Tips Agar Anak Kecanduan Al Qur’an

(wahdaniyah.com) – Memiliki anak yang menghafal seluruh Al Qur’an adalah impian banyak orang tua Muslim saat ini, dan memangini adalah tujuan yang sangat mulia.

Berikut 5 tips agar anak-anak kecanduan Al Quran yang bisa dipraktekkan oleh Ayah dan Bunda di rumah:

1. Berhenti Menyuruh Anak

Cara pertama yakni berhenti menyuruh anak untuk membaca Al-Qur’an. Artinya sebagai orangtua kita tidak hanya meyuruh anak tapi harus memberikan tauladan atau contoh yang baik kepada anak-anak terlebih dahulu.

Ayah bunda sebaiknya membaca Al Quran rutin setiap hari di hadapan anak-anak. Walau awalnya mereka cuek, tapi percayalah, mereka itu memperhatikan dan mulai menginstal dirinya bahwa inilah yang harus mereka lakukan juga.

2. Meluangkan Waktu untuk Membuat Halaqah Al-Qur’an

Buatlah agenda keluarga untuk membuat halaqah Al Qur’an. Setiap ba’da Shubuh atau Maghrib, misalnya, ayah bunda duduk dalam lingkaran, kemudian bergantian membaca Al-Qur’an.

3. Tadabbur Terjemahan Al-Quran

Agar anak-anaknya tertarik untuk mentadaburi Al-Qur’an, maka ayah bunda bisa mulai membiasakan tadabbur terjemahan Al Quran. Insya Allah setelah konsisten, anak-anak pun penasaran dan ingin mengikuti apa yang dilakukan ayah bunda mereka. Saat mereka mendengarkan tadabbur terjemahan Al Qur’an, anak-anak mulai mengerti makna dari ayat-ayat Al-Qur’an yang setiap hari mereka baca.

4. Mencoba Menghafal Al-Qur’an Bersama

Jika sebelumnya anak-anak biasa menghafal Al-Qur’an sendiri, maka untuk membuat anaknya tidak bosan untuk menghafal Al-Qur’an, maka Ayah bunda bisa mengajak anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an bersama-sama.

Agar ayah bunda pun mengetahui susahnya menghafal Al-Qur’an, dan bisa memahami apa yang anaknya lalui untuk menghafal Al-Qur’an.

5) Puji Anak Depan Suami

Untuk membuat minat anak semakin besar terhadap Al Qur’an, maka biasakan memuji setiap perkembangan anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an di depan ayahnya. Bunda biasakan sengaja memuji anak-anak di depan ayahnya, agar mereka merasa diakui dan semangatnya semakin besar untuk mempelajari Al Qur’an.

Yaps, intinya sebelum orangtua mengajak anak untuk cinta Al-Qur’an maka orangtua harus terlebih dahulu mencintai Al Qur’an, maka barulah lahir anak-anak pecinta Al Qur’an.

Selamat menjadi pendidik cerdas dan sholehah.

Selamat mencoba!

(ibm/wahdaniyah.com)

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

(wahdaniyah.com) – Tatkala para pemuda yang terdesak dan harus mengungsi di suatu tempat asing demi mempertahankan aqidah mereka, tibalah mereka di sebuah gua. Tentu untuk tinggal beberapa saat lamanya disana mereka membutuhkan banyak hal seperti makanan, selimut,kasur, toilet dan lain sebagainya. Rasanya mustahil mendapatkan kebutuhan semua itu di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan belantara.

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

Tapi para pemuda tidak menjabarkan permintaan tersebut kepada Allah. Mereka mencukupkan hanya dengan satu permintaan yang khusyu’ dan penuh keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka dengan sebaik-baiknya.

(إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا)
[Surat Al-Kahf 10]

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Allah SWT langsung merespon doa mereka dengan memberikan penyelesaian yang sangat indah, yakni menidurkan dan menjaga mereka selama 309 tahun lamanya. Masya Allah..

Sahabat….

Ada seorang suami yang merasa mempunyai masalah yang sangat ruwet dalam keluarganya karena kesalahannya sendiri yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

Istri yang terus memaki makinya dan sakit sakitan, anak anak yang susah diatur, beban kebutuhan hidup yang semakin banyak dan mendesak, kekhawatiran-kekhawatiran muncul dibenaknya dan semakin membuat ruwet pikiran sampai pada puncaknya dia merasa harus menyudahi hubungan pernikahannya dengan istri tercinta.

Lalu dia mendengar kisah Ashabul Kahfi dan langsung mempraktekkan doa tersebut.

Allah SWT merespon doanya dengan menurunkan rahmatNya. Tetiba ada rasa kangen mendera hati sang suami tersebut. Sekonyong-konyong hilang rasa ruwet tersebut dan dengan ringannya sang suami mengungkapkan perasaan rindu pada istri tercinta via WA.

Di seberang sana sang istri yang sebelumnya terus mengirimkan kalimat hinaan dan cacian spontan terdiam. Sejurus kemudian kalimatnya melembut. Masya Allah…

Sang suami merasa seperti tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Yang ada hanya rasa rindu yang membara dan ingin segera menemui sang kekasih sejati yang tetap selalu setia menemaninya walau hatinya terasa hancur saat ini.

Sang suami sudah tidak ingat lagi kata kata cacian dan hinaan istrinya terhadapnya, yang diingat adalah senyum sipu dan pelukan hangatnya yang selama ini menjadi penenang jiwanya.

Namun sayang sungguh sayang tiba tiba dia ingat dengan tugas luar kota pada sore itu, sedikit tercekat namun dia harus rela menunda kepulangannya dan balik arah menuju bandara.

Mungkin secara riil masalahnya belum selesai akan tetapi rohmat ALLah telah mengurai kekakuan hati suami istri tersebut hingga membuat sang suami kembali bersemangat menatap masa depan keluarga nya dan timbul keyakinan bahwa dia masih dapat mempertahankan bahtera rumah tangganya bersama istri tercinta.

Sahabat…

Jangan lupa berdoa dengan sepenuh kekhusyukan kepada Allah dengan doa yang singkat itu. Semoga Allah SWT segera memberikan jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi.
Aamiiin.

Sharing Terapi Qur’an

(ibm/wahdaniyah.com)

Memperbaiki Amalan Dahulu, Sebelum Memperbanyaknya

Sebelum memperbanyak kuantitas amal, maka seorang muslim perlu memperbaiki dahulu amalannya dari berbagai kebocoran. Hal ini bukan berarti tidak ingin memperbanyak pahala dengan banyak mengerjakan ibadah.

 

Namun maksudnya adalah memperbaiki ibadah dahulu yaitu disertai kesungguhan dalam menghadirkan akal dan interaksi hati saat ibadah. Kemudian setelah itu kita perbanyak sesuai kehendak kita. Maka dengan itu kita mengumpulkan dua perkara dan mendapatkan dua kebaikan.

Justru pahala amal itu terkait kuat dengan kehadiran hati saat mengerjakan ibadah tersebut..

Ibnu Qayyim berkata :

“Setiap perkataan diberikan pahala oleh Allah jika memang layak diberi pahala. Kaidah ini telah benar, seperti perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “siapa yang suatu hari membaca : subhanallah wa bihamdihi seratus kali dihapuskan baginya kesalahannya dan diampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih lautan.” Pahala ini bukan karena perkataan lisan saja.. benar, siapa yang mengucapkannya dengan lisannya dalam keadaan lalai dari maknanya dan berpaling dari merenunginya, hatinya tidak mengikuti lisannya, tidak memahami nilai dan hakikatnya, namun berhadap pahala dengan itu, dihapus baginya kesalahan sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Sesungguhnya amal tidak ditimbang dengan bentuk dan jumlahnya. Namun ditimbang dengan apa yang ada hati. Maka dua amalan yang sama namun bisa jadi takarannya antara langit dan bumi. Dua orang berada dalam satu saf namun nilai sholatnya antara langit dan bumi.” (Madarijus Salikin, 1/339)

 

Memahami tujuan ibadah bahwa ibadah adalah sarana yang dibutuhkan untuk menghidupkan hati dengan iman, ia adalah langkah awal mendapatkan hakikat ibadah itu. Dengan memahami hal tersebut, maka akan menghasilkan pribadi yang senantiasa memperbaiki kualitas ibadah.

 

Maka, ketika sholat tujuan terbesarnya adalah menghadirkan hati dalam sholat. Konskuensinya ia akan bersegera datang ke masjid, tafakkur dengan ayat-ayat yang dibaca, tenang dalam ruku’ dan sujud, banyak berdoa dan khusyu’.

 

Saat berzikir, dia menghiasi zikir dengan tafakkur, beristighfar dengan terbayang dosa-dosanya dan menganggapnya sebagai aib di sisi Allah, menyesali hari-harinya yang lalu, terbayang keagungan Dzat yang dia langgar perintahnya, tasbihnya diiringi tafakkur akan kehadiran Allah yang Maha Agung Maha Perkasa Maha Pencipta. Sebagaimana Hasan al-Bashri berkata :

 

إن أهل العقل لم يزالوا يعودون بالذكر على الفكر وبالفكر على الذكر حتى استنطقوا القلوب فنطقت بالحكمة

“Sesungguhnya yang berakal senantiasa dzikirnya membawa fikiran dan fikirannya membawa dzikir sehingga bertanya pada hati, kemudian berbicara dengan hikmah.” (Ihya ‘Ulumuddin, 4/425)

Doa Haid Beserta Penjelasan Singkat Bagi Wanita

Haid atau menstruasi merupakan keadaan yang ladzim terjadi pada wanita. Haid atau datang bulan merupakan keadaan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang terjadi secara berkala (umumnya terjadi setiap bulan).

Siklus atau terjadinya menstruasi dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen maupun LH-Progesteron. Pada wanita siklus ini umumnya terjadi setiap 28 hari meskipun ini berlaku umum, tapi tidak setiap perempuan memiliki siklus mens yang sama.

Pada masa datang bulan lamanya wanita mengalami menstruasi sekitar 2 sampai tujuh hari paling lama 15 hari. Diluar 15 hari darah yang keluar disebut istihadhoh. Umumnya darah yang hilang akibat masa haid adalah 10 ml hingga 80 ml sehari.

Saat masa haid wanita dalam keadaan tidak suci karena itu ada beberapa amalan yang tidak boleh dilakukan saat masa tersebut. Diantara amalan tersebut yang dilarang adalah mengerjakan shalat, puasa, thawaf di depan ka’bah, dan i’tikaf di masjid.

Doa Haid

Meskipun wanita saat haid dilarang untuk mengerjakan beberapa ibadah, tapi masih diperbolehkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. caranya dengan mendengar bacaan quran, membaca tafsir quran, berdzikir, membaca al ma’tsurat, bershalawat, beristighfar, mengulang hafalan ,dan berdoa.
Berikut ini penjelasan yang berkaitan dengan doa yang bisa dibaca saat haid dan doa niat mandi junub setelah haid:

Hadits Tentang Berdzikir ketika Junub (Haid)

Banyak macam dzikir yang boleh diamalkan ketika sedang haid. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan lain sebagainya. Fatimah putri Rasulullah SAW juga tetap membaca dzikir saat ia sedang haid. Dzikir yang dibaca sama seperti dzikir yang biasa ia baca selepas shalat, Yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahuakbar.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang membenarkan bahwa berdzikir saat haid diperbolehkan. Berikut haditsnya:

روينا عن ابن عباس أنه كانَ يقرأ وِرْدهُ وهو جنب ، ورخّص عكرمة وابن المسيب في قراءته

Artinya: Kami mendapatkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasannya beliau membaca wiridnya ketika junub. Ikrimah dan Ibnul Musayib memberi keringanan untuk membaca wirid ketika junub.

Ijma’ Tentang Berdoa Ketika Haid (Junub)

Berdoa merupakan amalan yang boleh dikerjakan ketika mens dan paling mudah dilakukan. Boleh dilafadzkan dengan bahasa apapun dan kapan pun. Bahkan dalam keadaan haid kita boleh berdoa sekalipun doa itu diambil dari bacaan di dalam Al Quran.

Membaca doa sama saja dengan berdzikir. sebagaimana orang dalam keadaan junub boleh berdzikir maka begitu pula dengan berdoa ketika sedang haid. Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum membaca doa ketika haji bagi wanita haid, begini jawaban beliau

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج

Tidak masalah wanita haid atau nifas untuk membaca doa-doa dalam buku ketika manasik haji.

Doa Niat Mandi Besar Setelah Haid

Niat ini bisa dibaca didalam hati maupun dilafadzkan, tapi akan lebih baik bila dibaca didalam hati saja. Apalagi jika membaca niat dalam posisi sudah di kamar mandi.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَ

“Nawaitul ghusla lirafi’i hadatsil haidhi lillaahi ta’aala”

Saya niat mandi (junub) untuk menghilangkan hadas haid karena Alah ta’ala.

Itulah tadi sedikit penjelasan mengenai doa haid. Sekalipun dalam keadaan haid wanita tetap bisa mendekatkan diri kepada Allah. jangan lupa waktu haid juga bisa digunakan untuk mencuci mukena dan sajadah. Agar selepas haid pakaian shalat kita sudah bersih dan wangi untuk mengahadap Allah kembali.

Zakat Fitrah Istri Wajib Ditanggung Suami?


ADA dua kewajiban khusus yang harus ditunaikan setiap muslim pada bulan Ramadhan. Pertama puasa wajib. Kedua, membayar zakat fitrah. Kewajiban membayar zakat ini berlaku bagi setiap individu yang tidak termasuk dalam kategori penerima zakat.

Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra.menyebut, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa dari kalangan umat Islam.” (HR. Al-Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Kendati kewajiban itu dibebankan kepada masing-masing individu, ada anggapan yang berkembang bahwa zakat fitrah seseorang itu bisa ditanggung oleh orang lain, seperti zakat fitrah anak ditanggung orang tuanya ataupun zakat fitrah istri ditanggung oleh suami.
Bagaimana ulama  empat mazhab memandang hal ini? Benarkah zakat fitrah istri itu wajib ditanggung suami?

Para ulama berbeda pendapat apakah seseorang harus mengeluarkan zakat fitrah kepada orang yang menjadi tanggungan nafkah baginya, dalam hal ini suami terhadap istri. Pendaat para ulama terbagi menjadi dua.

Pendapat pertama:
Zakat fitrah diwajibkan kepada seseorang, baik untuk dirinya maupun kepada orang yang menjadi tanggungan nafkahnya, seperti istri, anak, dan dapat pula selain keduanya baik yang merupakan keluarga atau bukan keluarga. Ini adalah madzhab Hanbali.
Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruqutni dan al-Baihaqi, yakni dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدَوْا صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَمَّنْ تَمُوْنُوْنَ

“Keluarkan zakat fitrah terhadap orang yang menjadi tanggungan anda semua.”

Akan tetapi, hadits ini lemah, dilemahkan oleh ad-Daruqutni, al-Baihaqi, an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan lainnya. Silakan lihat kitab Al-Majmu’, 6/113 dan Talkhis al-Habir, 2/771.

Para ulama al-Lajnah ad-Daimah lil Ifta’ memilih pendapat ini. Mereka ditanya, “Apakah seorang suami diharuskan membayar zakat fitrah istrinya atau tidak apabila mereka sedang berselisih dengan keras?” Mereka menjawab, “Zakat fitrah diwajibkan kepada seseorang untuk dirinya sendiri dan setiap orang yang menjadi kewajiban tanggungan nafkahnya, semisal istri karena wajib bagi suami untuk memberi nafkah kepadanya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Ifta, 9/367)
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga berpendapat demikian, sebagaimana terdapat dalam al-Majmu‘ al-Fatawa, 14/197.

Sedangkan dalam madzhab Syafi’i, seorang suami wajib membayarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan juga ia punya kewajiban menanggung yang lainnya.

Imam Nawawi menyebutkan bahwa ada tiga golongan yang ditanggung zakat fitrahnya: (1) karena sebab kepemilikan budak, (2) karena sebab pernikahan, (3) karena sebab hubungan kerabat.

Tiga golongan di atas yang wajib ditanggung nafkahnya, maka wajib membayarkan zakat fitrah untuknya. (Al Majmu’, 6: 45)

Berarti seorang budak ditanggung zakatnya oleh tuannya. Istri ditanggung zakatnya oleh suami. Sedangkan untuk anggota keluarga jika ditanggung nafkahnya, maka bisa ditanggung zakatnya.
Asy Syairozi berkata, “Siapa yang wajib bayar zakat fitrah, maka ia wajib membayar zakat fitrah untuk orang yang ia tanggung nafkahnya jika mereka adalah musim dan ia mempunyai kelebihan makanan. Ia hendaklah membayarkan zakat fitrah untuk ayah dan ibunya, begitu pula untuk kakek dan neneknya seterusnya ke atas. Begitu pula ia hendaklah membayar zakat fitrah untuk anak dan cucunya seterusnya ke bawah. Menanggung zakat fitrah untuk ayah dan ibunya serta untuk kakek dan neneknya seterusnya ke atas namun dengan syarat mereka memang ditanggung nafkahnya.” (Al Majmu’, 6: 44)

Jika orang tua masih bisa mandiri tanpa tanggungan dari anak, maka orang tua menunaikan zakatnya sendiri.

Pendapat kedua:
Suami tidak diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah untuk orang lain. Dan ini adalah mazhab Hanafi. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa dari kalangan umat Islam.” (HR. Al-Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Dalam hadits ditetapkan bahwa zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Pada asalnya, setiap perintah berlaku bagi seseorang secara mandiri/personal. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab asy-Syarh al-Mumti, 6/154:

“Pendapat yang terkuat adalah bahwa zakat fitrah itu diwajibkan pada setiap orang secara personal atau mandiri maka istri diwajibkan zakat untuk dirinya sendiri. Suami juga diwajibkan untuk dirinya pula. Seseorang tidak diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah kepada orang yang menjadi tanggungannya, baik istri maupun kerabat karena asal sebuah kewajiban itu diwajibkan kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain.”

 

Ini Lafal Niat Zakat Fitrah Lengkap

SUDAH menjadi kewajiban setiap Muslim untuk membayar Zakat fitrah di Bulan Ramadhan. Zakat fitrah wajib bagi seluruh pemeluk Islam, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, tua maupun muda, bahkan bayi yang lahir di akhir bulan Ramadhan sebelum matahari terbenam pun wajib membayar Zakat fitrah.


Zakat ini disyariatkan mulai tahun kedua Hijriyah, agar setiap muslim kembali kepada keadaan fitrah dan suci. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Umar ra yang berkata,

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas setiap muslim merdeka atau hamba sahaya laki-laki atau perempuan,” (HR. Bukhari Muslim).
Karena kewajiban zakat fitrah ini, maka tidak ada satu orang pun yang bisa meninggalkannya. Kalaupun terjadi halangan, Islam memberikan kemudahan untuk diwakilkan oleh orang lain baik. Dalam kasus seperti ini, maka perlu memahami niat-niat zakat agar sah dan diterima. Karena seluruh amal ibadah selalu melibatkan niat di dalamnya.

Secara bahasa, niat berarti itikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan. Meskipun itikad letaknya dalam hati, namun melafalkan niat secara lisan dapat menegaskan lagi. Berikut ini lafaz niat zakat fitrah baik bagi diri sendiri maupun sekeluarga.

1. Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri
ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an nafsi fardhan lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri fardhu karena Allah Taala.”
2. Zakat Fitrah untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an zaujati fardhan lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku fardhu karena Allah Taala.”

3. Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an waladi fardhan lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku …(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala.”

4. Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an binti fardhan lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku …(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala.”

5. Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Seluruh Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri anni wa an jami’i ma yalzimuniy nafaqatuhum syar’an fardhan lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku fardhu karena Allah Taala.”

6. Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an (…) fardhan lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk……..(sebutkan nama spesifik), fardhu karena Allah Taala.”

Setelah membaca niat dan menyerahkan zakat, orang yang menerimanya disunnahkan untuk mendoakan orang yang memberi zakat dengan doa-doa baik. Doa seperti ini boleh diucapkan dalam bahasa apa pun, berikut salah satu contohnya,

ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

Aajaraka Allahu fiima a’thayta, wa baaraka fiima abqayta wa ja’alahu laka thahuran

Artinya: “Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

SUMBER: ZAKAT

Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah

Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah


(wahdaniyah.com) – Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.

Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.

Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah.” (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)

Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari’at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam.” Ditanyakan kepadanya, “Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?” Beliau menjawab, “Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka.”

Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.

Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama’ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.

Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.

Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya. Aamiin.

(ihza/wahdaniyah.com)

Starbucks Hadirkan Tumbler Unik Karya Anak Difabel

Starbucks Hadirkan Tumbler Unik Karya Anak Difabel

Ramah lingkungan dan sebagai wujud apresiasi anak-anak berkebutuhan khusus.
Minum kopi telah menjadi rutinitas kaum urban. Kini, ngopi semakin praktis dengan adanya cara yang memungkinkan kita untuk menikmati kopi di perjalanan.

Yup, Sahabat Dream bisa manfaatkan tumbler yang mudah dibawa kemanapun. Selain lebih praktis, tumbler juga ramah lingkungan karena dapat digunakan berkali-kali.

Beberapa gerai juga menawarkan promo khusus bagi pemegang tumbler, salah satunya Starbucks yang memberikan diskon 50 persen untuk minuman setiap Tumbler Day. Nah, ada tumbler spesial yang bisa kamu koleksi di ulang tahun Starbucks yang ke-17.

Berbeda dari tumbler biasanya, botol minum ini merupakan hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus yang menggeluti hobi desain grafis.

” Kami memberi kesempatan pada anak muda difabel, dengan harapan agar customer kita bisa menghargai karya mereka dan menginspirasi kaum milenial untuk bisa lebih produktif dan kreatif,” tutur Liryawati, Chief Marketing OfficerStarbucks Coffee Indonesia di Jakarta, Senin 13 Maret 2019.

Ketiga desainer dari The Special ID yang digawangi oleh Art Theraphy CenterWidyatama itu meluncurkan koleksi tumbler dan tote bag berdesain unik.

Ada ‘Let’s Travel’ karya Fatur Ridho yang tercipta dari hobi traveling. Kemudian ada ‘Milo the Cat’ karya Claudia Panca yang terinspirasi dari kucing jalanan dan‘Bhinneka Tunggal Ika’ milik Hendra Gunawan.

 

” Inspirasinya dari klub-klub sepakbola Tanah Air, dengan wajah dan warna berbeda tapi disejajarkan dengan satu kesatuan yaitu Indonesia,” kata Hendra.

Koleksi ini bisa kamu dapatkan mulai 13-31 Mei 2019 seharga Rp275 ribu untuk tumbler, Rp165 ribu untuk tote bag dan Rp395 untuk keduanya. Selain itu, Sahabat Dream juga bisa mencicipi minuman spesial anniversary Black Forest Frappuccino dan Birthday Cream Frappuccino.

30.000 Takjil Gratis di Masjid Sheikh Zayed Abu Dhabi

Salah satu manfaat puasa yaitu berkah nya menu takjil gratis di Masjid Abu Dhabi ini,
Ribuan warga datang untuk berdoa dan berbuka puasa. Setiap malam di bulan Ramadhan, puluhan ribu jamaah hadir ke Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi.

Masjid menyediakan makanan gratis untuk semua orang. Setiap tenda menampung lebih dari 1.000 orang. Pengunjung yang melimpahnya, banyak yang jauh datang dari rumah. Masjid menyediakan ruang khusus bagi mereka untuk berkumpul dan makan.

Setelah berbuka puasa dan pengunjung mulai pulang dari masjid, banyak Muslim datang bertemu lagi pada pukul 5:40 pagi untuk sahur – atau “makan sebelum fajar”.

Setelah itu perenungan, doa, sebelum kembali datang muncul dengan doa-doa Maghreb saat malam tiba di Abu Dhabi.

Bahan makanannya adalah sepuluh ton beras, tujuh ton ayam, dan sepuluh ton sayuran.

Untuk memberi makan hingga 30.000 orang setiap malam, berbuka puasa di Masjidil Haram harus direncanakan selama enam bulan, melibatkan sekitar 400 koki dan hampir 500 staf karyawan.

Biasakan Baca Doa Ini Agar Selamat di Hari Perhitung Amal

Hari perhitungan amal adalah hari ketika Allah mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan di dunia. Pada hari itu akan dibalas setiap amal yang diperbuat di dunia. Sekarang kita sedang menikmati dunia yang kadang lupa akan beratnya hari perhitungan.

doa selamat dunia akhirat

Dunia adalah ladang kita untuk menanam benih yang akan dipanennya kelak di akhirat. Jika selama di dunia kita memupuk kebaikan, kelak di akhirat kita akan menikmati hasilnya. Sebaliknya, jika kita terlalu mencintai dunia, kelak kesengsaraanlah yang kita petik di akhirat. Dalam QS Al Anbiya ayat 1 diingatkan:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Telah semakin dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka dalam lalai (dengan dunia berpaling dari akhirat)

Sungguh merugi mereka yang sudah diberi kesempatan tapi tidak menyadari posisi mereka di dunia ini. Terlena oleh kesenangan dunia membuat mereka sedikit meluangkan waktu untuk bermunajat kepada Tuhan. Bermunajatlah kepada-Nya seakan kita akan meninggal dunia esok hari. Isilah tabungan amal kita dengan berbagai macam kebaikan, hingga esok kita dapat menikmati jerih payah kita di dunia.

Jika kita sudah semaksimal mungkin mengisi celengan kehidupan ini dengan amal yang baik, maka selanjutnya adalah kita pasrahkan kepada-Nya. Tidak dengan menyebutkan atau mengupdate dalam tiap status di sosial media. Cukup Allah yang menjadi saksi perjuangan hidup kita. Al Qur’an menyebutkan salah satu doa untuk kita semua agar bisa selamat pada hari pemebalasan. Doa tersebut tersurat dalam QS Ibrahim ayat 41:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan semua orang-orang beriman pada hari terjadinya penghakiman (hari kiamat).

Doa tersebut bisa dibaca sebagai permintaan kita agar diselamatkan oleh-Nya pada hari hisab esok. Bukan berarti mengajarkan kita untuk tidak menabung amal baik, tetapi sebagai pelengkap setelah melakukan segalanya. Suatu ikhtiar agar Allah memberikan belas kasihan-Nya saat itu.

Harapannya, Allah menerima semua amal baik kita, dan menerima keselamatan pada hari pembalasan. amin