Polemik Alkohol dalam Obat-Obatan 

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Para pengunjung setia wahdaniyah.com yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Pembahasan kali ini adalah pembahasan lanjutan mengenai alkohol dari pembahasan kami sebelumnya. Sekarang kita akan meninjau bagaimanakah pengaruh alkohol dalam obat-obatan dan bagaimana hukum menggunakan obat semacam itu.

Kami berawal dengan menjelaskan alkohol dalam obat batuk. Karena inilah obat-obatan yang sering menggunakan bahan campuran alkohol.

Alkohol dalam Obat Batuk

Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalangan. Sehingga batuk diidentikan sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernafasan kemasukan benda-benda asing atau karena produksi lendir yang berlebih. Benda asing yang sering masuk ke dalam saluran pernafasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi. Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat dalam obat batuk jenis sirup adalah alkohol.

Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar produsen obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari 1 persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods’, Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorant, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon.

Fungsi Alkohol dalam Obat Batuk Menurut Pakarnya

Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.

Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, “Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut.”

Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja. [1]

Bedakan Antara Alkohol Pelarut dan Khomr

Sebagaimana telah diketahui tadi bahwa fungsi alkohol dalam obat semacam obat batuk adalah sebagai solvent (pelarut). Oleh karenanya, sebagaimana penjelesan kami yang telah lewat mengenai alkohol, mohon alkohol yang bertindak sebagai solvent (pelarut) ini dibedakan baik-baik dengan alkohol pada khomr. Karena kedua alkohol ini berbeda.

Perlu kita ketahui terlebih dahulu, khomr adalah segala sesuatu yang memabukkan. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram.”[2]

Yang jadi illah (sebab) pengharaman khomr adalah karena memabukkan. Khomr diharamkan karena illah (sebab pelarangan) yang ada di dalamnya yaitu karena memabukkan. Jika illah tersebut hilang, maka pengharamannya pun hilang. Karena sesuai kaedah “al hukmu yaduuru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman (hukum itu ada dilihat dari ada atau tidak adanya illah)”. Illah dalam pengharaman khomr adalah memabukkan dan illah ini berasal dari Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan ulama kaum muslimin).”[3]

Inilah sebab pengharaman khomr yaitu karena memabukkan. Oleh karenanya, tidak tepat jika dikatakan bahwa khomr itu diharamkan karena alkohol yang terkandung di dalamnya. Walaupun kami akui bahwa yang jadi patokan dalam menilai keras atau tidaknya minuman keras adalah karena alkohol di dalamnya. Namun ingat, alkohol bukan satu-satunya zat yang dapat menimbulkan efek memabukkan, masih ada zat lainnya dalam minuman keras yang juga sifatnya sama-sama toksik (beracun). Dan sekali lagi kami katakan bahwa Al Qur’an dan Al Hadits sama sekali tidak pernah mengharamkan alkohol, namun yang dilarang adalah khomr yaitu segala sesuatu yang memabukkan.

Sedangkan alkohol yang bertindak sebagai pelarut sebenarnya tidak memabukkan karena kadarnya yang terlalu tinggi sehingga mustahil untuk dikonsumsi. Kalau mau dikonsumsi, maka cuma ada dua kemungkinan yaitu sakit perut, atau bahkan mati. Sehingga alkohol pelarut bukanlah khomr, namun termasuk zat berbahaya jika dikonsumsi sebagaimana layaknya Baygon.

Jadi yang tepat kita katakan bahwa alkohol disebut khomr jika memabukkan dan tidak disebut khomr jika tidak memabukkan.

Pandangan Ilmu Fiqih Mengenai Obat Beralkohol

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan, “Adapun beberapa obat yang menggunakan campuran alkohol, maka itu tidaklah haram selama campuran tersebut sedikit dan tidak nampak memberikan pengaruh.”[4]

Obat yang mengandung alkohol ini dibolehkan karena adanya istihlak. Yang dimaksud dengan istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang jumlahnya lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharaman benda yang sebelumnya najis, baik rasa, warna dan baunya.[5]

Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci.

Alasannya adalah dua dalil berikut.

Hadits pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.”[6]

Hadits kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).”[7]

Dua hadits di atas menjelaskan bahwa apabila benda yang najis atau haram bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakan warna atau baunya, maka dia menjadi suci.

Jadi suatu saat air yang najis, bisa berubah menjadi suci jika bercampur dengan air suci yang banyak. Tidak mungkin air yang najis selamanya berada dalam keadaan najis tanpa perubahan. Tepatlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  “Siapa saja yang  mau merenungkan dalil-dalil yang telah disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat inilah yang lebih tepat. Sangat tidak mungkin ada air atau benda cair yang tidak mungkin mengalami perubahan menjadi suci (tetap najis). Ini sungguh bertentangan dengan dalil dan akal sehat.”[8]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mengatakan, “Begitu pula khomr apabila dia bercampur dengan zat lain yang halal dan tidak memberikan pengaruh apa-apa, maka campuran yang ada akan tetap halal.”[9]

Di samping itu pula selain karena alasan istihlak sebagaimana dijelaskan di atas, obat yang mengandung alkohol diperbolehkan karena illah (sebab) seperti yang ada pada khomr tidak ada lagi, yaitu memabukkan. Padahal hukum berputar sesuai dengan ada tidaknya illah (sebab).

Sebagian orang mungkin ada yang salah memahami hadits berikut.

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

“Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram.”[10] Sehingga dari sini ada sebagian yang mengatakan bahwa dalam obat ini terdapat alkohol sekian persen, maka itu terlarang dikonsumsi.

Kami katakan bahwa pernyataan seperti ini muncul, di antaranya karena kurang memahami hadits di atas. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Mereka menyangka bahwa makna hadits tersebut adalah jika sedikit khomr tercampur dengan minuman selain khomr, maka minuman tersebut menjadi haram. Ini bukanlah makna dari hadits di atas. Namun makna hadits yang sebenarnya adalah jika sesuatu diminum dalam jumlah banyak sudah memabukkan, maka kalau diminum dalam jumlah sedikit tetap dinilai haram.”[11] Sedangkan yang ada pada obat-obatan tidaklah demikian.

Untuk Kehati-hatian

Chilwan Pandji mengatakan, “Konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, di mana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning).”

Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.[12]

Oleh karena itu, dari sisi inilah obat yang mengandung alkohol bisa kita katakan sebaiknya dijauhi. Alasannya, karena jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29). Di antara maksud ayat ini adalah janganlah menjerumuskan diri dalam kebinasaan yaitu yang dapat mencelakakan diri sendiri.[13] Di antara bentuknya adalah mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat membahayakan jiwa.

Begitu pula sebagaimana dikatakan oleh Chilwan Pandji di awal, berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.[14]

Sebagaimana pula hasil rapat Komisi Fatwa MUI tahun 2001 menyimpulkan bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1%  (satu persen).[15] Sehingga untuk kehati-hatian, kami sarankan untuk meninggalkan obat beralkohol jika kandungan alkoholnya di atas 1%.

Penutup

Sebagai solusi, kami sarankan menggunakan obat herbal, di mana diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Inilah solusi yang lebih aman.

Demikian sekelumit pembahasan mengenai obat beralkohol seperti obat batuk. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Nikah Hanya dengan Mahar Seperangkat Alat Salat, Bolehkah?

SEBAGAI calon pengantin ada hal yang harus diperhatikan sebelum menggelar pesta pernikahan. Jangan cuma pikirin gedung dan katering, seserahan dan mahar juga wajib diberikan kepada pengantin perempuan lho!

Dalam Islam, mahar atau mas kawin adalah sebuah pemberian yang wajib diberikan seorang mempelai pengantin laki- laki kepada mempelai pengantin perempuan. Benda-benda tersebut sebagai tanda memuliakan dan menghargai di hadapan keluarganya.

 

Definisi mahar menurut fiqih adalah

الصداق هو المال الذي وجب على الزوج دفعه لزوجته بسبب عقد النكاح.

Artinya: “Maskawin ialah harta yang wajib diserahkan oleh suami kepada istri dengan sebab akad nikah.”

alat salat untuk mahar

Nah yang sering kita jumpai, pasangan rela memberikan mahar yang mahal, seperti cincin emas atau uang tunai. Kalau tidak menyiapkan itu rasanya ada yang kurang, bahkan bisa menjadi bahan nyinyiran keluarga atau teman dekat.

Padahal di dalam Alquran, mahar tidaklah hanya berbentuk barang atau emas semata. Kalau cuma memberi seperangkat alat salat jelas boleh kok. Atau Anda bisa memberikan jasa seperti mengajar ngaji dan lain semacamnya.

Ustadz Fauzan Amin menerangkan, ketika akad nikah berlangsung, detail jenis dan jumlah mahar yang diberikan kepada mempelai perempuan memang harus disebutkan. Hukumnya sunnah, bahkan sudah tertulis dalilnya.

 

[ويستحب تسمية المهر في] عقد [النكاح] … [فإن لم يُسَمَّ] في عقد النكاح مهرٌ [صح العقد]

Artinya: “Disunnahkan menyebutkan mahar dalam akad nikah… meskipun jika tidak disebutkan dalam akad, nikah tetap sah.”

“Namun tidak ada batas minimum jumlah mas kawin. Sunnah Rasul, jumlah mas kawin yang disiapkan baiknya tidak kurang dari 100 dirham. Juga tidak lebih dari 500 dirham,” ujar Ustadz Fauzan Amin saat dihubungi Okezone.

alat salat untuk mahar

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Qarib berikut:

وَيَكْفِيْ تَسْمِيَّةُ أَيِّ شَيْئٍ كَانَ وَلَكِنْ يُسَنُّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِ مِائَةِ دِرْهَمٍ خَالِصَةٍ

Sudah dianggap cukup menyebutkan mas kawin berupa apapun, akan tetapi disunnahkan mas kawinnya tidak kurang dari sepuluh dirham dan tidak lebih dari lima ratus dirham murni. Begitu sempurnanya ajaran Rasulullah, hingga urusan yang begitu gamblang ini, haruslah diperhatikan dan diatur sedemikian rupa.

“Pemberian seorang mahar atau mas kawin suami kepada istri sebagai tanda bahwa perempuan juga patut untuk dimuliakan dan dihargai, terlebih jika dirinya telah ridha menyerahkan seluruh jiwa dan raganya serta berpisah dari orangtua untuk suami,” beber Ustadz Fauzan Amin.

Karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang yang hendak menikahi seorang wanita untuk membayar mas kawin tersebut. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut:

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”

Tapi yang wajib dicatat, mahar bukanlah satu-satunya tujuan utama dalam sebuah pernikahan. Makna mahar yang sesungguhnya adalah bukti keseriusan suami untuk menikahi istri.

Ada tujuan yang paling penting yaitu membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah dalam ridha Allah SWT.

“Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah yang meringankan mahar kepada suaminya. Oleh karena itu harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi seorang suaminya,” pungkasnya.

Wali Nikah bagi Anak yang Bapak-Ibunya Beda Agama

Salah satu permasalahan yang kerap terjadi dalam hal perkawinan adalah soal wali nikah. Di Kantor Urusan Agama (KUA) permasalahan seputar wali nikah yang sering terjadi di antaranya wali yang enggan menikahkan anaknya karena berbagai alasan, wali yang ternyata bukan orang tua kandungnya, berebut menjadi wali di antara beberapa orang yang sederajat dan berhak menjadi wali, wali muallaf bagi pengantin muallaf, wali nikah bagi anak yang lahir dari hasil perkawinan beda agama, dan lain sebagainya.

Tulisan singkat ini mencoba membahas tentang persoalan wali nikah yang disebut terakhir, yakni wali nikah bagi anak perempuan dari hasil perkawinan beda agama. Sebagai gambaran contoh kasus dalam hal ini; seorang perempuan Muslimah hendak melangsungkan perkawinan dengan lelaki calon suaminya. Saat pemeriksaan di KUA diketahui bahwa anak perempuan ini lahir dari hasil perkawinan orang tuanya yang beda agama di mana sang ayah beragama Islam dan sang ibu beragama selain Islam. Keduanya menikah dalam status memeluk agamanya masing-masing dan terus berlanjut sampai saat ini.

Pada kasus yang demikian dapatkah sang ayah yang notabene seorang Muslim menjadi wali nikah bagi anak perempuannya yang Muslimah? Untuk menjawab hal ini sebelumnya mesti dibahas terlebih dahulu bagaimana status keabsahan perkawinan beda agama dalam pandangan hukum Islam.

Seorang Muslim tidak boleh mengambil wali dari non-Muslim, sebagaimana telah disebutkan dalam ayat berikut, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang  kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menghukummu)?”( QS An-Nisa:144).

Imam Syafi’i di dalam kitabnya Al-Umm menuturkan:

وَيَحِلُّ نِكَاحُ حَرَائِرِ أَهْلِ الْكِتَابِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَحَلَّهُنَّ بِغَيْرِ اسْتِثْنَاءٍ

Artinya: “Halal bagi setiap Muslim laki-laki menikahi perempuan merdeka ahli kitab karena Allah ta’ala menghalalkan mereka tanpa adanya pengecualian.” (Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm, [Beirut: Darul Fikr, 2009], jil. III, juz V, hal. 7)

Dari tuturan Imam Syafi’i di atas bisa diambil satu kesimpulan bahwa pada dasarnya diperbolehkan seorang laki-laki Muslim menikah dengan seorang perempuan non-Muslim dengan catatan ia adalah seorang ahli kitab. Pernikahan keduanya dihukumi sah oleh agama.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah siapa yang dimaksud dengan ahli kitab? Apakah termasuk hali kitab semua orang yang beragama selain Islam tanpa terkecuali? Atau, apakah hanya pemeluk agama samawi—seperti Yahudi dan Nasrani—saja yang termasuk non-Muslim ahli kitab?

Menjawab pertanyaan ini Imam Syafi’i di dalam kitab yang sama menjelaskan:

وَأَهْلُ الْكِتَابِ الَّذِينَ يَحِلُّ نِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ الْمَشْهُورَيْنِ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَهُمْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى دُونَ الْمَجُوسِ قَالَ وَالصَّابِئُونَ وَالسَّامِرَةُ مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ يَحِلُّ نِسَاؤُهُمْ وَذَبَائِحُهُمْ

Artinya: “Ahli kitab yang dihalalkan menikahi perempuan merdeka di anatara mereka adalah orang-orang yang memiliki dua kitab yang masyhur yakni Taurat dan Injil. Mereka adalah orang Yahudi dan Nasrani, bukan Majusi (penyembah api). Beliau berkata, Kaum Shabiun dan Samirah termasuk orang Yahudi dan Nasrani yang perempuannya halal dinikahi dan sembelihannya halal dimakan.” (Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm, hal. 7)

Dari sini kembali bisa diambil satu kesimpulan bahwa yang dimaksud ahli kitab adalah orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasrani yang berkitab Taurat dan Injil. Perempuan-perempuan dari kedua agama ini halal dinikahi oleh seorang Muslim.

Namun demikian masih ada satu pertanyaan lagi yang mesti dijelaskan untuk bisa memastikan apakah pernikahan seorang laki-laki Muslim dan perempuan non-Muslim dari ahli kitab di atas dapat dipastikan keabsahannya. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah para pemeluk agama Yahudi dan Nasrani pada masa sekarang ini, termasuk yang ada di Indonesia, termasuk ahli kitab sebagaimana yang dimaksud di atas?

Tentang hal ini Ahmad Al-Mahamili dalam kitab Al-Lubâb fil Fiqhis Syâfi’i (Madinah: Darul Bukhari, 1416 H, hal. 307-108) menerangkan bahwa seorang Muslim boleh menikahi perempuan ahli kitab, kecuali dalam tiga hal; pertama, bila sang perempuan bukan dari kalangan Bani Israil; kedua, bila sang perempuan memeluk agama tersebut setelah adanya penggantian atau perubahan ajaran dalam kitab sucinya; dan ketiga, bila sang perempuan memeluk agama tersebut setelah diutusnya Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alai wa sallam.

Dari sini maka bisa dipahami bahwa perempuan ahli kitab yang boleh dinikahi oleh seorang Muslim dan pernikahannya dianggap sah adalah seorang perempuan keturunan asli Bani Israil yang memeluk agama Yahudi atau Nasrani dengan kitab suci yang masih asli sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada rasul yang menerimanya dan ia memeluk agama tersebut sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Bila salah satu dari ketiga kriteria tersebut luput dari sang perempuan maka ia bukanlah ahli kitab yang halal dinikahi oleh seorang Muslim.

Maka dengan demikian para perempuan non-Muslim yang ada pada masa sekarang ini, termasuk yang berada di Indonesia, bukan termasuk ahli kitab yang halal dinikahi oleh seorang laki-laki Muslim.

Wali Nikah bagi Anak yang Bapak-Ibunya Beda Agama

Dengan demikian pula, perkawinan beda agama antara seorang laki-laki Muslim dan seorang perempuan non-Muslim sebagaimana digambarkan di atas tidak bisa dihukumi sah dan perkawinannya menjadi batal.

Sebagai contoh, putusnya hubungan ini diperlihatkan oleh Rasulullah SAW dalam hadis, diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA bahwa Nabi SAW bersabda, ”Seorang Muslim tidak mewarisi seorang kafir dan seorang kafir tidak mewarisi seorang Muslim.” (HR Bukhari).

Lalu bagaimana dengan wali nikah bagi anak perempuan hasil perkawinan beda agama yang hendak melangsungkan pernikahan sebagaimana contoh kasus di atas?

”Dan, janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan, janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS Al-Baqarah: 221).

Ayat ini menjelaskan bahwa laki-laki Muslim tidak boleh menikah dengan perempuan non-Muslim, begitu pun sebaliknya. Perempuan Muslim tidak boleh menikah dengan non-Muslim. Hal ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah SAW,  Abu Hurairah RA berkata, Nabi SAW bersabda, ”Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (HR Bukhari Muslim).

Agama adalah hal pertama yang harus menjadi acuan ketika memilih pasangan. Laki-laki Muslim harus menikah dengan perempuan Muslim. Pernikahan berbeda agama ini hukumnya zina dan akan berimbas pada status wali anak perempuan.

Permasalah tersebut dapat diambil satu simpulan bahwa karena ia lahir dalam sebuah perkawinan yang tidak sah menurut ajaran agama Islam maka ia tidak bisa dinasabkan kepada sang ayah dan karenanya sang ayah tidak bisa menjadi wali nikah bagi dirinya. Pada saat ijab kabul nanti anak perempuan tersebut menikah dengan wali kepala KUA yang bertindak sebagai wali hakim. Wallâhu a’lam.

Memperbaiki Amalan Dahulu, Sebelum Memperbanyaknya

Sebelum memperbanyak kuantitas amal, maka seorang muslim perlu memperbaiki dahulu amalannya dari berbagai kebocoran. Hal ini bukan berarti tidak ingin memperbanyak pahala dengan banyak mengerjakan ibadah.

 

Namun maksudnya adalah memperbaiki ibadah dahulu yaitu disertai kesungguhan dalam menghadirkan akal dan interaksi hati saat ibadah. Kemudian setelah itu kita perbanyak sesuai kehendak kita. Maka dengan itu kita mengumpulkan dua perkara dan mendapatkan dua kebaikan.

Justru pahala amal itu terkait kuat dengan kehadiran hati saat mengerjakan ibadah tersebut..

Ibnu Qayyim berkata :

“Setiap perkataan diberikan pahala oleh Allah jika memang layak diberi pahala. Kaidah ini telah benar, seperti perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “siapa yang suatu hari membaca : subhanallah wa bihamdihi seratus kali dihapuskan baginya kesalahannya dan diampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih lautan.” Pahala ini bukan karena perkataan lisan saja.. benar, siapa yang mengucapkannya dengan lisannya dalam keadaan lalai dari maknanya dan berpaling dari merenunginya, hatinya tidak mengikuti lisannya, tidak memahami nilai dan hakikatnya, namun berhadap pahala dengan itu, dihapus baginya kesalahan sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Sesungguhnya amal tidak ditimbang dengan bentuk dan jumlahnya. Namun ditimbang dengan apa yang ada hati. Maka dua amalan yang sama namun bisa jadi takarannya antara langit dan bumi. Dua orang berada dalam satu saf namun nilai sholatnya antara langit dan bumi.” (Madarijus Salikin, 1/339)

 

Memahami tujuan ibadah bahwa ibadah adalah sarana yang dibutuhkan untuk menghidupkan hati dengan iman, ia adalah langkah awal mendapatkan hakikat ibadah itu. Dengan memahami hal tersebut, maka akan menghasilkan pribadi yang senantiasa memperbaiki kualitas ibadah.

 

Maka, ketika sholat tujuan terbesarnya adalah menghadirkan hati dalam sholat. Konskuensinya ia akan bersegera datang ke masjid, tafakkur dengan ayat-ayat yang dibaca, tenang dalam ruku’ dan sujud, banyak berdoa dan khusyu’.

 

Saat berzikir, dia menghiasi zikir dengan tafakkur, beristighfar dengan terbayang dosa-dosanya dan menganggapnya sebagai aib di sisi Allah, menyesali hari-harinya yang lalu, terbayang keagungan Dzat yang dia langgar perintahnya, tasbihnya diiringi tafakkur akan kehadiran Allah yang Maha Agung Maha Perkasa Maha Pencipta. Sebagaimana Hasan al-Bashri berkata :

 

إن أهل العقل لم يزالوا يعودون بالذكر على الفكر وبالفكر على الذكر حتى استنطقوا القلوب فنطقت بالحكمة

“Sesungguhnya yang berakal senantiasa dzikirnya membawa fikiran dan fikirannya membawa dzikir sehingga bertanya pada hati, kemudian berbicara dengan hikmah.” (Ihya ‘Ulumuddin, 4/425)

Jangan Lewatkan Sholat Jenazah Saat Tetangga Meninggal, Ini 8 Alasannya

wahdaniyah.com -Jika ada tetangga muslim meninggal, jangan sampai tidak ikut sholat jenazah. Apalagi jika tidak ada alasan syar’i semisal sakit atau tidak bisa izin dari tempat kerja.

Sedikitnya ada delapan alasan mengapa jangan sampai melewatkan sholat jenazah:

1. Sholat jenazah hukumnya fardhu kifayah

Sholat jenazah hukumnya fardhu kifayah. Fardhu kifayah adalah kewajiban yang dituntut dari umat Islam secara kolektif, bukan perseorangan. Artinya, kewajiban itu gugur jika sudah dilaksanakan oleh sekelompok kaum muslimin, sedangkan yang lain tidak berdoa. Namun jika tidak ada yang melaksanakannya, maka seluruh kaum muslimin terkena dosa.

Bayangkan kalau tidak ada yang mau menshalatkan jenazah seorang muslim, seluruh kaum muslimin di kampung itu berdosa. Dengan mengikuti sholat jenazah, artinya kita sudah menggugurkan kewajiban muslim lainnya.

Selain itu, tentu pahalanya besar karena ini ibadah fardhu kifayah. Ibadah sunnah saja pahalanya besar, apalagi ibadah fardhu kifayah.

2. Menunaikan hak sesama muslim

Sholat jenazah merupakan hak bagi muslim yang meninggal. Artinya, kewajiban kita memberikan hak itu kepada tetangga yang meninggal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam. (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya. (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya. (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya. (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’). (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia. (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

Mengiringi jenazah hingga ke pemakaman ini termasuk juga di dalamnya sholat jenazah.

3. Sholat jenazah pahalanya 1 qirath

Salah satu keutamaan sholat jenazah, pahalanya sebesar satu qirath. Bahkan jika dilanjutkan dengan mengantarkan jenazah hingga pemakaman, pahalanya menjadi dua qirath. Satu qirath yang paling kecil besarnya seperti gunung uhud.


 

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa menshalatkan jenazah dan tidak mengiringinya (ke pemakaman), ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath. Jika dia juga mengiringinya (hingga pemakamannya), ia akan memperoleh dua qirath.” Ditanyakan, “Apa itu dua qirath?” Beliau menjawab, “Yang terkecil di antaranya semisal Gunung Uhud.” (HR. Muslim)

4. Si Mayit mendapat ampunan

Selain keutamaan luar biasa untuk yang sholat, sholat jenazah juga memiliki keutamaan besar bagi si mayit yang disholatkan. Terutama jika jamaah yang mensholatkan jumlahnya banyak, 40 orang atau lebih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (doa) mereka untuknya.” (HR. Muslim)

Bahkan kalaupun kurang 40 jamaah namun bisa dibagi menjadi tiga shaf (misal 30 orang, tiap shaf 10 orang), si mayit juga akan mendapatkan keutamaan sholat jenazah tersebut.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan doa mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; hasan)

Dengan demikian, si mayit akan mendapat ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah inti doa sholat jenazah adalah memintakan ampunan dan rahmat kepada Allah?

5. Si Mayit dilindungi dari siksa kubur

Ketika sholat jenazah diikuti 40 orang, doa mereka untuk si mayit akan dikabulkan Allah. Di antara doa sholat jenazah adalah mendoakan agar si mayit dilindungi Allah dari siksa kubur.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia. Luaskanlah kuburnya dan mandikanlah ia dengan air, salju dan embun. Sucikan ia dari seluruh kesalahan seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Lalu masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka.” (HR. Muslim)

6. Si Mayit diselamatkan dari neraka

Bacaan sholat jenazah pada takbir ketiga itu juga memohon agar si mayit diselamatkan dari siksa neraka. Ketika sholat jenazah diikuti 40 orang, insya Allah ia pun diselamatkan Allah dari neraka.

7. Si Mayit dimasukkan ke surga

Doa tersebut juga memohon agar si mayit dimasukkan ke surga. Ketika sholat jenazah diikuti 40 orang, insya Allah ia pun dimasukkan ke surga.

Bahkan kalaupun jamaah sholat jenazah tidak hafal doa yang panjang ini dan hanya membaca doa pendek:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia.”

insya Allah ia tetap dimasukkan ke surga. Bukankah tempat kembali bagi orang yang diampuni Allah dan mendapat rahmatNya adalah surga?


 

8. Suka sholat jenazah, kelak banyak yang mensholatkan

Bagi orang yang suka sholat jenazah, insya Allah kelak ketika ia meninggal, banyak kaum muslimin yang akan mensholatkannya. Sebab siapa yang berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada dirinya.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri..” (QS. Al Isra: 7)

Pembahasan lengkap mulai dari tata cara, niat, dan bacaan sholat jenazah bisa dibaca di artikel Sholat Jenazah.

<ibm>

Ilmu-Ilmu Untuk Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits)

Islam adalah agama yang berlandaskan pada ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Pada awalnya semua sumber ilmu Islam bergantung pada Rasulullah saw. Umat Islam pada masa Rasulullah hanya mengikuti semua yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Segala permasalahan tentang kehidupan umat Islam bisa langsung ditanyakan kepada Rasulullah dan langsung mendapat jawabannya.

Namun setelah wafatnya Rasulullah dan setelah ajaran Islam menyebar luas ke berbagai negeri timbul permasalahan-permasalahan baru.  Hal ini menuntut adanya jawaban baru pula namun tetap berlandaskan pada Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah.

Karenanya, Selama 2 abad pertama setelah wafatnya Rasulullah, Umat Islam mengembangkan keilmuannya untuk memahami Al-Quran dan Sunnah Rasul dengan benar yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah baru yang tidak dijumpai pada masa Rasulullah.

Ilmu-ilmu Islam terbentuk, berkembang dan menjadi sistematis. Dari Al-Qur’an dan As Sunnah ilmu Islam berkembang menjadi bercabang-cabang yang masing-masing cabang cabangnya memiliki cabang-cabang ilmu lagi.

Ilmu-ilmu Keislaman dan Cabangnya dapat kita gambarkan dengan bagan seperti ini.

ilmu ilmu keislaman

Sumber Utama kajian Ilmu Islam adalah AlQuran dan As Sunnah

AlQuran adalah Firman Allah yang yang kini dikodifikasikan dalam bentuk mushaf AlQuran. Pada Masa Rasulullah AlQuran belum berbentuk sebuah mushaf, namun dihafal oleh umat Islam dan ditulis dalam berbagai macam benda seperti Kulit dan tulang. Setelah Rasulullah wafat Umat Islam menyatukannya dan menuliskannya sesuai dengan urutan yang telah diajarkan Rasulullah. Proyek kodifikasi Al-Quran selesai pada Masa kepemimpinan Ustman bin Affan.

Assunnah atau sering disebut Al-Hadits adalah Perkataan, perbuatan dan taqririyah  Rasulullah saw. AsSunnah awalnya diajarkan dan diriwayaktan lewat mulut ke mulut dan dihafalkan. Baru dua ratus tahun setelah Rasulullah Wafat AsSunnah dikodifikasikan dalam bentuk kitab-kitab Hadits. Setidaknya ada 9 Kitab Hadits utama yang menjadi pegangan umat Islam.

Dari Al-Quran dan ASsunnah Ilmu-ilmu Islam berkembang  menjadi

3 POKOK UTAMA AJARAN ISLAM

  1. 1.Ilmu Tentang Masalah Keimanan atau kepercayaan –  berkembang menjadi Ilmu Akidah dan Tauhid
    • Ilmu Akidah Tauhid membahas tentang 6 Hal utama yaitu Keimanan Kepada Allah, Kepada Malaikat, Kitab-kitab Allah, Para Rasul, Keimanan Akan Hari Kiamat, dan Keimanan kepada Qodo dan Qodar
  2. Ilmu tentang Masalah Perbuatan batiniyah – Berkembang menjadi Ilmu Akhlak Tasawuf 
    • Ilmu Akhlak Tasawuf membahas tentang masalah penyucian jiwa manusia, membahas tentang Akhlak yang baik dan Buruk. Pada prakteknya Ilmu ini berkembang menjadi tarekat-tarekat Sufi.
  3. Ilmu Tentang Masalah Perbuatan Lahiriyah –  yang berkembang menjadi Ilmu Hukum, Syariat atau Fikih.
    • Ilmu Fikih dibagi menjadi 2 yaitu, Fikih Ibadah dan Fikih Muamalah. Fikih Muamalah dibagi lagi menjadi Fikih keluarga /Munakahat/perkawinan, Fikih Waris, Fikih Muamalah Madaniyah (berkaitan dengan perekonomian),  Fikih Jinayah (Hukum Pidana Islam), Fikih Siyasah (Politik dan Ketatanegaraan Islam)

Fikih sendiri adalah pemahaman seorang muslim terhadap Nash utama yaitu Al-Quran dan Hadits. Untuk memahami Nash-nash tidak bisa dilakukan asal-asalan atau sembarangan. Dari sini munculah berbagai macam Ilmu-ilmu untuk memahami Nash-nash Al-Quran dan AsSunnah dengan benar diantaranya yaitu:

  • Ilmu Bahasa dan Sastra Arab
  • Ulumul Qur’an
  • Ulumul Hadits
  • Ilmu Tafsir
  • Ilmu Ushul Fiqh
  • Ilmu Kaidah Fiqh
  • Sirah Nabawi
Silahkan Simak Video Beriktu Ini:

Panduan Manasik Haji – Prosesi Ritual Berhaji 8-12 Zdulhijah di Mekkah Al Mukarramah

Ibadah Haji merupakan salah satu dari rukun Islam. Setiap muslim wajib melaksanakan haji dengan syarat telah berkemampuan untuk melaksanakannya. Sehingga sebaiknya setiap muslim terlebih dahulu memahami gambaran tentang pelaksanakan ibadah Haji ini.
Dengan lebih memahami gambaran proses ibadah haji seorang muslim diharapkan dapat melaksanakan Haji dengan lancar dan lebih khusyuk. Munculnya kebingungan saat melaksanakan haji menjadi salah satu faktor tidak terganggunya prosesi ibadah.
Proses rangkaian ibadah haji sendiri dilaksanakan dari tanggal 8-12 pada bulan zdulhijjah. Sehingga yang dikatakan berhaji ketika berniat dan melakukan haji pada tanggal tersebut.

Proses (Manasik) Ibadah Haji

Adapun hal-hal yang perlu dipahami dalam proses manasik Ibadah haji diantaranya meliputi:
1. Memahami tentang Fikih Haji dan Umrah, silahkan baca di sini
2. Jenis-jenis Haji
3. Rangkaian Ibadah Haji

Jenis-Jenis ibadah Haji

Ada 3 jenis ibadah haji yaitu; Ifrad, Tamattu’ dan Qiran. Lihat:  skema perbedaannya disini
  1. Ifrad adalah melaksanakan ibadah haji saja pada tanggal-tanggal tersebut diatas tanpa melakukan Umrah sebelumnya.
  2. Tamattu’ adalah melaksanakan ibadah umrah terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah Haji pada waktunya. Dalam haji tamattu’ seseorang melaksanakan ihram dua kali, yaitu berihram untuk umrah dan melepas ihram sebelum waktu haji, lalu berihram kembali untuk berhaji.
  3. Qiran adalah menggabungkan antara Haji dan Umrah yaitu saat berihram langsung berniat untuk melaksanakan Haji dan Umrah. 

Haji Tamattu’ adalah yang paling dianjurkan dilaksanakan. Untuk lebih jelas bagaimana gambaran proses jenis haji ini anda dapat membaca lebih lengkap di 5pilarislam.blogspot

Rangkaian (Manasik) Ibadah Haji

Rangkaian proses manasik Haji dimulai dari tanggal 8 – 12 Dzulhijjah. Selama hari-hari tersebut sesorang yang berhaji harus menjaga ihram dan berpantang dari hal-hal yang dilarang selama ihram.
tempat-tempat ritual haji
Tempat ritual Haji: Mina, Arafah , Muzdalifah, Masjidil Haram (Ka’bah), Jamarat (Jumarah)
Berihram saat memasuki miqat, yaitu dengan mengenakan dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian ihram (khusus untuk laki-laki),sedangkan perempuan tidak ada pakaian khusus yang penting suci dan bersih. Biasanya mengenakan baju berwarna putih, lalu berniat haji dan membaca doa Talbiyah. 

Miqat dari jamaah Indonesia, biasanya ada dua macam:
untuk jamaah haji gelombang pertama, jamaah haji langsung menuju Madinah, sehingga miqat mereka adalah miqat penduduk Madinah, yaitu Dzul Hulai-fah/Bir ‘Ali.  
Untuk gelombang kedua langsung ke Mekkah, sehingga biasanya harus berihram saat masih di dalam pesawat sebelum pesawat melewati miqat, dengan bantun informasi awak pesawat.
Setelah Ber-ihram selanjutnya adalah:
  1. Hari pertama (tanggal 8) menuju Mina, yaitu sebuah kota dekat Mekah untuk menghabiskan sisa hari dengan banyak berdoa dan merenung. Saat ini pemerintah saudi menyediakan ribuan tenda putih ber-AC bagi para jamaah. Pria dan Wanita tinggal di tenda-tenda yang terpisah.
  2. Hari kedua (tanggal 9), Para jamaah melakukan perjalanan ke Arafah, yaitu sebuah gunung di dekat mina, dimana jamaah harus telah mencapai Arafah pada siang hari untuk melaksanakan Wuquf. Wuquf dilaksanakan ketika matahari mulai tergelincir siang hari sampai terbenam. Selama wukuf jamaah berdoa dan merenung.
  3. Setelah matahari terbenam, jamaah berjalan menuju Muzdalifah yang terletak di antara Mina dan Arafah. Di Muzdalifah jamaah melakaukan Mabbit (bermalam) dan di sela waktu mengumpulkan kerikil secukupnya untuk melontar jumrah.
  4. Pada saat tengah malam, jamaah berjalan menuju Mina dan biasanya sampai sebelum matahari terbit.
  5. Hari ketiga (tanggal 10), jamaah melaksanakan Ibadah Jumrah dengan melemparkan tujuh kerikil ke arah monumen batu khusus yang disebut dengan Jamarat AlAqabah.
  6. Setelah melaksanakan jumroh, dianjurkan untuk berqurban dan selanjutnya melaksanakan tahalul yaitu dengan mencukur rambut.
  7. Setelah itu dilanjutkan berjalan menuju Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf dan Sa’i.
  8. Pada akhir hari ketiga, jamaah kembali ke Mina dan bermalam di sana.
  9. Hari keempat (tanggal 11), melaksanakan jumrah ula di tugu pertama, kedua dan ketiga.
  10. Hari kelima (tanggal 12), jamaah mengulangi lagi Jumrah ula, yaitu melempar kerikil tujuh kali ke tugu pertama, kedua dan ketiga.
  11. Untuk menandai akhir ibadah Haji, jamaah menuju Masjidil Haram dan melaksanakan Thawaf Wada’ (yaitu thawaf perpisahan).

peta perjalanan jamaah haji
Peta Mekah, Mina, Muzdalifah dan Arafah

foto atas - komplek jamarat
Foto dari atas komplek tempat melempar Jumrah
arafah
Pemandangan Bukit Arafah – lautan jamaah haji

Belajar Islam: Apa Saja Ilmu Yang Perlu dipelajari?

Setiap muslim dituntut untuk mengamalkan ajaran-ajaran dinul Islam secara menyeluruh. Untuk dapat mengamalkan setiap ajarannya harus berlandaskan ilmu.

Pada dasarnya sumber utama ajaran agama Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Al-Quran sebagai sumber paling utama telah menjadi bahan kajian dalam ruang lingkup Ilmu-Ilmu Al-Quran (Ulumul Quran). Sedangkan sumber ajaran yang kedua, Al-Hadits, dikaji dalam ruang lingkup Ilmu-Ilmu Hadits (Ulumul Hadits).
Sementara untuk mempelajari masalah keimanan (kepercayaan) umat Islam mempelajari dalam wilayah Ilmu Tauhid / Akidah Islam. Kemudian untuk mempelajari tentang perilaku yang terpuji dan tercela umat Islam mempelajarinya melalui kitab-kitab Akhlak (ilmu Akhlak). 
Dalam bidang hukum Islam, umat Islam mempelajari dan memahaminya melalui ilmu Fikih. Sedangkan untuk mengkaji masalah-masalah yang terdapat dalam ilmu Fikih digunakan Ushul Fikih dan Kaidah Fiqhiyah.
Selain itu ilmu pendukung lainnya yang perlu dipelajari oleh umat Islam adalah tentang Bahasa AlQuran yaitu Ilmu Bahasa Arab. Dalam AlQuran sendiri sering muncul ayat-ayat yang membahas masalah umat terdahulu, sehingga ilmu sejarah juga penting untuk dipelajari khususnya lagi Sirah Nabawiyah.
belajar memahami ilmu - diam lebih baik jika tak berilmu

AKIDAH ISLAM

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan agama yang berintikan iman dan amal. Akidah adalah pokok yang diatasnya berdiri syariat. Sedangkan amal atau perbuatan adalah syariat dan cabang-cabangnya sebagai buah dari keimanan. Baca selengkapnya di sini

AKHLAK ISLAM

Perilaku atau tingkah laku manusia di dunia ini menjadi penyebab bagaimana keadaan dunia ini. Ketika manusia banyak yang berperilaku baik, akan baiklah keadaan dunia ini dan sebaliknya. Baca Selengkapnya di sini

FIKIH

Fikih adalah pemahaman muslim yang harus dijalankan (amaliyah) terhadap hukum yang ditetapkan Allah kepadanya dalam menjalani kehidupan di dunia ini yang meliputi semua lingkup kehidupan baik kehidupan pribadinya, keluarga, ekonomi, politik, dan hukum masyarakat. Baca selengkapnya di sini

ULUMUL QURAN

Ulumul Quran adalah alatnya sedangkan Ilmu tafsir adalah satu diantara yang dipelajari dalam Ulumul Al Quran yang membahas tentang metode penafsiran Al Quran. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud ulumul Quran. Baca Selengkapnya di sini

ULUMUL HADITS

Dalam Ilmu Hadits, yaitu ilmu yang dengannya dapat diketahui benar tidaknya ucapan, perbuatan, keadaan atau lainya, yang orang katakan dari Nabi Muhammad saw, di dalamnya ada beberapa bagian dan cabang. Baca Selengkapnya di sini

USHUL FIKIH

Sebagai sebutan dari sebuah ilmu, ushul fiqh adalah: sebuah ilmu tentang kaidah dan dalil-dalil umum yang digunakan untuk mencetuskan hukum fiqh sesuai cakupan kaidah dan dalil itu. Baca tentang ushul fikih di sini

BAHASA ARAB

Ilmu Bahasa Arab memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam, terutama karena Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam diwahyukan dalam bahasa Arab. Sehingga bagi pencari ilmu-ilmu Islam wajib mempelajarinya.

SIRAH NABAWIYAH

Ini adalah sejarah tentang kehidupan Rasulullah saw semasa hidup dan masa-masa sebelumnya. Dengan mempelajarinya pelajar akan memahami kondisi awal Islam berkembang.

Batasan Aurat Wanita Dalam Islam – Adab Berpakaian Muslim

Salah satu aspek penting seorang muslim dalam menjalani kehidupannya adalah masalah aurat dan Adab berpakaian.

Para ulama telah membahas panjang lebar tentang masalah aurat ini, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam posting kali ini, islamwiki mencoba untuk menterjemahkan sebuah tulisan berbahasa Inggris yang mengulas secara cukup detail tentang permasalahan aurat.

Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan Muhammad bin Adam al-Kauthari (Darul Iftaa, Leicester, Inggris). Anda dapat membaca teks aslinya di website: http://qa.sunnipath.com.

adab berpakaian dalam Islam - aurat perempuan

Sebuah Penjelasan Rinci Tentang Aurat Perempuan 

(Mazhab Hanafi)

oleh: Muhammad bin Adam al-Kauthari 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Menutupi diri dari  ketelanjangan (aurat) adalah aspek sangat penting yang sangat ditekankan bagi pria dan wanita dalam Islam, sehingga Al-Quran dan Sunnah telah memberi perhatian besar berkaitan dengan hal ini. Kami juga melihat berbagai kitab fikih Islam (fiqh) membahas masalah yang berhubungan dengan aurat baik bagi pria dan wanita dengan sangat rinci. Dalam artikel singkat ini, saya akan mencoba untuk menjelaskan beberapa dan melihat secara komprehensif seperti apa aurat itu.

Awra merupakan istilah Arab jamak dari  Aurat. Secara bahasa, itu berarti tempat yang tersembunyi dan rahasia, dan Awra orang adalah  bagian yang harus disembunyikan. Hal ini juga mengacu pada segala sesuatu yang menyebabkan rasa malu bila terlihat, dengan demikian, Aurat seorang individu adalah area tubuh yang (biasanya) menyebabkan malu jika terlihat. (Ibn Manzur, Lisan al-Arab, 9/370).

Dalam terminologi fikih Islam, Aurat mengacu pada daerah atau bagian tubuh yang harus ditutupi dengan pakaian yang sesuai. Dalam bahasa Inggris, biasanya diterjemahkan sebagai ketelanjangan atau area tubuh yang harus ditutup. Banyak orang (biasanya dari Indo / Pak) menyebutnya sebagai Satar. Untuk tujuan kesederhanaan, saya akan menggunakan istilah Aurat dalam artikel ini, Insya Allah.

Aurat seorang Wanita

Aurat wanita awalnya dapat dibagi menjadi dua kategori:

1) Dalam Shalat

2) Diluar Shalat

Yang kedua ini kemudian dibagi menjadi lebih kepada sub-kategori:

a) Dalam pengasingan

b) Di depan suami

c) Di depan wanita Muslim

d) Di depan Mahram laki-laki (orang yang tidak boleh dinikahi selamanya)

 e) Di depan laki-laki non-Mahram

  f) Di depan wanita non-Muslim

 g) Di depan laki-laki non-Muslim Mahram

1) (Red: Adab dalam berpakaian)  Aurat dalam shalat

Aurat wanita saat melakukan Shalat terdiri dari seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki. Allah Swt mengatakan: wahai anak Adam! Kenakan pakaian indah Anda (zeenah) di setiap waktu dan tempat shalat. (QS. al-Araf, 31).

Mayoritas para sahabat (ra), pengikut mereka (tabiun), fukaha dan penafsir Al-Quran telah menyimpulkan dari ayat ini (bersama dengan bukti-bukti lain) kewajiban menutupi  Aurat dalam shalat. (Lihat: Abu Bakar bin al-Arabi, Ahkam al-Quran, 4/205, al-Quran Maarif (bahasa Inggris), 3/565).

Sayyida Aisha (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (Allah memberkatinya & memberinya kedamaian) berkata: Allah tidak menerima shalat dari seorang wanita yang mengalami menstruasi (yaitu yang telah mencapai pubertas, m) kecuali dengan penutup kepala (khimar). (Sunan Abu Dawud, no. 641, Sunan Tirmizi, Sunan Ibnu Majah dan lain-lain).

Ahli hukum Besar Hanafi , Imam al-Haskafi (Allah merahmatinya) menyatakan dalam karyanya yang  terkenal Durr al-Mukhtar:

Aurat bagi wanita bebas (bukan budak) adalah seluruh  tubuh penuh nya termasuk rambut  menurut pendapat yang benar, kecuali wajah, tangan dan kaki. (Lihat al-Radd Muhtar, 1/405).

Oleh karena itu, seorang wanita harus menutupi tubuhnya dengan baik ketika melakukan shalat. Segala sesuatu selain wajah, tangan dan kaki harus ditutupi. Wajah harus ditutupi dengan benar sehingga tidak ada rambut yang terlihat. Juga, harus diperhatikan bahwa tidak ada bagian dari atas pergelangan tangan dan pergelangan kaki terlihat.

Harus diingat bahwa Aurat saat melakukan shalat harus ditutupi baik tanpa orang lain yang hadir atau sebaliknya, dan terlepas dari apakah seseorang melakukan shalat dalam cahaya gelap atau tidak. (Maraqi al-Falah, 210).

Kaki, menurut pendapat yang lebih benar, tidak dianggap sebagai bagian dari Aurat. Namun, karena perbedaan pendapat berkaitan dengan itu, itu akan menjadi lebih dalam kewaspadaan dan dianjurkan untuk menutupinya, karena akan dijelaskan secara rinci nanti.

Sehubungan dengan area di bawah dagu, harus diingat bahwa batas dari wajah panjang dimulai dari titik di mana garis rambut biasanya mulai sampai bawah dagu, dan luasnya bagian antara kedua telinga. (Maraqi al-Falah, P. 58)

Menjaga hal ini dalam pikiran, menjadi jelas bahwa area di bawah dagu tidak termasuk wajah, sehingga akan termasuk dalam definisi hukum Aurat, dan ini harus dicoba untuk menutupinya. Namun, karena kesulitan dalam menutupinya, jika sebagian kecil menjadi terlihat, seharusnya tidak menjadi masalah.

Akhirnya, (di bagian ini),  Aurat yang harus ditutup dari sebelum masuk ke dalam shalat dan harus tetap tersembunyi sampai akhir. Jika seperempat bagian / organ yang membutuhkan penyembunyian terlihat sebelum memulai shalat, maka shalat tidak akan sah dari awal. Namun jika, seperempat dari organ yang termasuk dalam Aurat menjadi terbuka selama shalat, kemudian, jika ini tetap dengan durasi membaca subhanallah tiga kali, Salat akan menjadi tidak sah, jika tidak, itu akan berlaku. (Lihat: al-Falah Maraqi, P. 242).

(Catatan) Seseorang harus berkonsultasi seorang Ulama berkaitan dengan bagaimana bagian-bagian tubuh yang dikategorikan dan dibagi, saat waktu itu, seseorang mungkin menganggap organ tubuh menjadi salah satu bagian, sedangkan, secara hukum, mungkin dianggap dua bagian .

2) Aurat Diluar shalat

a) Aurat dalam privasi dan pengasingan

Hal ini diperlukan (wajib) (dan direkomendasikan menurut pendapat lain) di mazhab Hanafi, untuk menutupi ketelanjangan yang minimum (antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan perempuan) bahkan ketika sendirian. Pengecualian untuk ini adalah ketika ada kebutuhan, seperti mandi, menghilangkan diri sendiri, atau berganti pakaian yang. Bahkan dalam situasi seperti itu, dianjurkan untuk meminimalkan eksposur.

Rasul Allah saw berkata: Kesederhanaan merupakan bagian dari iman (iman) (Sahih al-Bukhari & Sahih Muslim)..

Yala bin Umayyah melaporkan bahwa Rasulullah saw berkata: Sesungguhnya Allah adalah sederhana dan bijaksana dan Dia menyukai kesederhanaan dan kebijaksanaan. Ketika salah satu dari Anda mandi, satu sama lain harus menutupi dirinya. 
(Sunan Abu Dawud, Sunan Nasai & Musnad Ahmad).

Ini adalah perintah dari anjuran saat sendirian.

Imam al-Haskafi (Allah merahmatinya) mengatakan dalam bukunya Durr al-Mukhtar:

(Dan untuk menutupi Aurat seseorang), ini adalah kewajiban umum, bahkan ketika saja, menurut pendapat yang benar, kecuali untuk alasan yang sah.

Allama Ibnu Abidin (Allah merahmatinya) menulis sementara mengomentari atas  bukunya al-Radd Muhtar:

(Pernyataan al-Haskafis Bahkan ketika sendiri) Yaitu: diluar shalat itu, wajib untuk menutupi Aurat seseorang di depan orang lain sesuai dengan ijma’ ulama, dan bahkan ketika untuk alasan yang benar

Sekarang, arti jelas meliputi Aurat seseorang ketika sendirian di luar shalat (dalam konteks ini) adalah bahwa hanya yang antara pusar dan lutut, sehingga bahkan wanita tidak harus menutupi selain itu (ketika sendirian) bahkan jika itu adalah dari Aurat mereka di depan orang lain

(Pernyataan Al-Haskafis “Menurut pendapat yang benar”) karena Allah Swt, meskipun Dia Maha melihat sama saja tertutup atau tidak. Terlihat satu dengan ketelanjangan mereka adalah meninggalkan sikap yang tepat dan terlihat tertutup menunjukkan sikap yang tepat . Sikap yang tepat ini, yaitu menutup (di sini) adalah wajib jika ada kemampuan untuk melatihnya. “

(Pernyataan al-Haskafis Kecuali itu untuk alasan yang sah) Seperti, menggunakan toilet atau membersihkan s diri (istinja) (Lihat:. Radd al-Muhtar, 1/405, Matlab fi satr al-awra ).

Oleh karena itu, (menurut pendapat yang lebih benar), seorang wanita harus menutupi bahkan dalam privasi antara pusar dan (termasuk) lutut kecuali jika ada kebutuhan, seperti membuang hajat, mandi, berganti pakaian, dll

b) Aurat di depan suami

Pada prinsipnya, diperbolehkan untuk pasangan untuk melihat setiap bagian dari tubuh masing-masing. Dengan demikian, tidak ada Aurat di depan pasangannya (untuk ini akan dibebaskan dari putusan menyembunyikan dalam privasi karena kebutuhan).

Cendekiawan menyebutkan bagaimanapun, bahwa meskipun dibolehkan bagi suami-istri untuk melihat setiap bagian dari tubuh pasanganya, itu tidak menyukai bahwa mereka menjadi benar-benar telanjang selama hidup bersama. Sebuah penutup atau lembaran atas tubuh telanjang akan cukup.

Sayyida Aisha (ra dengan dia) berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah Allah SWT saw bagian-bagian pribadi. (Sunan Ibnu Majah, hadis no. 662).

c) Aurat di depan perempuan Muslim

Aurat seorang wanita di depan sesama wanita Muslim adalah sama dengan yang merupakan  Aurat laki-laki di depan orang lain, yaitu dari pusar sampai dengan lutut.

Hal ini dinyatakan dalam al-Hidaya:

Seorang wanita mungkin melihat yang lain (Muslim) wanita itu yang diizinkan bagi seorang pria untuk melihat laki-laki lain, karena mereka yang dari jenis kelamin yang sama, dan tidak adanya keinginan (syahwat) di antara mereka biasanya pula , karena kebutuhan dan kebutuhan mereka mengekspos antara mereka sendiri (Lihat: al-Marghinani, al-Hidaya, 4/461)..

Oleh karena itu, seorang wanita harus menutupi dari pusar sampai dengan dan termasuk lutut di depan wanita Muslim lainnya.

d) Aurat di depan (Muslim) mahram 

Aurat seorang wanita di depan pria Mahram nya (laki-laki yang tidak boleh dinikahi permanen), seperti ayah, kakak, anak, paman dari pihak ayah (saudara ayah), paman dari pihak ibu (saudara ibu), ayah -hukum, cucu, suami anak (dari pernikahan lain), anak mertua, dll – terdiri dari daerah antara pusar dan lutut, serta perut dan punggung.

Dengan demikian, maka akan diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengekspos bagian-bagian berikut tubuhnya di depan laki-laki Mahram: kepala, rambut, wajah, leher, dada, bahu, tangan, lengan, dan kaki dari bawah lutut. Ini tidak akan diperbolehkan untuk mengekspos perut, punggung atau daerah yang antara pusar dan lutut. (Lihat: al-Fatawa al-Hindiyya, 5/328 &  al-Hidaya, 4/461).

Putusan ini didasarkan pada ayat Al-Quran dalam Surah al-Nur:

Mereka (percaya wanita) tidak harus menampilkan kecantikan mereka kecuali kepada suami mereka, ayah, suami ayah mereka, anak-anak mereka, anak-anak suami mereka, saudara-saudara mereka, anak-anak saudara-saudara mereka, anak-anak saudara mereka atau mereka perempuan (24-31).

Ini juga akan diperbolehkan bagi Mahram untuk menyentuh bagian-bagian yang diperbolehkan untuk mengekspos di depan mereka, asalkan tidak ada rasa takut godaan atau keinginan.

Imam al-Quduri (Allah merahmatinya) menyatakan:

Tidak ada yang salah dalam menyentuh bagian-bagian yang diperbolehkan untuk melihat (Mukhtasar al-Quduri).

Namun, harus diingat bahwa jika ada rasa takut godaan (fitnah), maka tidak diperbolehkan untuk mengekspos bagian ini bahkan di hadapan mahram, juga tidak akan diizinkan untuk melihat atau menyentuh daerah-daerah tubuh yang mahram. (Lihat: al-Lubab fi Sharh al-Kitab, 3/218).

e) Aurat di depan laki-laki non-Mahram

Aurat di depan laki-laki non-Mahram (orang-orang dengan siapa pernikahan adalah melanggar hukum), yang meliputi saudara sepupu, kakak ipar, paman dari pihak ayah (ayah yang saudara suami), paman dari pihak ibu (yang ibu s sister suami), suami paman, keponakan suami, dll) terdiri dari seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki. Hal ini mirip dengan apa yang dianggap Aurat dalam shalat (salat).

Imam al-Marghinani (Allah merahmatinya) menyatakan:

Tidak diizinkan bagi seorang pria untuk melihat seluruh tubuh seorang wanita non-Mahram (karena itu menjadi bagian dari Arrat) kecuali wajah dan tangannya, untuk Allah Swt mengatakan: Perempuan tidak harus menampilkan kecantikan mereka dan perhiasankecuali apa yang tampak darinya (al-Nur, 31). Sayyidina Ali dan Sayyidina Ibnu Abbas (ra dengan mereka) menafsirkan ayat ini dengan wajah dan tangan … Ini adalah bukti tekstual pada kemustahilan melihat kakinya (untuk itu adalah awra, m), namun Imam Abu Hanifah (Allah merahmatinya) mengatakan bahwa diperbolehkan untuk melihat kakinya karena butuhkan. (Al-Hidaya, 4/458).

Imam al-Tumurtashi (Allah merahmatinya) menyatakan dalam Tanwir al-Absar:

Aurat wanita terdiri dari seluruh tubuhnya kecuali wajah, tangan dan kaki. Namun, dia akan dicegah dari memperlihatkan wajahnya pada pria  karena takut godaan (fitnah).

Oleh karena itu, Aurat wanita di depan laki-laki non-Mahram adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah, tangan dan kaki.

Ini harus dikatakan di sini bahwa ada perbedaan antara Aurat dan Niqab atau Hijab. Karena kegagalan membedakan antara keduanya, banyak orang menjadi korban salah menafsirkan hukum Islam dalam satu atau lain cara.

Wajah menurut para ulama adalah bukan bagian dari Aurat, namun, seperti telah kita lihat dalam teks Imam al-Tumurtashi, maka akan diperlukan untuk menutupi itu karena takut godaan dan hasutan.

 Ibnu Abidin menyatakan: (Seorang wanita muda akan dicegah dari menampakan wajahnya), bukan karena itu adalah bagian dari Aurat, bukan (tapi karena takut godaan). (Radd al-Muhtar, 1/406).

Dengan demikian, diskusi kita semata-mata mengenai Aurat, dan tidak Jilbab atau Niqab. Sejauh yang berkuasa menentukan berkaitan dengan penutup wajah atau yang bersangkutan, kita meninggalkan bahwa untuk lain waktu.

Hal ini juga layak disebutkan di sini bahwa meskipun posisi Fatwa di  Madhab Hanafi adalah bahwa kaki tidak termasuk dalam Aurat, tetapi ada hal lain pendapat yang kuat (dalam mazhab dan sesuai dengan Madhabs lain, seperti Shafii), bahwa itu adalah bagian dari Aurat, dan harus ditutupi. Dengan demikian, secara hukum, salah satu tidak akan berdosa untuk menampakkannya, tetapi akan dianjurkan sebagai langkah pencegahan untuk menutupi kaki

Selain itu, (menurut pendapat Fatwa), itu hanya diperbolehkan untuk menampakan kaki sampai pergelangan kaki. Apa pun di atas pergelangan kaki adalah dari Aurat tanpa keraguan.

Banyak wanita mengenakan cadar, burqa dan jilbab yang biasanya menutupi pergelangan kaki, tetapi mengungkapkan daerah tungkai atas ini sambil berjalan (terutama di angin, duduk dan keluar dari mobil, dll), sehingga mereka melakukan dosa mengungkap Apa yang dianggap Aurat menurut semua.

Oleh karena itu, kita perlu menekankan pentingnya menutupi kaki. Menutupi kaki adalah sama pentingnya dengan menutupi wajah jika tidak lebih, untuk wajah tidak dianggap bagian dari Aurat, sementara, ada pendapat yang kuat dalam mazhab Hanafi (dan pendapat Fatwa dalam mazhab lain) bahwa kaki juga .

Mereka yang sangat menyerukan dan menekankan perlunya menutup wajah (bukan berarti bahwa saya keberatan mereka) juga harus menyadari bahwa kaki  juga sama pentingnya. Pada saat ini, semua penekanan diletakkan pada wajah, sementara wanita terlihat untuk mengekspos area di atas pergelangan kaki saat berjalan dan tidak ada kesadaran bahwa dosa sedang dilakukan.

f) Aurat di depan perempuan non-Muslim

Aurat seorang wanita di depan wanita non-Muslim, tegasnya, sama dengan yang ada di depan laki-laki non-Mahram, yaitu seluruh tubuh selain tangan, wajah dan kaki.

Ayat QS. al-Nur yang kami kutip sebelumnya rincian daftar orang selain antaranya seorang wanita tidak diperbolehkan untuk mengekspos kecantikannya. Orang-orang seperti (seperti yang dijelaskan sebelumnya) diketahui mahram nya (unmarriageable kin). Juga, dalam ayat itu, Allah SWT menyatakan: perempuan mereka (al-Nur, 31) menunjukkan bahwa seorang wanita hanya harus mengekspos dirinya untuk wanita dan bukan orang lain.

Para penafsir Al-Qur’an berbeda berkaitan dengan interpretasi pernyataan Allah. Imam Fakhr al-Din al-Razi (Allah merahmatinya) menyatakan:

Sehubungan dengan pernyataan Allah atau perempuan mereka, ada dua pendapat. Yang pertama adalah bahwa hal itu mengacu pada para wanita yang berada di agama yang sama (din) dengan mereka (yaitu Muslim, m). Ini adalah pendapat mayoritas para pendahulu (salaf). Ibnu Abbas (ra dengan dia) menyatakan: Tidak diizinkan untuk percaya / wanita Muslim untuk mengungkap dirinya di depan wanita non-Muslim, dan dia hanya diperbolehkan untuk menampakan bahwa apa yang diperbolehkan di depan laki-laki non-Mahram Sayyidina Umar bin al-Khattab (ra dengan dia) menulis kepada Abu Ubaida bin Al-Jarrah (ra dengan dia) untuk menghentikan wanita non-Muslim memasuki area mandi (hammam) dengan perempuan Muslim.

Pendapat kedua adalah bahwa, mengacu pada semua wanita (yaitu dia mungkin menampakan di depan semua wanita, m). Ini adalah opini yang diadopsi, dan pendapat para pendahulu didasarkan pada superioritas (istihbab). (Lihat: Tafsir al-Kabir, 8/365).

Sebagaimana telah kita lihat, bahwa Imam al-Razi (Allah merahmatinya) mengadopsi pandangan kedua bahwa seorang wanita bisa mengungkap di depan perempuan non-Muslim sampai sebatas apa yang dia diperbolehkan untuk mengungkap di depan pria Mahram.

Namun, banyak ulama memilih pandangan pertama, dan itu adalah pandangan yang diadopsi oleh Mazhab Hanafi. Imam al-Haskafi (Allah merahmatinya) menyatakan:

Seorang wanita non-muslim mirip dengan seorang pria non-Mahram menurut pendapat yang benar. Dengan demikian, dia tidak diizinkan untuk melihat tubuh seorang wanita Muslim. (Radd al-Muhtar, 6/371).

Allama Ibnu Abidin (Allah merahmatinya) menjelaskan:

Tidak diizinkan bagi wanita Muslim untuk mengungkap di depan, Kristen Yahudi atau wanita atheis kecuali jika dia budak nya, juga tidak menyukai bahwa seorang wanita korup (fasik) melihat tubuh seorang wanita saleh, karena ia dapat menggambarkan dirinya kepada orang-orang, sehingga ia harus menghindari melepas pakaian luarnya (jilbab) atau scarf (khimar). (Ibid).

Hal ini terbukti dari teks Ibnu Abidin bahwa alasan utama untuk tidak diperbolehkannya mengungkap di depan seorang wanita non-Muslim adalah bahwa dia mungkin mengungkapkannya kepada laki-laki lain. Jika hal ini dikhawatirkan dari seorang wanita Muslim yang fasik, maka salah satu harus menghindari mengungkap di depannya juga.

Oleh karena itu, Aurat seorang wanita di depan perempuan non-Muslim adalah semua tubuhnya kecuali wajah, tangan dan kaki. Dengan demikian, seorang wanita harus menutupi di depan perempuan non-Muslim setiap kali mungkin wajar. Namun, ulama mengatakan bahwa jika hal ini sulit, maka akan diperbolehkan untuk mengekspos beberapa bagian tubuh di depan mereka.

Putusan menutupi di depan perempuan non-Muslim tidak seketat situasi lainnya, untuk, pertama, ada perbedaan pendapat antara para ulama mengenai hal itu, dan kedua, mungkin pada waktu yang sangat sulit untuk menutupi di depan perempuan. Penafsir besar, Imam al-Alusi (Allah merahmatinya) menyatakan:

Pendapat ini (dari tidak menutupi di depan perempuan non-Muslim) yang lebih tepat hari ini, untuk itu hampir tidak mungkin untuk menutupi di depan mereka. (Ruh al-Maani).

Sebagai kesimpulan, seorang wanita harus menutupi setiap kali cukup mungkin di depan wanita non-Muslim, terutama bila ada ketakutan bahwa dia mungkin menampakannya pada laki-laki lain. Juga saat ini, Fitnah seperti lesbianisme telah menjadi menyebar begitu luas yang telah menjadi penting bagi perempuan untuk mengamati secara hati-hati dengan wanita non-Muslim. Namun, jika sulit untuk menutupi sepenuhnya, maka salah satu dapat mengambil konsesi pada tidak menutupi dan meminimalkan ke minimum.

g) Aurat di hadapan mahram non-Muslim

Sehubungan dengan Aurat di hadapan mahram nya yang non-Muslim, seperti seorang ayah non-Muslim, saudara, anak, dll, saya tidak bisa menemukan putusan eksplisit pada masalah di mazhab Hanafi.

Namun, tampaknya bahwa mahram non-Muslim yang mirip dengan mahram lain bahwa seorang wanita dapat menampakan dirinya selain dari pusar hingga lutut dan perut dan punggung, asalkan tidak takut godaan (fitnah).

Ada dua alasan untuk ini:

Pertama, ayat Al-Quran dan laporan para ahli hukum (fuqaha) yang umum ketika membahas mahram. Mereka tidak membedakan antara Mahram non-Muslim dan Muslim. Quran memungkinkan seorang wanita untuk mengekspos dirinya (untuk persetujuan, seperti dijelaskan di atas) di depan ayahnya, saudara, anak, dll tanpa menentukan bahwa ia menjadi seorang Muslim.

Kedua, Fuqaha secara eksplisit menyebutkan bahwa Mahram dengan siapa seorang wanita mungkin pergi pada perjalanan haji termasuk juga non-Muslim. Imam al-Haskafi (Allah merahmatinya) menyatakan:

Seorang wanita mungkin bepergian untuk haji bersama suami atau mahram, meskipun jika ia (Mahram) adalah budak atau non-Muslim atau (dia dianggap Mahram a, m) karena menyusui. Dia harus telah mencapai pubertas dan waras, dan anak laki-laki yang dekat dengan pubertas adalah seperti orang yang telah mencapai pubertas, kecuali penyembah api dan orang yang tidak bermoral dan fasik.

Allama Ibnu Abidin (Allah merahmatinya) menjelaskan:

Alasan mengapa bepergian dengan Mahram yang merupakan penyembah api adalah tidak diperbolehkan, adalah bahwa mereka (penyembah api, m) menganggap pernikahan dengan kerabat dekat diperbolehkan. (Radd al-Muhtar, 2/464)

Imam al-Kasani (Allah merahmatinya) menyatakan:

Mahram adalah satu dengan siapa pernikahan secara permanen melanggar hukum apakah Mahram ini adalah orang merdeka atau budak, karena perbudakan tidak bertentangan dengan hubungan dekat (mahramiyya), dan apakah ia adalah seorang Muslim, non-Muslim atau atheis (musyrik), untuk Mahram non-Muslim biasanya pengamanan dirinya, kecuali bahwa dia adalah seorang pemuja api, karena ia menganggap pernikahan dengan dia menjadi halal. (Badaii al-Sanai, 2/124).

Hal ini dinyatakan dalam Fath al-Qadir:

Hal ini dibolehkan baginya untuk bepergian dengan semua jenis mahram kecuali penyembah api, karena ia percaya pernikahan dengan dia menjadi halal. (Ibnu al-Humam, Fath al-Qadir, 2/422).

Dalam mazhab Syafi’i, kita memiliki teks yang jelas yang memungkinkan mengungkap di depan Mahram non-Muslim. Imam Ibnu Hajar al-Haitsami (Allah merahmatinya) menyatakan:

Hal ini tidak diperbolehkan untuk melihat apa yang terletak antara pusar dan lutut yang relatif dekat (mahram), segala sesuatu yang lain diperbolehkan, asalkan tidak ada keinginan (shahwah), dan bahkan jika ia adalah seorang non-Muslim, karena hubungan erat (mahramiyyah) membuat pernikahan sah, sehingga seolah-olah mereka adalah dua laki-laki atau dua perempuan. (Tuhfat al-Muhtaj ala al-Minhaj).

Oleh karena itu, akan diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengungkap selain daerah antara pusar dan lutut, dan perut dan punggung di hadapan mahram non-Muslimnya, asalkan dua kondisi terpenuhi:

1) bahwa tidak ada keinginan (shahwat) atau takut godaan (fitnah), terutama ketika kita hidup di zaman di mana kejahatan seperti inces antara non-Muslim menjadi umum,

2) bahwa kerabat dekat non-Muslim tidak ada diantara mereka yang percaya bahwa diizinkan untuk menikahi kerabat dekat,

Akhirnya sebelum berpisah, saya ingin menyebutkan dalam kaitannya dengan diskusi kita tiga poin.

Pertama, harus diingat bahwa semua bagian tubuh yang perlu dibahas (dalam berbagai situasi dibahas di atas) harus ditutupi dengan pakaian yang longgar dan buram. Pakaian tidak harus dekat-pas dimana sosok tubuh terlihat atau transparan dimana warna tubuh mampu untuk dilihat. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka tidak akan dianggap menjadi penutup yang cukup untuk aurat tersebut.

Imam al-Haskafi (Allah merahmatinya) menyatakan:

Pakaian yang dianggap penutup yang cukup seperti itu, tidak mungkin untuk melihat seuluruhnya.

Allama Ibnu Abidin (Allah merahmatinya) menjelaskan:

(Hal ini tidak mungkin untuk melihat mereka menyeluruh), yang berarti dengan cara yang mana warna kulit tidak dapat terlihat. Ini berarti pakaian tipis dan lainnya yang tembus. Namun, jika pakaian yang tebal dengan cara yang warna kulit tidak terlihat, tetapi ketat untuk tubuh, maka ini seharusnya tidak mencegah keabsahan shalat Namun, masih bisa untuk melihat  bagian tubuh. (Lihat: al-Radd Muhtar ala al-Durr al-Mukhtar, 1/410).

Ini kutipan dari Ibn Abidin menjelaskan bahwa jika kulit tubuh menjadi terlihat dalam shalat, shalat akan menjadi tidak shah. Namun, pakaian ketat tidak akan mencegah keabsahan shalat, namun masih perlu untuk tidak mengenakan pakaian ketat.

Kedua, dalam semua kesempatan sebelumnya di mana ia diperbolehkan untuk mengungkap dan mengekspos tubuh, jika ada rasa takut keinginan (shahwat) di kedua sisi atau ada rasa takut godaan (fitnah), maka akan diperlukan untuk menutupi. Seorang wanita mungkin membuat keputusan ini sendiri sesuai dengan lingkungan dia masuk

Ketiga, akan diperbolehkan untuk mengungkap dan mengekspos bagian Aurat dalam kasus kebutuhan ekstrim dan kebutuhan, seperti obat-obatan. Namun, perawatan harus diambil bahwa ini terbatas hanya bagian yang memerlukan perawatan. Jika pengobatan diperlukan pada bagian pribadi yang sebenarnya, maka akan lebih baik untuk menerima perawatan dari seseorang yang berjenis kelamin sama. Namun, jika ini tidak mungkin, maka akan diizinkan untuk menerima perawatan dari spesialis dari lawan jenis, dengan mengurus dari perintah-perintah dan bimbingan Syariah.

Allama Ibnu Abidin (semoga Allah merahmatinya) menyatakan:

Hal ini dibolehkan untuk dokter laki-laki untuk melihat daerah aurat wanita untuk tujuan pengobatan, asalkan diminimalkan hanya daerah yang benar-benar membutuhkan pengobatan, untuk keperluan tersebut terbatas hanya kebutuhan yang sebenarnya. Jika bagian-bagian pribadi membutuhkan pengobatan, maka perempuan harus melakukan pengobatan, seperti melihat seseorang dari jenis kelamin yang sama kurang dari yang jahat. (Radd al-Muhtar, 5/261).

Di atas adalah penjelasan komprehensif melihat Aurat seorang wanita. Luasnya Awra berbeda dari satu kesempatan ke yang lain dan dari satu orang ke orang lain. Seluruh konsep dan gagasan di balik ini adalah bahwa Islam menginginkan umatnya untuk hidup yang suci dan bebas dari segala jenis korupsi atau imoralitas. Ini adalah dasar bagi setiap masyarakat yang sehat dan murni. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang lurus, dan bahwa kita mampu untuk bertindak atas perintah dari Syariah dengan cara yang paling menyenangkan bagi Allah SWT.

Dan Allah Maha Tahu yang terbaik

Itulah penjelasan rinci masalah aurat yang dijelaskan dalam lingkup mazhab Hanafi yang dijelaskan oleh penulisnya. Guna memperluas kajian berikut ini kami sediakan daftar link-link terkait dengan masalah aurat:

Perbedaan Batasan Aurat Menurut 4 Mazhab

Batasan Aurat Mazhab Syafi’i

Batasan Aurat wanita dan Pria

Fikih Aurat 4 Mazhab

Doa Setelah Shalat Tarawih

Shalat Tarawih atau qiyamulail pada bulan Ramadhan merupakan salah satu amalan sunnah sebagai tambahan ibadah di bulan yang di berkati ini. Sudah menjadi budaya bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid-masjid atau mushola. Ini adalah budaya yang merupakan bid’ah hasanah yang pertama kali dipelopori oleh Umar Bin Khatab.
Dari ‘Abdurrahman Al Qari, dia berkata, “Pada sebuah malam Ramadhan, aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khattab radhiyallaahu’anhu ke masjid. Orang-orang ternyata terpecah berkelompok-kelompok. Ada seorang laki-laki yang shalat sendirian. Ada pula yang shalat sendirian. Ada pula yang shalat sendirian kemudian beberpa orang mengikutinya. ‘Umar lalu berkata, “Sungguh aku mempunyai pandangan seandainya kukumpulkan mereka di bawah satu pembaca (imam), niscaya akan lebih baik.’ Dia (‘Umar) kemudian bertekad dan menyatukan mereka di belakang Ubay bin Ka’b. Pada suatu malam yang lain, aku keluar bersamanya di mana orang-orang sedang shalat bersama imam mereka. ‘Umar berkata, “ini adalah sebaik-baik bid’ah. Adapun yang tidur pada saat ini lebih baik daripada yang sedang shalat-maksudnya, mengerjakannya di akhir malam lebih baik-karena saat itu orang-orang mengerjakannya pada awal malam. (Shahih: {Mukhtashar Shahih Al Bukhari no.986} {Muwaththa’ oleh Imam Malik (85, no.247). Sahih al bukhari (fat-hul baari) (IV/250, no.2010)).
Selain melakukan shalat tarawih, khususnya di Indonesia juga telah membudaya melakukan doa secara bersamaan setelah shalat tarawih  maupun saat di sela-sela pergantian shalat. Doa yang biasanya diucapkan yaitu:
أشهد أن لا إله إلا الله، وأستغفر الله أسألك الجنة، وأعوذ بك من النار
Namun menurut beberapa sumber, doa ini tidak memiliki dalil yang shahih. Doa ini berdasarkan dari sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah sendiri berkomentar: Andaikan shahih bisa menjadi dalil. . Sanad hadis ini dhaif karena adanya perawi Ali bin Zaid bin Jada’an. 
Adapun doa setelah Tarawih yang memiliki dalil yang shahih yaitu:
Doa yang dibaca setelah shalat witir sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:
 عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ وَيَقُولُ يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا 
 “Dari Ubay bin Kaab ia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam dalam sholat witir (pada rakaat pertama) membaca Sabbihisma Rabbikal A’la dan pada rakaaat kedua membaca Qul yaa Ayyuhal Kaafiruun dan pada rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad, beliau tidak melakukan salam kecuali pada rakaat terakhir. Dan setelah salam beliau mengucapkan: 
Subhanal malikil quddus, tiga kali.” (HR. Nasa’i No 1683)
Sesuai hadits riwayat Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan al-Nasa-i, dari Ali ra.  bahwasanya Nabi Saw biasa membaca doa pada akhir shalat Witir-nya dengan bacaan doa sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوْذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِىْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan dengan keridlaanMu dari kemurkaanMu; Aku mohon perlindungan dengan pengampunanMu dari siksaanMu; Aku berlindung kepadaMu dari Mu; Aku tidak menghitung pujian atasMu Sebagaimana Engkau telah memuji atas diriMu sendiri”.
Al-Nasa-i dalam kitabnya “Matn ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah” meriwayatkan hadits mengenai do’a setelah shalat Witr tersebut dari ‘Ali ra., ia berkata: “Aku pernah bermalam dengan Rasulullah Saw pada suatu malam, maka aku mendengar Nabi Saw apabila selesai mengerjakan shalat Witr, ia merebahkan badannya sambil membaca doa tersebut”.(Al-Nasa-i, Matn ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, 261. Hadits tersebut juga di muat di berbagai kitab di antaranya Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad,Vol.I, 88. Dan Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Vol.I, 166.)
wallahu a’lam
(sumber: Asssunah@yahoogroup, konsultasisyariah.com, ad-dai.blogspot.com)