakin besar ukuran batu ginjal yang terbentuk maka risiko untuk tersangkut di saluran kemih juga meningkat. Untuk mencegahnya, ada beberapa pengobatan alami yang dapat kamu coba untuk meluruhkan batu ginjal, di antaranya:

1. Banyak Minum Air Putih

Banyak minum air putih merupakan cara yang paling gampang untuk mencegah batu ginjal. Dehidrasi merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan terbentuknya batu ginjal. Minumlah air lebih dari 8 gelas sehari dan lakukan setiap hari.

2. Air Lemon

Kamu juga bisa menambahkan perasan air lemon di dalam air yang kamu minum setiap hari. Lemon mengandung sitrat yang merupakan bahan kimia untuk mencegah pembentukan batu kalsium di dalam tubuh. Sitrat tersebut juga mampu memecah batu-batu kecil yang dapat membuat mereka lebih mudah melewati ginjal.

3. Cuka Apel

Asam asetat yang terkandung di dalam cuka apel dipercaya mampu menghancurkan batu ginjal. Cuka apel juga mampu membantu mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan oleh batu ginjal. Kamu dapat menambahkan 2 sendok sari cuka apel ke dalam satu gelas air.

4. Seledri

Seledri dapat digunakan untuk obat batu ginjal selanjutnya. Seledri mengandung antioksidan dan senyawa yang dapat meningkatkan produksi urine sehingga membantu mengurangi terbentuknya batu-batu ginjal. Seledri juga dapat membersihkan racun dan mengangkat tumpukan mineral yang mengkristal di ginjal. Mengonsumsi jus seledri juga banyak digunakan untuk pengobatan herbal yang mengobati berbagai penyakit lainnya.

5. Kumis Kucing

Tanaman kumis kucing digunakan untuk mengobati penyakit ginjal, asam urat, dan diabetes. Tanaman ini memiliki sifat antibakteri, antioksidan, dan antiradang. Kumis kucing dapat merangsang ginjal untuk mengeluarkan urine yang dapat mencegah terjadinya pengendapan mineral dan garam di ginjal.

6. Buah Delima

Buah delima dapat digunakan untuk obat herbal batu ginjal. Buah ini bekerja dengan cara membantu mineral dan garam agar terbuang dari urine. Hal ini dapat mencegah pengendapan kalsium, urea, dan asam urat di dalam ginjal. Zat aktif yang terdapat di dalam buah delima juga mampu membantu mengurangi rasa nyeri akibat batu ginjal di saluran kemih.

7. Minyak Zaitun

Minyak zaitun dapat kamu manfaatkan untuk mengobati batu ginjal. Minyak ini dapat meluruhkan batu ginjal dengan cara yang tidak menyiksa. Mengonsumsinya secara teratur akan bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri karena batu ginjal.

8. Olahraga

Dengan berolahraga secara teratur dapat membantu menjaga batu agar bergerak dan membuatnya lebih mudah dibuang bersama urine. Lakukan olahraga ringan seperti berjalan, istirahatlah sesaat jika mulai mengalami rasa nyeri akibat batubergerak di dalam saluran kemih.

Selain pengobatan herbal diatas, kamu dapat membeli obat batu ginjal di apotik yang lebih mudah dan ampuh. Namun sebelumnya, pastikan kamu berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang benar ya.

Selamat mencoba!

Tips Aman Mudik Lebaran Bersama Lansia

Lebaran sebentar lagi, waktu untuk mudik lebaran menjadi sesuatu yang ditunggu bagi mereka yang merantau dan bekerja di perkotaan. Kembali ke kampung halaman dan bertemu keluarga besar menjadi sebuah rutinitas tahunan yang dirindukan menjelang idul fitri.

Mudik lebaran menjadi momen favorit meski butuh perjuangan yang menguras waktu, tenaga juga uang. Tetapi bertemu dengan keluarga dan sanak saudara menggantikan semua kelelahan dalam perjalanan sehingga banyak orang akan selalu berusaha untuk bisa mudik ketika menjelang lebaran.

TIdak sedikit yang harus mudik bersama keluarga dan membawa orang tua lanjut usia. Kondisi fisik orang tua tidak sebaik orang muda, mereka membutuhkan perhatian khusus selama dalam perjalanan.

Butuh persiapan yang baik untuk mudik bersama lansia, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk berencana mudik bersama lansia.

1. Pastikan Memilih Mode Transportasi yang Tepat
Transportasi yang digunakan untuk mudik bersama lansia harus dipikirkan untuk memilih yang tepat. Yang bisa berisiko rendah buat orang lanjut usia. Selain itu pertimbangkan jarak tempuh yang akan dilalui, akses untuk toilet selama dalam perjalanan karena lansia akan sering buang air kecil karena fungsi air kemihnya yang sudah menurun.

Biasanya lansia tidak bisa duduk berlama-lama karena bisa meningkatkan risiko deep vein thrombosis (DVT) terutama bagi lansia yang menderita penyakit diabetes, jantung dan stroke. DVT bisa terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di pembuluh darah yang disebabkan kaki terlalu lama menekuk.

Jika dibiarkan kondisi ini bisa menghambat aliran darah dan berbahaya bagi kesehatan lansia, yang ditandai dengan kaki membengkak, nyeri saat berdiri atau berjalan, kaki terasa panas dan kemerahan.

Sebaiknya sebelum melakukan perjalanan panjang, konsultasikan kemungkinan ini pada dokter sehingga bisa diresepkan dan diberikan pengobatan untuk pencegahannya.

2. Pastikan untuk Periksa Terlebih Dahulu Kondisi Kesehatan Lansia
Untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa saja terjadi selama perjalanan mudik, lebih baik kondisi kesehatan lansia diperiksa oleh dokter sebelum mudik.

Konsultasikan juga rencana mudik ke dokter sehingga bisa diberikan tips dan trik yang perlu dilakukan untuk pencegahan serta cara mengatasi berbagai gangguan kesehatan yang muncul serta bagaimana menjaga lansia tetap dalam kondisi baik selama perjalanan mudik.
Jangan lupa menanyakan mengenai anjuran makanan yang sebaiknya dikonsumsi dan pantangan apa yang sebaiknya dihindari selama perjalanan.

3. Pastikan untuk Membawa Semua Perlengkapan Obat
Pastikan untuk menyiapkan obat-obatan yang diperlukan selama dalam perjalanan untuk dikonsumsi termasuk insulin. Buat daftar obat dan dosis dan waktu minumnya serta jangan lupa memberikan obat tersebut tepat waktu.

Persiapkan semua obat-obatan lansia dalam wadah khusus dan jangan campurkan dengan obat lainnya, sehingga memudahkan mencarinya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

4. Pastikan Menjaga Asupan Cairan
Orang lanjut usia perlu dijaga asupan cairan dalam tubuh karena mereka rentan mengalami dehidrasi.
Adapun kebutuhan cairan untuk lansia sesuai angka kecukupan gizi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI, melansir dari hellosehat sebagai berikut :

  • Lansia Wanita
    Umur 60-64 tahun : 2,3 liter
    Umur 65-80 tahun : 1,6 liter
    Di atas 80 tahun : 1,5 liter
  • Lansia Pria
    Umur 60-64 tahun : 2,6 liter
    Umur 65-80 tahun : 1,9 liter
    Di atas 80 tahun : 1,6 liter

Pastikan selain tidak mengalami kekurangan cairan, juga jangan melebihi batas yang sudah ditetapkan supaya tidak terserang kondisi dimana kadar natrium dalam darah terlalu rendah atau disebut hiponatremia.

Perhatikan juga makanan yang dibawa apakah asupannya sesuai kebutuhan atau jika harus singgah makan di rumah makan atau resto, pastikan makanan yang dimakan sesuai untuk asupan kebutuhan lansia.

5. Pastikan Lansia Mendapat Waktu Istirahat yang Cukup
Melakukan perjalanan panjang, pastikan orang tua mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Jangan biarkan mereka tidak tidur dalam perjalanan. Jika diperlukan untuk menginap dalam perjalanan, berhenti dan cari penginapan yang baik untuk mereka tidur dengan nyaman sebelum kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Dalam perjalanan jangan biarkan mereka terus duduk. Beri waktu berapa jam perjalanan untuk mereka berdiri dari kursi dan berjalan untuk melancarkan sirkulasi darah.

6. Tetap Tenang Jika Terjadi Sesuatu
Dalam perjalanan mudik, tidak kita tahu apa yang bisa terjadi di dalam perjalanan. Jika karena masalah kesehatan lansia kemudian terjadi hal yang tidak sesuai ekspektasi, berlakulah tenang dan jangan panik cari pertolongan medis terdekat untuk penanganannya.

Tips di atas semoga bisa bermanfaat untuk persiapan mudik dengan lansia yang bisa diterapkan sehingga perjalanan bisa aman dan menyenangkan.

Mengurangi Migrasi Sampah Plastik Pada Suasana Mudik


Tatkala musim mudik tiba, seperti menjelang lebaran tahun ini, pada saat yang bersamaan migrasi sampah plastik pun terjadi. Karena orang dari kota ke desa melakukan mudik, tidak lengkap kalau tidak membawa oleh-oleh atau buah tangan, yang biasanya menggunakan kemasan unsur plastik.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, beberapa pihak menyarankan alternatif penanganan sejak hulu hingga hilir, dihimpun dari berbagai sumber, antara lain dengan cara berikut ini:

1.Perubahan paradigma penanganan

Pola dan gaya hidup masyarakat berubah dari waktu ke waktu, karena berbagai tuntutan dan situasi lokal dan global, apresiasi kenyataan ini, dalam pengelolaan sampah juga perlu perubahan paradigma.

Sejauh ini pola penanganan sampah mengikuti alur kumpul, angkut, buang, taruh ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Untuk efektivitas dapat menjadi pilah, kumpul, salurkan, simpan (residu ke TPA).

2.Gerakan sosial sadar sampah

Komitmen bersama untuk dibangun sebuah gerakan sosial mudik tanpa sampah plastik, diharapkan dapat mengendalikan migrasi sampah plastik dari kota ke daerah.


Selama arus mudik 2019 ini, Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Tubagus Soleh, memperkiarakan, pemudik yang menggunakan sepeda motor diprediksi akan menyumbangkan banyak polusi sampah plastik dibanding kendaraan lain. “Pengguna motor kadang enggak mau ribet, enggak mungkin (botol minuman) disimpan lagi, pasti dibuang,” ujarnya kepada awak media.

3.Mengurangi kemasan plastik

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta mengajak masyarakat yang akan mudik pulang kampung agar tidak meninggalkan sampah plastik di sepanjang jalur mudik.

“Masyarakat diusahakan tidak membawa kantong kemasan sekali pakai serta menghindari pembelian air mineral kemasan,” kata Tubagus.

4.Pemantauan rest area

Terungkap dalam Forum Tematik Bakohumas KLH, tentang “Mudik Asik Tanpa Sampah Plastik”, Syaiful Rochman, Penanggung Jawab Program Less Waste Even dan Pemimpin Redaksi greeners.co masih tentang cara anntisipasi sampah plastik menyarankan agar dilakukan monitoring di rest area selama masa mudik.

Pemantauan ini hendaknya ditindaklanjuti dengan anjuran dan ajakan untuk mengurangi penggunaan makanan atau minuman dengan kemasan plastik sekali pakai.

5.Pengamanan lokasi acara

Pada umumnya mengiringi tradisi mudik, kemudian akan terlahir aneka acara-acara gebyar, karena serangkaian dengan momen idul fitri, serempak di berbagai kawasan.Ilustrasi hemat penggunaan plastik —

Sebuah even, apabila terjadi semakin tinggi jumlah pengunjungnya, akan semakin tinggi potensinya dalam menimbulkan timbunan sampah.

Alternatifnya menyiapkan fasilitas pengendalian sampah sejak awal oleh penyelenggara dan penyedia jasa lokasi acara, terhadap peserta kegiatan. Atau penyajian aneka makanan-minuman yang tidak menggunakan unsur plastik.

Demikian beberapa hal yang dapat mengurangi sampah plastik di saat musim mudik. Mudik asyik, lingkungan resik. Setuju?***

Anak Sering Mabuk saat Diajak Berkendara, Apa Penyebabnya?

Mabuk perjalanan tak hanya karena anak tidak fit, melainkan ada hubungannya dengan keseimbangannya

Musim liburan sebentar lagi akan tiba. Selain mempersiapkan segala perlengkapan untuk perjalanan, yang tak kalah penting bagi Mama adalah mempersiapkan anggota keluarga agar tetap fit menjalani liburan, terutama jika si Anak seringkali mengalami mabuk kendaraan saat naik mobil atau pesawat.

Tanda-tanda Mabuk Kendaraan

Meski tidak menimbulkan bahaya, tetapi mabuk kendaraan seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penderitanya. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya rasa mual, keringat dingin, pucat yang kemudian berakhir dengan muntah.Terkadang anak tidak dapat menggambarkan apa yang dirasakannya. Namun, Mama bisa mengamati dari kondisinya yang tiba-tiba memucat dan gelisah, seringkali menguap, menangis, dan bahkan kehilangan napsu makan.

Banyak orang meyakini, anak yang seringkali mengalami mabuk kendaraan di usia mudanya akan mudah terserang migrain saat usia mereka bertambah. Meskipun begitu, dugaan ini belum ada penelitiannya secara medis.

Penyebab Mabuk Kendaraan

Mungkin Mama bertanya-tanya, ada anak yang begitu fit sehingga tidak pernah merasa mabuk saat berkendara. Tetapi ada juga yang sangat sensitif karenanya. Hal ini bisa dijelaskan secara medis, Ma.

Mabuk kendaraan terjadi akibat ketidakmampuan otak menerima dengan baik campuran sinyal dari beberapa anggota tubuh, misalnya saja antara telinga, mata, dan otot sendi. Dalam keadaan biasa, ketiga organ tersebut dapat merespon gerakan apapun.

Namun, saat sinyal yang mereka terima dan kirim tidak konsisten, misalnya karena goncangan saat kendaraan sedang melaju, maka otak tidak mampu memproses dengan baik sinyal-sinyal yang berbeda. Inilah yang kemudian menjadi penyebab terjadinya mabuk kendaraan.

Selain itu, stres atau kegembiraan yang berlebihan sebelum perjalanan dipercaya sebagai salah satu penyebab awal dimulainya masalah ini.

Yang Harus Dilakukan saat Anak Mengalami Mabuk Kendaraan

Saat anak mulai menampakkan tanda-tanda mabuk kendaraan, hal yang pertama dapat Mama lakukan:

  • Menghentikan segala aktivitas yang dilakukannya saat itu.
  • Jika itu terjadi di dalam mobil, segera buka jendela lebar-lebar atau biarkan dia keluar dari mobil dan berjalan-jalan sejenak.
  • Cobalah untuk mengalihkan perhatiannya dari perasaan mual, misalnya dengan mendengarkan radio, bernyanyi, atau sekedar bercerita.
  • Jika cara tersebut tak ada yang berhasil, segera hentikan mobil. Minta ia berbaring selama beberapa menit dengan mata terpejam di dalam mobil. Gunakan kain dingin untuk mengompres dahi untuk mengurangi gejala.
  • Selain itu, untuk mengurangi ketidaknyaman, Mama dapat memberikan obat anti mabuk pada Anak sebelum perjalanan dimulai. Namun, meski diperjualbelikan secara bebas, sebaiknya konsultasikan penggunaannya pada dokter terlebih dahulu agar tidak terjadi dampak yang kurang baik bagi kesehatannya.

Yuk, siapkan diri menghadapi mabuk agar liburan nyaman! Selamat berlibur!

Kesal Dijodohkan Wanita Bercadar, Ternyata Istrinya


Kesibukan bekerja membuat Arman tak sempat memikirkan hal hal romantis yang berkaitan dengan wanita. Keseriusannya mengejar karir agar orang tuanya hidup nyaman menjadikannya sebagai pria lajang yang tak tahu menahu tentang dunia yang berbau cinta.

Orang tua yang sudah ingin sekali menimang cucu, ingin Arman membawakan mereka menantu. Sayangnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Arman tak memiliki teman dekat wanita seorang pun.

Alhasil, karena bosan terus menerus ditanya, dia serahkan urusan tersebut kepada kedua orang tuanya. Ya, dia minta dicarikan saja. Kalau bapak dan ibunya suka, maka dia juga akan menyukainya, begitu pikirnya.

“Wanita seperti apa yang kau inginkan?” tanya ayahnya suatu hari.

“Nggak usah macem-macem lah, Pa. Orangnya nutup aurat dan bisa mengaji,” jawab Arman.

Ayahnya tersenyum mendengar keinginan anaknya. Demikian pula ibunya.

“Intinya, papa dan mama suka dan senang kepadanya,” tambah Arman.

Usai percapakan itu, orang tua Arman tak pernah lagi menyinggung pernikahan. Sedang Arman kembali sibuk dengan dunia kerjanya.

Namun, setelah satu bulan berlalu, urusan itu dibahas lagi.

“Arman, kami telah menemukan seseorang yang siap untuk menjadi istrimu,” ucap ayahnya via telepon. Kala itu, kebetulan Arman sedang ada keperluan di luar kota untuk beberapa minggu.

“Iya, Pa.”

“Apa kau tak ingin melihat wajah calon istrimu dulu?”

“Kalau papa dan mama sudah sreg, Arman ikut saja.”

“Jika demikian, kami akan mengatur semua kebutuhan pernikahannmu. Sepulang dari luar kota, kau akan langsung melakukan akad.”

Arman menyetujui usul ayahnya. Toh, daripada dia juga masih repot dengan urusannya di luar kota. Entah kenapa, tak pernah terbetik di hatinya untuk melihat wajah calon istrinya. Hanya ada perasaan yakin, bahwa apa yang dipilih orang tuanya adalah yang terbaik.

***


Tibalah hari pernikahan Arman. Saat itu dia benar-benar syok, ternyata calon istrinya seorang wanita bercadar. Sungguh, hal ini diluar bayangannya. Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan menemukan yang seperti ini.

Atas dasar apa orang tuanya menjodohkannya dengan wanita bercadar? Dia meminta yang bisa mengaji dan menutup aurat, tapi bukan yang seperti ini. Dan darimana pula orang tuanya bisa mendapatkan wanita seperti itu? Kapan mereka mengenalnya?

Memang dalam urusan agama, Arman tidaklah terlalu buruk. Dia masih menjaga shalat lima waktu dan bisa mengaji. Kadang, dia juga melakukan puasa senin kamis. Namun, menghadapi istri bercadar tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Entah kenapa, tiba-tiba timbul perasaan kesal pada kedua orang tuanya. Arman menyesal karena terlalu menggampangkan urusan ini pada mereka. Tapi ya sudahlah. Mungkin wanita seperti ini yang membuat ayah dan ibunya senang. Bukankah menyenangkan hati orang tua juga disebut berbakti pada mereka?

Akhirnya, pernikahan dilangsungkan. Pesta dihelat dengan meriah. Undangan berdatangan, memberi ucapan selamat dan mendoakan silih berganti. Hingga sampailah kemeriahan itu usai, dan Arman beserta istrinya telah di dalam kamar.

Malam pertama menjadi momen yang sangat bagi keduanya. Namun, kala itu Arman bingung harus memulai dari mana. Dia belum pernah berada sedekat ini dengan wanita.

“Ba .. bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Arman.

“Hanin…” jawab sang istri malu malu.

Setelah itu keadaan terasa beku. Tak seorang pun berani angkat bicara. Hanin yang masih tersipu di balik cadarnya tiba-tiba keluar.

Arman semakin salah tingkah. Apakah dia melakukan sesuatu yang tak disukai istrinya? Tapi, tanyanya terjawab beberapa saat kemudian. Ternyata, Hanin datang dengan segelas susu dan beberapa potong kue.

Arman sadar, bahwa apa yang dilakukan istrinya adalah salah satu sunnah Rasulullah di malan pertama. Dia lalu mulai memahami apa yang harus dilakukan.

Seharusnya, inilah saatnya Arman untuk melihat wajah asli sang istri. Dengan berdebar debar dia mendekatinya.

“Bolehkan aku melihat wajahmu?”

Hanin mengangguk dengan malu malu.

Ketika Arman menyentuh cadar itu dengan bergetar dan ingin menyingkapnya. Tiba sang istri menghentikan tangannya.

“Kita shalat sunnah dua rakaat dulu, Kak,” pinta Hanin.

***

Malam pertama itu menjadi sangat berkesan bagi Arman. Bahkan dia cukup syok dengan segala seremonial yang dilakukan sang istri.

Dia tak menyangka di balik cadar Hanin, ada wajah yang sangat indah dan menawan. Wajah yang menenangkan hati saat dipandang. Menyejukkan mata saat dekat dengannya. Arman sangat mensyukurinya.

Rasa kesal yang semula pernah muncul di hatinya terhadap orang tuanya dia buang jauh jauh. Kini dia mengerti mengapa orang tuanya memilih Hanin untuknya.

Luka Palestina, Aib bagi Dunia Islam

Luka Palestina, Aib bagi Dunia Islam


Remaja yang membawa bendera Palestina berjalan di antara asap gas air mata yang dilepaskan pasukan Israel untuk menghalangi aksi “Great March of Return” di perbatasan Israel-Gaza yang terletak di timur Khan Yunis, Gaza pada 24 Mei 2019.

Bulan Ramadhan kali ini kembali menghadirkan luka nestapa bagi saudara kita umat Islam di Gaza, Palestina.

Tak sanggup melukiskan rasa perih yang mereka rasakan. Bukan saja mereka perih karena blokade yang terus menerus berlangsung yang membuat Gaza bagai penjara terbesar di dunia, namun juga perih karena Ramadhan seperti agenda tahunan Israel untuk membombardir wilayah Gaza yang sempit.

Akibatnya, dalam serangan Israel kali ini seorang ibu hamil dan bayi turut menjadi korban rudal canggih Israel.

Para pemimpin Barat yang dikutip media menyebut serangan Israel sebagai upaya membela diri.

Tapi mereka lupa bahwa Palestina adalah tanah umat Islam yang dijajah Israel.

Palestina lah yang berupaya membela diri.

Sementara Israel jelas sedang menjalankan agenda penjajahan.

Sesungguhnya, Israel dan Palestina bukanlah perihal konflik dua negara bertetangga, tapi penjajahan dimana Israel tidak berhenti mencaplok tanah Palestina dan memerangi warganya yang telah hidup dalam kemelaratan dan penderitaan bertahun-tahun lamanya.

Hampir seluruh wilayah Palestina dulunya kini sudah dikuasai Israel.

Sementara sebagian wilayah lain tunduk pada kemauan negara Yahudi tersebut, kecuali Gaza yang dikuasai oleh Hamas.

Karena Gaza tidak mau tunduk, wilayah kecil ini pun diblokade oleh Israel.

Sehingga kehidupan umat Islam di Gaza, menurut cerita beberapa Syaikh Palestina yang berkunjung ke Aceh, berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Kemiskinan dan kemelaratan hidup adalah pemandangan yang biasa dan dimana akses aliran listrik dan air yang sangat sulit karena dikendalikan Israel.

Tapi umat Islam di Gaza lewat sayap militer Hamas Izzuddin al-Qassam dan Jihad Islam konsisten berjuang melawan pendudukan Israel dengan senjata.

Sebuah perjuangan yang sah tentu saja.

Mereka melihat tidak akan ada kemulian tanpa perlawanan.

Apalagi untuk menghadapi zionis Israel yang tidak memahami bahasa apapun kecuali bahasa kekerasan senjata.

‘Hidup mulia atau mati sebagai syuhada’ adalah motto hidup mereka sehingga meski hanya berbekal ketapel, mereka tetap melawan.

Perlawanan mereka selain untuk tetap bertahan hidup dalam kemuliaan dan membela negerinya, juga untuk menjaga harga diri kaum muslimin sedunia dan menghidupkan cita-cita pembebasan Al-Aqsha di Yerussalem.

Antara Qatar, Turki, Mesir, Arab Saudi, dan UEA

Pada faktanya, hari demi hari wilayah Palestina semakin sempit.

Rumah-rumah warga Palestina dihancurkan dengan buldoser dan diganti dengan pembangunan pemukiman baru bagi warga Israel.

Pada saat yang bersamaan, Masjid Al-Aqsha juga terus menerus dilecehkan oleh oleh zionis Israel.

Padahal, ini adalah situs suci ketiga bagi umat Islam.

Dari sini Rasulullah Saw melakukan perjalanan mi’raj ke langit untuk menerima perintah shalat.

Dan celakanya, dunia Islam seakan tidak mampu berbuat banyak.

Memang terdapat sejumlah negara yang menunjukkan konsistensinya berupaya membantu Palestina seperti Qatar dan Turki, tetapi di sisi lain sejumlah negara muslim lain justru lebih asyik melayani kepentingan zionis Israel.

Mesir misalnya, negara ini berbatasan langsung dengan Gaza dimana satu-satunya pintu muslim Gaza untuk keluar melihat dunia ada di negara ini, yaitu pintu Rafah.

Tapi setelah Jenderal As-Sisi mengkudeta presiden pilihan rakyat Mesir yang pro-Palestina, yaitu Muhammad Mursi Alhafizh, akses muslim Gaza ke Mesirsemakin dibatasi.

Selain pintu Rafah yang jarang dibuka, bahkan Mesir juga dengan sigap menghancurkan terowongan-terowongan yang menghubungkan Gaza dan Sinai.

Padahal dengan terowongan ini denyut nadi kehidupan di Gaza tetap hidup.

Bayangkan, seluruh perbatasan Gaza lainnya telah lama ditutup Israel, dan satu-satunya pintu Gaza ke Mesir juga sangat jarang dibuka.

Bahkan terowongan pun dihancurkan militer Mesir.

Sungguh kondisi kehidupan yang sangat sulit dan terlalu sulit untuk dibayangkan.

Ketika sewaktu-waktu terjadi perang antara Hamas dan Israel, kebanyakan sikap Mesir di bawah rezim pengkudeta adalah membela Israel secara terselubung, bukan membantu Palestina.

Kalau Mesir ingin membantu Palestina, tentu mereka akan lebih dulu mengawalinya dengan membuka pintu perbatasan Rafah seluas-luasnya serta membiarkan terowongan-terowongan itu.

Itu bantuan yang paling mudah.

Sikap Mesir yang pro-Israel ini sebenarnya tidak aneh.

Barangkali ini adalah balasan rezim kudeta di Mesir untuk Israel yang telah membantu mereka mengkudeta Muhammad Mursi dan menghancurkan gerakan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan Islam politik terbesar di Mesir.

Selain Mesir, sejumlah negara muslim lainnya, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jarak yang lebih dekat dengan Palestina, juga memperlihatkan ketidakpeduliannya kepada Palestina.

Dan bahkan bukan saja negara-negara ini tidak peduli, namun juga mereka ikut memusuhi negara-negara muslim yang membela Palestina, seperti Turki dan Qatar.

Karena tidak mampu mendikte Qatar yang pro-Palestina, seperti dilansir sejumlah media, selain mengembargo negara ini, Arab Saudi bahkan juga berencana membangun kanal yang akan menghapus perbatasan daratnya dengan Qatar.

Sementara pemimpin Uni Emirat Arab juga telah secara nyata menunjukkan keberpihakannya kepada Israel dalam sejumlah statemen yang dikutip berbagai media di dunia.

Dengan keadaan negara-negara muslim seperti ini, tidak mengherankan apabila Palestina terus merintih dalam kenestapaan panjang mereka.

Tapi ini bukan keadaan yang ideal.

Warga yang di bawah usia 40 atau pemuda untuk melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa Shalat pada suci Ramadhan 1440 H.
Nubuwwah Pohon Gharqad

Luka Palestina Aib bagi dunia Islam.

Dunia Islam tidak menjadi hebat dengan membiarkan muslim Palestina berjuang sendirian menghadapi penjajahan dan upaya membebaskan Yerussalem.

Hati nurani muslim yang beriman pasti akan memahami sikap dunia Islam ini sebagai pengkhianatan dan dimana kelak semuanya akan diminta pertanggungjawaban di mata mahkamah Allah Swt.

Bahwa Allah Swt tidaklah lalai dari melihat setiap kezaliman.

Tapi meskipun sejumlah negara Islam meninggalkan Palestina dan memilih bersekongkol dengan Israel, namun Allah Swt yang Maha Perkasa pasti akan senantiasa menolong hamba-hambaNya yang berjuang di jalanNya.

Akan selalu ada orang-orang mukmin yang akan terus menerus saling tolong menolong di antara sesama mereka.

Dalam kesempitan dan kesulitan, mereka tidak akan meninggalkan saudara-saudaranya sendirian dalam perjuangan.

Orang-orang mukmin dari seluruh dunia Islam pasti akan berjuang sekuat tenaga membantu Palestina dalam berbagai bentuknya.

Dan hari ini kita melihat orang-orang mukmin itu terus bergerak.

Mereka dipersatukan oleh ikatan aqidah dan kemanusiaan.

Do’a-do’a mereka tidak akan terputus.

Dalam kondisi Palestina yang terjajah, kerugian sesungguhnya berada di pihak yang mengkhianati perjuangan mereka.

Sebab, hari perhitungan (Yaumil Hisab) bukanlah dongeng.

Mungkin hari ini kita melihat akhirat sebagai khayalan.

Tapi kelak di akhirat pasti kita akan melihat dunia ini sebagai masa lalu yang singkat.

Allah Swt pasti akan memintai pertanggung jawaban umat Islam atas derita yang menimpa muslim Palestina.

Bantuan apa yang pernah kita berikan untuk meringankan derita mereka?

Dan yang jelas, peduli atau tidak dunia Islamnya kepada Palestina, namun Allah Swt pasti memberkahi Palestina sesuai dengan pernyataan Alquran, “barakna haulahu”.

Zionis Israel, sesuai dengan pesan-pesan nubuwah, pasti akan dikalahkan.

Akan tiba masanya mereka akan lari terbirit-birit dari Palestina dan bersembunyi di balik pohon Gharqad.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.”

Dikabarkan sejumlah media bahwa Yahudi hari ini semakin banyak menanam pohon Gharqad.

Bukankah ini membenarkan pesan nubuwah bahwa Yahudi pasti akan dikalahkan?