Sekilas Kedokteran Ibnu Sina Era Islam Klasik

Ilmu kedokteran terus berkembang seiring zaman. Dalam beberapa artikel sebelumnya dibahas bagaimana institusi layanan kesehatan, yang disebut bimaristan banyak dikembangkan oleh penguasa kerajaan Islam. Anda bisa cermati tautan berikut seputar sejarah pembangunan bimaristan dan sistem pelayanannya.

Sekilas Pendidikan Kedokteran Era Islam Klasik

Bimaristan didirikan untuk kebutuhan publik. Ahmed Ragab dalam bukunya The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion, and Charity mencatat bahwa kebanyakan bimaristan dibangun pemerintah dengan akad wakaf. Pemberi wakaf ini berasal dari kalangan sultan atau saudagar kaya.

Dalam dokumen-dokumen wakaf yang dianalisis oleh Ahmed Ragab, rupanya perwakafan bimaristanpada masa Islam klasik, selain mendokumentasikan akad wakaf, juga menyertakan hal-hal penting yang patut diperhatikan para pengelola bimaristan.

Dalam kasus Bimaristan al Mansuri di Baghdad misalnya, selain untuk pengembangan infrastruktur, wakaf bimaristan ini mesti digunakan untuk pelayanan publik, serta anggaran yang disalurkan melalui lembaga-lembaga amal dan badan wakaf terkait mesti digunakan untuk kesejahteraan pasien dan para tenaga kesehatan.

Nah, di samping soal pengelolaan dan pelayanan, pengajaran ilmu kedokteran merupakan salah satu hal yang dimandatkan dalam dokumen wakaf bimaristan. Sebagaimana dicatat Ahmed Ragab, bimaristan al Mansuri mesti mengangkat guru-guru (syeikh) yang mampu mengajarkan ilmu pada “siswa-siswa kedokteran”.

Kendati tidak terdapat keterangan pasti bagaimana alur administratif bagaimana seorang dokter diberikan mandat menjadi syeikh atau guru oleh pengelola bimaristan atau pemerintah, syeikh ini adalah pakar yang disegani di rumah sakit berkat pengalaman dan keilmuannya.  Sebagai contoh, setelah meresmikan Bimaristan al Mansuri, khalifah al Mansur mengangkat Ibnu Abi Hulayqah untuk menduduki jabatan pengajar di bimaristan tersebut.

Para pengajar ini biasa membagi murid-murid dalam beberapa kelompok, seperti dicatat Ahmed Ragab, semisal dalam kelompok khusus bedah, khusus pengobatan mata, pengobatan tulang, serta peracikan obat. Dalam kelompok-kelompok belajar ini, para murid akan mempelajari dan mengingat hal-hal yang dibutuhkan dalam profesi mereka.

Biasanya, beberapa murid akan membaca suatu buku kanon kedokteran di hadapan seorang syeikh, lantas hasil bacaan ini dijelaskan dan didiskusikan oleh guru bersama para muridnya. Ibnu Abi Usaibiah dalam ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’ pernah mencatat bagaimana seorang dokter senior membimbing para pelajar kedokteran sepertinya dan staf medis lain di Bimaristan al Nuri. Model membaca di depan guru ini tidak lepas dari tradisi literasi qira’ah ‘ala syeikh yang marak kala itu, seperti dalam sistem kajian hadis dan filsafat.

Buku kanon yang mereka kaji merujuk pada karya-karya yang beredar di daerah Baghdad. Konon hal ini menyebabkan standar operasional yang dipakai oleh banyak bimaristan mengacu pada model bimaristan di Baghdad. Karya Al Razi yang berjudul Al Hawi, karya Ibnu Sina Al Qanun fi Al Tib, serta karya-karya murid mereka yang menjadi buku syarah, adalah sebagian kecil di antara bahan dan pedoman pembelajaran.

Selain membaca dan berdiskusi, para guru melakukan pengawasan bagaimana mestinya murid-murid ini bekerja. Barangkali seperti sistem pendidikan profesi di masa sekarang, para pelajar dihadapkan langsung pada masalah-masalah klinis.

Pendidikan dengan metode seperti dipaparkan di atas, disimpulkan oleh Ahmed Ragab mampu membentuk suatu cara pandang yang khas mengenai peranan dokter, cara mereka berpraktek dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain juga pasien mereka.

Pada akhir pendidikan, para murid ini mendapatkan rekomendasi dan ijazah untuk melakukan pengajaran atau praktek kedokteran. Ahmed Ragab mengutip dari Tarikh Ibn Furat mengenai bagaimana jika murid kedokteran telah menyelesaikan pendidikannya:

“…li-yuqaal li-kullin min thalabatihi idza syuri’a fi ijazatihi wa tazkiyatihi, la-qad ahsana shaykhuhu alladzi ʿalayhi taaddab

“…(Seorang syekh mesti mengajar pada muridnya), sehingga ia berkata pada setiap muridnya ketika telah diperkenankan atas ijazah (rekomendasi) bahwa gurunya ini – yaitu sang syeikh – telah melaksanakan pendidikan dengan baik…”

Keterangan seputar akhir pengajaran kedokteran di atas, kalimatnya menggunakan diksi taaddab, yang dalam bahasa inggrisnya adalah cultured yang berarti “membudayakan” atau “mendidik”. Dapat dipahami dari pilihan kata tersebut, bahwa pembelajaran kedokteran di masa itu – hingga masa sekarang, di samping keterampilan praktis dan klinis, pendidikan karakter dan moral adalah hal yang begitu ditekankan dalam pendidikan kedokteran.

Agaknya demikianlah ilmu kedokteran diajarkan, dari masa ke masa. Tidak hanya ilmu dan keterampilan, namun juga menempa perilaku. Wallahu a’lam.

Kolaborasi Kemandirian Vaksin Negara-Negara Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bandung – Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE) di bidang vaksin dan produk biologi di antara negara-negara OKI, dinilai memiliki leading role dalam mendorong kerja sama terkait ketersediaan dan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan obat termasuk vaksin yang aman, berkhasiat dan bermutu, serta terjangkau bagi rakyat di negara anggota OKI. Karena itu, pada November 2018, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Pengawas Obat Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jakarta. 

Kamis (25/07), Badan POM menggelar acara Sosialisasi Hasil Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara-Negara OKI di Aston Pasteur Bandung. Acara yang berlangsung selama dua hari ini dibuka langsung oleh Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. 

“Tahun lalu, kita sukses menjadi tuan rumah Pertemuan Pertama OKI pada tanggal 21–22 November 2018 lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI, yang perlu kita tindak lanjuti,” ujar Kepala Badan POM. “Indonesia sebagai penggagas pertemuan dan tuan rumah tentu memiliki tanggung jawab moral atas tindak lanjut hasil pertemuan dan kesinambungan forum Otoritas Pengawas Obat negara anggota OKI tersebut,” lanjutnya.

Melalui pertemuan hari ini, Badan POM mengajak seluruh pihak, yaitu para pemangku kepentingan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk saling mendukung dan bahu-membahu melakukan langkah nyata dalam upaya implementasi hasil pertemuan OKI yang strategis ini, guna meningkatkan peran strategis Indonesia dalam forum OKI, mendorong kerja sama antar negara anggota OKI melalui kerja sama teknis dan program perkuatan kapasitas serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI. 

Dalam rangkaian acara ini, Kepala Badan POM berkesempatan menyerahkan Laporan Lengkap Pertemuan Pertama OKI kepada tujuh perwakilan kementerian/lembaga diantaranya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Sekretariat Kabinet dan Bea Cukai. Selain itu juga diserahkan plakat ppresiasi atas dukungan pertemuan OKI kepada Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia dan 22 Pelaku Usaha.

“Saya mengundang Bapak/Ibu yang hadir pada hari ini untuk berdiskusi, memberikan masukan terkait rencana implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI,” ujar Kepala Badan POM. “Mari kita bersinergi untuk meningkatkan peran strategis Indonesia. Peningkatan kerja sama Indonesia dalam Forum OKI akan meningkatkan peran strategis Indonesia serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI.” tutup Kepala Badan POM. 

Pemimpin yang Meminta Nasihat

Seorang pemimpin yang bijak ialah yang tak segan meminta nasihat
Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Umar bin Abdul Azis telah memberikan keteladanan yang sangat mulia kepada kita, khususnya bagi para pemimpin umat sepeninggalnya. Hal tersebut ia contohkan ketika usai dilantik menjadi pemimpin kaum Muslimin. Setelah diangkat menjadi khalifah, dengan penuh rendah hati beliau mengirimkan surat kepada seorang ulama terkemuka, Hasan Al-Basri. Dalam suratnya itu, beliau meminta nasihat agar dapat menunaikan kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.

Dalam surat balasannya, Imam Hasan Al-Basri memberikan beberapa nasihat yang berharga, penuh kebijaksanaan, dan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah. Beliau menulis: Wahai, Amirul Mukminin, dalam segala apa yang telah dikuasakan Allah kepada engkau, janganlah sekali-kali berlaku khianat dan berbuat sewenang-wenang serta menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggunganmu.

Tentu kita bertanya, mengapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Ummayah itu mau melakukan tindakan yang belum pernah dilakukan para pemimpin pendahulunya?

Jawabnya, karena ia meyakini dan mengamalkan sepenuhnya hadis Nabi Muhammad saw: Siapa saja yang telah diberikan Allah amanat untuk memimpin dan ia tidak saling menasihati, maka ia tidak akan mencium wanginya surga. (HR Bukhari).

Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah saw juga bersabda: Sesungguhnya Allah meridlai kamu sekalian, jika saling memberi nasihat kepada orang yang telah diberi amanat untuk mengurusi segala urusan kalian. (HR Muslim).

Kenyataan sejarah tersebut, bertolak belakang dengan apa yang banyak terjadi dewasa ini. Para pemimpin yang telah diberi amanat untuk memimpin, seakan terlena dengan jabatan prestisius yang tengah didudukinya. Sehingga, jarang sekali kita temukan dari mereka yang mau berbuat seperti yang telah dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Pada dasarnya, para pemimpin itu wajib kita taati selama mereka berpijak pada kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, kita juga harus mengingatkan mereka takkala melakukan kekeliruan atau kesalahan. Untuk itu, guna menghindari terjadinya kesalahan dalam bertindak, para pemimpin hendaknya mau berkonsultasi atau meminta nasihat terlebih dahulu kepada orang yang dianggap alim dan bijaksana, para ulama.

Tampaknya pelajaran dari keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu yang perlu kita hayati. Bahwa, meminta nasihat kepada orang-orang alim dan saleh atau ulama merupakan perbuatan mulia dan sesuai dengan prinsip pokok ajaran Islam, yaitu saling menasihati. Sebagaimana sabda Nabi saw: Agama Islam itu adalah nasihat. (HR Muslim).

Dengan kata lain, meminta nasihat bukanlah suatu tindakan yang menghinakan diri atau menjadikan seseorang rendah diri, melainkan hal tersebut cerminan dari budi pekerti yang mulia. Sedangkan bagi para pemimpin, meminta nasihat merupakan suatu tindakan kehati-hatian dalam menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, juga menandakan optimalisasi kinerja yang dinamis.

Hal ini hendaknya menjadi perhatian para elite politik yang tengah berlomba-lomba menuju tampuk kekuasaan. Dengan demikian, pemimpin bangsa di masa depan adalah mereka yang mengutamakan kebaikan dan umat, bukan kepentingan duniawi dan pribadi.

KH. Muntaha Al Hafidz, Penjaga Wahyu dari Kalibeber

KH. Muntaha adalah putra KH. Asy‘ari bin KH. Abdurrahim bin Kyai Muntaha bin Kyai Nida Muhammad. Ibunya bernama Hj. Syafinah. Beliau lahir pada 9 Juli 1912 di Kelurahan Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan wafat pada hari Rabu, 29 Desember 2004 dalam usia 92 tahun. Sampai akhir hayatnya KH Muntaha pernah mempersunting lima orang istri, yaitu Ny. Hj. Saudah dari Wonokromo Wonosobo, Ny. Hj. Maryam dari Parakan Temanggung, Ny. Hj. Maijan Jariyah Tohari dari Kalibeber, Ny. Hj. Hinduniyah dari Kalibeber Mojotengah, dan Ny. Hj. Sahilah dari Munggang Mojotengah.

KH. Muntaha menuntaskan hafalan Al-Qur’an saat berumur 16 tahun di Pondok Pesantren Kauman, Kaliwungu, Kendal di bawah asuhan KH. Utsman (Mertua KH. Asror Ridwan). Setelah selesai menghafal Al-Qur’an di Pesantren Kaliwungu beliau lalu memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak asuhan KH. Munawwir ar-Rasyad. Selanjutnya KH. Muntaha berguru kepada KH. Dimyati di Termas, Pacitan, Jawa Timur.

Alkisah, saat usia beliau masih belia, beliau berangkat menuntut ilmu ke Pesantren Kauman, Kaliwungu, Pesantren Krapyak, Jogja dan Pesantren Termas Pacitan, beliau tempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Melakukan riyadhah demi mencari ilmu semacam itu dilakukannya dengan niatan ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu. Di setiap melakukan perjalanan menuju Pesantren, KH. Muntaha selalu memanfaatkan waktu sambil mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an saat beristirahat untuk melepas lelah. Kisah ini menunjukkan betapa kemauan keras dan motivasi spiritual tinggi dimilikiny dalam mencari ilmu.

Pada tahun 1950 beliau kembali ke Kalibeber untuk melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Al-Asy‘ariyyah. Berbagai ide KH. Muntaha terimplementasikan selama memimpin Pondok. Ide dibidang pendidikan tampak dengan munculnya berbagai unit pendidikan, antara lain Taman Kanak-Kanak Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, Madrasah Diniyah Ulya, Sekolah Madrasah Salafiyah Al-Asy‘ariyyah, Tahfizdul Qur’an, SMP Takhassus Al-Qur’an, SMU Takhassus Al-Qur’an, SMK Takhassus Al-Qur’an, dan Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ).

KH. Muntaha adalah penggagas ditulisnya Mushaf Al-Qur’an Akbar Wonosobo, yang dua di antaranya kini menjadi koleksi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Ia juga membentuk “Tim Sembilan” untuk menyusun tafsir tematik yang diberi judul “Tafsir Al-Muntaha”.

Di bawah kepemimpinan Mbah Muntaha inilah, Al-Asy’ariyyah berkembang pesat. Berbagai kemajuan signifikan terjadi masa ini. Dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, KH. Muntaha adalah pribadi yang bersahaja. Mbah Muntaha sangat sayang kepada keluarga, santri dan juga para tetangga, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Kecintaan KH. Muntaha terhadap Al-Qur’an berawal dari kecintaan ayahandanya, KH. Asy’ari terhadap Al-Qur’an. Dalam usia relatif muda yakni 16 tahun, KH. Muntaha telah menjadi seorang hafidz (orang yang hafal) Al-Qur’an. Sebenarnya gelar bagi penghafal Al-Quran adalah Al-Hamil tapi entah sejak kapan di Indonesia gelar bagi penghafal al-Quran adalah Al-Hafidz. Wallahu A’lam.

Hampir seluruh hidup Mbah Muntaha didedikasikan untuk mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilai Al-Quran kepada para santrinya dan pada masyarakat umum. Dalam kesehariannya, Mbah Muntaha selalu mengajar para santri yang menghafalkan Al-Qur’an. Para santri selalu tertib dan teratur satu per satu memberikan setoran hafalan kepada KH. Muntaha.

Sepanjang hidup Mbah Muntaha, Al-Qur’an senantiasa menjadi pegangan utama dalam mengambil berbagai keputusan sekaligus menjadi media bermunajat kepada Allah Swt. Mbah Muntaha tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an. Sering Kiai Muntaha membaca wirid atau membaca ulang hafalan Al-Qur’an di pagi hari seraya berjemur di serambi rumahnya. Menurutnya, wirid dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Itulah sebabnya, KH. Muntaha selalu menasehati para santrinya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an paling tidak seminggu sekali.

Kecintaan KH. Muntaha terhadap Al-Qur’an juga diwujudkan melalui pengkajian tafsir Al-Qur’an, yakni dengan menulis tafsir maudhu’i atau tafsir tematik yang dikerjakan oleh sebuah tim yang diberi nama Tim Sembilan. Tim Sembilan terdiri dari sembilan orang ustadz di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah dan para dosen Institut Ilmu al-Quran (sekarang UNSIQ) Wonosobo. Gagasan KH. Muntaha tentang penulisan tafsir ini mengandung maksud untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada masyarakat luas.

Puncak realisasi kecintaan KH. Muntaha terhadap Al-Qur’an ditunjukkan dengan perealisasian ide penulisan Mushaf Al-Quran 30 juz dalam ukuran raksasa. Seperti yang dikutip dari situ resmi NU, KH. Muntaha pernah menggagas hal fenomenal, yakni membuat mushaf Al-Quran Akbar (raksasa) dengan tinggi dua meter, lebar tiga meter dan berat satu kuintal lebih.

Sebuah karya maha agung yang sempat dikala itu diusulkan masuk ke Guiness Book Of Record. Al-Qur’an akbar yang kertasnya merupakan bantuan dari Menteri Penerangan (H. Harmoko dikala itu) tersebut ditulis oleh dua santri beliau yang juga mahasiswa IIQ, yaitu H. Hayatuddin dari Grobogan dan H. Abdul Malik dari Yogyakarta. Ketika penulisan Al-Qur’an Akbar itu selesai, Al-Qur’an itu pun diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia di Istana Negara.

KH.  Muntaha juga tidak henti-hentinya menasehati anggota Hufadz wa Dirasatal Quran (JHQ) untuk senantiasa memasyarakatkan Al-Qur’an. Hal itu dilakukan karena KH.  Muntaha melihat banyak orang Islam telah meninggalkan Al-Qur’an, atau bahkan sama sekali tidak mau membaca Al-Qur’an. Dakwah serupa juga selalu Mbah Muntaha sampaikan saat beliau berkunjung ke berbagai belahan dunia seperti Turki, Yordania, Mesir dan lain sebagainya.

Dari hal-hal yang sudah disebutkan, menjadi jelas bahwa sosok dan pribadi KH. Muntaha Al-Hafidz adalah sosok yang sangat mencintai Al-Qur’an secara fisik maupun batin. Seluruh hidupnya diperuntukkan untuk berdakwah menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an ke masyarakat. Kecintaan KH. Muntaha Al-Hafidz terhadap Al-Qur’an tak dapat diragukan lagi.

Hampir seluruh usianya dihabiskan untuk menyebarkan dan menghidupkan Al-Quran.

Sanad Tahfidz KH. Muntaha: KH. Muntaha dari

  • KH. Utsman Kaliwungu/KH. Munawwir Krapyak/KH. Muhammad Dimyati Termas,
  • dari Abdul Karim bin Abdul Badri,
  • dari Isma‘il Basyatie,
  • dari Ahmad ar-Rasyidi,
  • dari Mustafa bin Abdurrahman,
  • dari Syekh Hijazi, dari Ali bin Sulaiman al-Mansuri,
  • dari Sultan al-Muzani,
  • dari Saifuddin Ata’illah al-Fudali,
  • dari Syahadah al-Yamani,
  • dari Nasruddin at-Tablawi,
  • dari Imam Abi Yahya Zakariya al-Mansur,
  • dari Imam Ahmad as-Suyuti,
  • dari Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Mansur bin al-Hizrami,
  • dari Abu Abdullah Muhammad bin Abdul-Khaliq,
  • dari Abu al-Hasan Ali bin Suja‘ bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbasi,
  • dari Abu al-Qasim asy-Syatibi as-Syafi‘i,
  • dari Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Huzail,
  • dari Abu Dawud Sulaiman Ibnu Majah al-Andalusi,
  • dari Abu Umar Utsman Sa‘id ad-Dani,
  • dari Abu al-Hasan Tahir,
  • dari Abu al-Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani,
  • dari Abu Muhammad Ubaid bin Asibah bin Sahib al-Kufi,
  • dari Abu Umar Hafsbin Sulaiman bin al-Mugirah al-Asadi al-Kufi,
  • dari Asim bin Abi Najud al-Kufi,
  • dari Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Habib Ibnu Rabi‘ah as-Salam,
  • dari Utsman bin Affan/Ali bin Abi Talib/Zaid bin Sabit/Abdullah bin Mas‘ud/Abu Bakar/Umar bin al-Khattab,
  • dari Rasulullah saw., dari Allah swt. melalui perantara Jibril as.

Banyak Santri-santri KH. Muntaha yang menjadi tokoh/Ulama di daerahnya masing-masing, diantaranya yaitu: KH. Mufid Mas‘ud (PP Sunan Pandanaran, Yogyakarta), KH. Umar Bantul, KH. Syakur Brebes, KH. Sholihin Pekalongan, KH. Musta‘in Malang, KH Luthfi Cilacap, KH. Nidhomuddin Asror Kendal, KH. Hubullah Cirebon, KH. Abdul Halim Wonosobo, KH. Ahmad Ngisom Banjarnegara, dan KH. Yasin Pati.

Ekspansi Padi Dalam Islam

Padi adalah tumbuh-tumbuhan sejenis rerumputan yang menghasilkan makanan pokok. Ia menghasilkan gabah yang dapat diproses menjadi beras. Beras dapat dimasak jadi nasi, lontong, ketupat, bubur, bahkan bisa juga menjadi tepung yang dapat dibuat peyek, kerupuk, dan lain-lain.

Orang suka makan transformasi padi. Tidak suka makan padi, gabah, atau beras. Begitulah gambaran memahami agama dengan arif yang telah dilakukan para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, Imam madzhab, para wali dan para ulama hingga sekarang.

Dasar pengambilan hukum Islam adalah teks Alquran dan hadits. Ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi itu turun ada sebab-sebabnya (konteks). Konteks sangat terkait dengan waktu, tempat, dan situasi. Lantas bagaimana kita berhukum di era digital ini?, apa semua teks-teks itu bisa kita aplikasikan seluruhnya sesuai konteks masa lalu?. Tentu sangat tidak mungkin. Di sinilah kemudian muncul dalil aqli.

Penggabungan dalil naqli dan aqli secara berimbang itulah kita bisa mengambil hukum secara Arif. Jadi, urutannya menjadi Alquran, hadits, dan rasio. Rasio orang memahami teks itu bisa kolektif bisa sporadis. Rasio kolektif menghasilkan keputusan bersama (ijma’ ulama), sedangkan rasio sporadis menghasilkan dalil qiyas (analogi). Di sinilah kemudian pengambilan hukum Islam itu menggabungkan empat dalil tersebut, yakni Alquran, hadits, ijmak, dan qiyas.

Contoh, kewajiban membayar zakat fitrah menggunakan ayat dan hadits umum yang sangat sulit diaplikasikan di Indonesia dan negeri negeri lain. Rosulullah membayarnya dengan kurma, gandum, atau sair (sejenis gandum).

Melihat yang demikian inilah Imam Syafi’i menggunakan dalil qiyas menjadi makanan pokok. Kita pun membayarnya dengan beras. Pertanyaannya apakah dalil qiyas ini mengingkari teks Alquran dan hadits?. Jawabannya tentu tidak. Sebab membayar zakat itu perintah Allah dan Rasulullah. Membayarnya tidak seperti Rasulullah tetapi menggunakan dalil qiyas.

Namun, pemikiran rasional yang bertolak dari teks ini sering dianggap sesat atau bid’ah oleh orang-orang yang memahami teks secara tekstualis dan formalistis. Inilah yang kemudian menjadikan kegaduhan masyarakat. Apakah makan padi, gabah, atau beras itu lebih baik dan enak dibandingkan makan nasi, bubur, lontong, ketupat, dengan pasangan peyek dan kerupuk. Apakah makan padi atau beras dengan kelapa itu lebih mudah dan enak dibanding dengan makan bubur yang diberi santan kelapa?. Tentu jawabnya tidak.

So, memahami agama harus dengan kecerdasan dan kearifan.Wallahu A’lam

Pesan Rasulullah SAW, Jangan Pernah Usir Kucing yang Mendekatimu!

Nabi Muhammad SAW juga memelihara kucing, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza.

Walau tak memelihara kucing, beberapa kita mungkin saja pernah didatangi oleh kucing waktu melakukan aktivitas, semisal saat tengah makan. Beberapa salah satunya mungkin memberi makan, tetapi sebagian lagi malah mengusir kucing itu lantaran dikira mengganggu.

Bila alami keadaan ini, jangan buru-buru untuk mengusir hewan yang paling disayangi Nabi Muhammad SAW itu.

Berpikirlah sesaat kenapa kucing itu mendatangi Anda serta bukanlah orang lain yang juga tengah menyantap makanan sama? Tahukah Anda kalau kucing yang datang itu nyatanya membawa ‘pesan’ atau sinyal?

Kehadiran kucing adalah tandanya kalau Allah SWT mengingatkan kita mengenai inti berikan.

Semuanya rejeki yang kita peroleh tidaklah seutuhnya hak kita. Ada hak-hak orang lain yang semestinya kita mengeluarkan. Seperti zakat fitrah serta zakat harta yang harus di keluarkan sebagai rukun islam yang perlu dipenuhi.

Dalam konteks kucing yang datang waktu makan, mengingatkan kita kalau karunia Allah yang kita terima harus juga dibagi dengan makhluk lain seperti kucing. Berarti dalam makanan yang kita santap, nyatanya ada rejeki untuk kucing yang semestinya kita berikanlah.

Berikan makanan pada makhluk Allah termasuk juga kucing adalah satu kebaikan. Sesuai sama firmannya, Allah bakal melipat gandakan satu kebaikan dengan 10 kali lipat kebaikan yang lain.

Terutama jika kita memberi dengan ikhlas serta tak sangat terpaksa. Bila berbuat baik pada manusia, seorang sering inginkan ada balasan sama dari orang lain.

Tapi tak sekian bila manusia berbuat baik pada kucing. Hewan ini pasti tak dapat membalas apa yang telah kita berikanlah terhadapnya. Saat membagi makanan dengan hewan ini, manusia belajar bagaimana rasa-rasanya berikan dengan penuh keikhlasan.

Aksi berikut yang semestinya dikerjakan manusia saat berikan suatu hal pada orang lain. Allah tengah memberi tahu jika kita tak berikan makanan pada kucing itu, sesungguhnya kita tengah menampik rejeki baru yang bakal Allah berikanlah pada kita.

Fakta Buah Khuldi Yang Jarang Diketahui, Penyebab Adam Diturunkan ke Bumi

Bagi kita Umat Islam pasti sudah tidak asing lagi dengan buah khuldi, nama buah ini bahkan tertulis jelas dalam al-quran, dimana merupakan penyebab Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Namun Seperti apakah wujud dari buah tersebut? Hingga kini masih menjadi sebuah misteri yang mungkin hanya Allah, Nabi Adam dan Hawa lah yang tahu seperti apakah buah tersebut.

Namun ada beberapa pendapat yang menyatakan

bahwa buah tersebut juga sebenarnya ada di bumi, dan juga ada pula yang meyakini bahwa buah tersebut adalah anggur, apel, dan lain sebagainya. Namun sayangnya pendapat ini tidak bisa di buktikan nyatanya karena dalam Alquran sendiri tidak pernah mendeskripsikan wujud buah tersebut, namun meski demikian buah Khuldi ini memiliki fakta-fakta yang mungkin belum kamu ketahui.

Merupakan buah terlarang.

Seperti yang kita tahu meski di surga tersedia apapun, tapi Allah memberikan pengecualian bagi Adam dan Hawa dimana keduanya dilarang untuk mendekati pohon buah khuldi apalagi memakannya, namun karena terpedaya oleh iblis keduanya malah melanggar perintah Allah ini.

Nama Khuldi adalah pemberian iblis.

Sebenarnya allah sama sekali tidak menyebutkan nama jenis pohon terlarang tersebut, Namun nama khuldi sendiri diberikan oleh iblis yang waktu itu berniat menyesatkan adam dan Hawa.

Dimana dia mengatakan kepada Adam dan Hawa bahwa dia akan memberitahu tentang buah yang akan memberikan kerajaan yang tidak akan pernah binasa, akhirnya pun Nabi Adam tergoda dengan rujukan rayuan iblis, terlebih iblis juga mengatakan bahwa alasan mengapa dirinya dilarang mendekati pohon tersebut karena mereka berdua tidak diperbolehkan menjadi kekal, rupanya godaan tersebut menggoyahkan keimanan Adam dan Hawa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Buah yang membuat Nabi Adam ingin buang hajat.

Ketika Nabi Adam memakan buah tersebut, Nabi Adam merasakan sakit perut dimana sakitnya itu seperti orang ingin buang hajat, padahal lazimnya setiap penghuni surga tidak akan merasa kan hal itu. Surga sendiri merupakan tempat suci dan tidak layak digunakan untuk membuang kotoran, karna ini pula membuat nabi adam kebingungan.

Kemudian Allah berfirman “Di mana kau akan membuangnya? Di atas tempat tidur kah? Tahta? Sungai-sungai atau di bawah pepohonan? Apakah ada tempat yang pantas untuk itu? Maka, turun sajalah ke dunia.” dan itulah alasan mengapa Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi meski dosa-dosanya telah Allah maafkan.

Sifat buah khuldi.

Setelah Nabi Adam memakan buah khuldi ia bukan lagi menjadi manusia suci sebagaimana Penghuni Surga pada umumnya, ahli tafsir menyimpulkan bahwa buah tersebut berasal dari bumi dan sifat utamanya Yaitu dapat membuat manusia lupa diri.

Khuldi juga membangkitkan hawa nafsu ragawi yang telah melekat pada unsur tanah yang disebut (Lawamah), yang merupakan sifat-sifat tanah yang notabenenya berasal dari bumi.

Khuldi adalah cobaan dari Allah.

Meski tidak ada penggambaran yang nyata tentang rupa dan rasa buah tersebut, Namun, sejatinya Allah menciptakan buah ini untuk dijadikan sebagai cobaan bagi Adam dan istrinya.

Karena ketaatan kepada Allah adalah harga mati yang harus dimiliki oleh setiap hamba, meski demikian allah telah menggaris takdirkan bahwa manusia akan menjadi khalifah dimuka bumi bukan menjadi khalifah di surga.

3 Penemuan Sarjana Muslim yang Jadi Embrio Jam Waktu

Sarjana Muslim menemukan teori dasar penunjuk waktu.

Jam Dinding Besar Masjid Muhammad Alli
Jam Dinding Besar Masjid Muhammad Alli

Jam atau alat penunjuk waktu adalah salah satu penemuan penting pada masa peradaban Muslim pada Abad Pertengahan. Para ilmuwan, penemu, dan pengrajin membuat alat tersebut dengan sistem otomatis dan inovatif serta dengan melakukan analisis matematis terperinci.

Pada masa itu mereka telah mampu membuat jam yang rumit dan berusaha mengendalikannya secara otomatis untuk menunjuk waktu. Terdapat lima penemuan alat penunjuk waktu atau jam yang ditemukan pada Abad Pertengahan.

Karya Taqi al-Din Ibnu Ma’ruf, pada abad ke-16 misalnya. Dia menggunakan ilmu matematika dnegan merancang tiga tombol yang menunjukkan jam, detik menit. Pada jamnya dia menggabungkan penggunaan gerak, alarm, lonceng kereta api yang berbunyi setiap jam, hubungan visual matahari dan bulan, fase bulan yang berbeda dan perangkat yang menunjukkan waktu untuk azan.

Karya Taqi merupakan sebuah temuan dan kemajuan ilmu pengetahuain di Timur Tengah pada abad ke-16. Perangkatnya saat ini ditemukan pada jam yang kita gunakan saat ini di seluruh dunia. Berikut tiga embrio jam yang ditemukan ilmuwan Muslim:

  • Jam Air Mekanik. Ibnu al-Haytham yang hidup pada abad ke-10 M dikenal dengan terobosan penemuannya di bidang optik. Karya dia yang terkenal adalah Maqala fi ‘Amal al-Binkan atau dikenal dengan jam air mekanik. Dalam tulisannya dia menyebutkan secara rinci mengenai jam air.

Penemuan barunya ini telah mencantumkan jam dan menit yang tidak pernah ada pada jam lain sebelumnya. Ibnu al Haytham menggunakan teknologi inflow untuk mengendalikan jamnya. Teknologi ini dikenal di Kairo, Mesir sebelumnya. Penemuannya diadaptasi oleh insinyur Muslim al-Muradi, Ibnu Ridhwan al-Sa’ati, dan al- Jazari.

  • Automata al-Muradi. Deskripsi awal mengenai jam air ditemukan dalam buku rahasia al-Muradi berbahasa arab yang merupakan hasil karya abad ke-11 M. Buku ini membahas jam air dan perangkat lain yang menggunakan automata.

Risalah ini terdiri dari 31 model dimana lima model mirip dengan jam. Ada sembilan belas jam yang semuanya tercatat dalam perjalanan waktu dengan gerakan automata. Sayangnya satu-satunya manuskrip dari karya ini telah rusak dan tidak mungkin memahami dengan tepat cara kerja jam ini. Jam ini terkenal menggunakan merkuri sebagai pemberat dan untuk keseimbangan.

  • Jam Air Kastil al-Jazari. Pada abad ke-12, mesin jam pertama yang ditemukan ini pernah disebutkan dalam sebuah risalah mekanik al-Jami bayn al ‘Ilm wa I ‘amal al Nafi fi Sinaát al-Hiyal (Sebuah kompendium tentang teori dan praktik seni mekanik).

Karya ini merupakan sebuah jam air monumental yang dikenal dengan castle clock (jam air kastil). Jam air kastil adalah salah satu jam termegah yang disebutkan dalam buku al-Jazari. Rincian konstruksi dan operasinya dijelaskan dalam 10 bagian dari bab pertama kategori I dari risalah tersebut.

Chacha Frederica Berencana Membangun Pesantren

Usai berhijrah, Wynne Frederica terus memperdalam ilmu agama.

Tak hanya rajin ikut kajian dan pengajian dari masjid ke masjid, artis yang beken dengan nama Chacha Frederica ini berencana mendirikan pesantren.

Perempuan kelahiran 8 November 1989 yang genap satu tahun berhijab ini berkeinginan membangun pesantren di kota besar, seperti Jakarta dan Semarang. Dia punya alasan: masyarakat di kota besar membutuhkan tempat untuk mencari dan memperdalam ilmu agama, salah satunya di pesantren.

Meski begitu, Chacha tidak ngotot harus mendirikan pesantren di kota besar. Tidak menutup kemungkinan, lokasi pondok pesantren yang ia ingin bangun ada di luar kota besar. “Sebenarnya, bangun pesantren di mana saja kan, boleh,” katanya.

Tentu, tak semudah membalikkan telapak tangan. Chacha bilang, butuh modal besar untuk membangunnya. Untuk itu, ia berharap mendapat rezeki lebih untuk merealisasikan rencana tersebut. Misalnya, bekerjasama dengan orang lain.

Makanya, wanita berdarah gado-gado Belanda-Tionghoa-Jawa ini belum bisa memastikan kapan waktu untuk mewujudkan keinginannya membangun pesantren itu. Saat ini, dia sedang mengumpulkan modal, baik dana maupun ilmu. Namun, ia penuh harap, pembangunan pesantren segera terealisasi.

Sebelum mewujudkan keinginan mulia tersebut, dalam waktu dekat Chacha akan membuka kelas tajwid dan tahsin di tempat tinggalnya. Awalnya, ia ingin membuka kelas yang lebih besar.

Tapi, gurunya meminta cukup memulai dengan kelas kecil dulu, sekitar 15–20 orang. Nah, kelas tajwid dan tahsin ini menjadi salah satu bekal Chacha untuk membangun pesantren kelak.

Menurut Chacha, anak-anak muda zaman sekarang lebih keren, karena mereka mau belajar agama di luar ilmu bisnis. “Kalau anak pesantren bisa saja jadi menteri, tetapi kalau businessman belum tentu bisa jadi anak pesantren,” ujarnya.

Daya Pikat Sekolah Islam

Apa saja daya pikat sekolah Islam yang saat ini mengalami kemajuan pesat?

Perkembangan mendasar dalam kehidupan keagamaan di Indonesia kontemporer adalah kemajuan pesat sekolah Islam. Daya pikatnya terletak pada tata kelola profesional dan pengembangan budaya sekolah Islami dan bermutu.

Sungguh mengejutkan, fenomena baru ini nyaris luput dari perhatian publik. Minimnya perhatian publik disebabkan dua hal. Pertama, kerja di lintasan pendidikan merupakan arus bawah yang sunyi dari jepretan kamera.

Perubahannya sangat pelan sehingga orang yang hanya melihat sekelebatan tidak mampu menangkap denyut perubahan itu. Kemungkinan kedua, perhatian publik tengah tertuju pada pergumulan politik yang menguras energi dan pikiran.

Terlepas dari dua hal itu, bukan sikap bijak bila kita mengabaikan pendidikan karena ia bersentuhan dengan hajat hidup publik.

Dalam dua dasawarsa terakhir, bangsa Indonesia memasuki era politik yang melahirkan cara berpikir sarwa politik. Imbasnya, bidang lain yang tidak bersentuhan dengan politik pun disangkutpautkan dengan politik, tidak terkecuali pendidikan.

Singkat kata, pendekatan politik telah merasuki alam pikiran sedemikian rupa sehingga inovasi sekolah Islam ini pun kemudian ditafsirkan sebagai menguatnya radikalisme Islam yang layak diwaspadai.

Menafsirkan kemajuan pendidikan Islam sebagai perluasan dan penguatan radikalisme ataupun populisme Islam, bukan sudut pandang yang tepat. Apabila cara pandang ini terus dipegang, tentu kontraproduktif dan menyesatkan.

Untuk mengurai itu, diperlukan sudut pandang baru, yakni teropong sosio-historis. Dengan teropong ini, suatu dinamika dilihat dari dimensi internalnya, baik sinkronis maupun diakronis, melalui mata rantai sejarah dan fase perubahan sosial umat Islam.

Secara hipotetik dapat dirumuskan, ciri menonjol sekolah Islam ‘baru’ adalah secara institusional memilih pola sekolah sehari penuh dan pola berasrama, tata kelola profesional, mengembangkan budaya sekolah unggul dan Islami.

Selain itu, mutu akademik tinggi, pendidikan agama bukan hanya text book melainkan melalui pembiasaan, dan pengajaran tahsin-tahfid Alquran dilakukan penuh kegembiraan. Wajah sekolah Islam model baru inilah yang menjadi daya tarik publik.

Khususnya, bagi kelas menengah santri yang tengah tumbuh. Mereka menginginkan buah hatinya memiliki kemampuan akademik tinggi sekaligus memahami dan meresapi ajaran Islam, serta memiliki hafalan Alquran minimal satu juz sampai 30 juz.

Perkembangan baru pendidikan Islam kontemporer ini tentu membingungkan para analis sosial.

Perubahan yang berlangsung selama itu, tandas Karel A Steenbrink (1994:103), merupakan suatu proses penyesuaian diri sistem pendidikan asli Indonesia (baca: pesantren) kepada sistem pendidikan Barat.

BJ Boland (1985: 120) menyebut adanya krisis pesantren (baca: sekolah Islam) yang tidak mampu mengikuti derap langkah pendidikan Barat. Tesis Steenbrink dan Boland merupakan simpulan atas pengamatan saksama situasi pendidikan Islam dekade 1970-an.

Artinya, hal itu tepat untuk memotret situasi pada masanya, tetapi sudah tidak relevan lagi untuk membaca situasi pendidikan Islam kontemporer. Untuk memudahkan memahami konteks perbedaan waktu, perlu pembabakan sejarah yang dikenal periodisasi.

Pembabakan sejarah, berdasarkan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Dalam Negeri tahun 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah.

SKB ini pengakuan pemerintah bahwa madrasah, yang mengajarkan sekurang-kurangnya 30 persen mata pelajaran umum, disetarakan dengan sistem sekolah. Jadi, pendidikan Islam (baca: madrasah) terintegrasi, bukan lagi anak tiri, dalam sistem pendidikan nasional.

SKB menjadi titik yang membedakan tema dan orientasi pengembangan pendidikan Islam. Tema yang mengemuka sebelum SKB adalah ‘konvergensi’ dan ‘integrasi’ antara ilmu agama dan ilmu umum.

Meminjam istilah Steenbrink, periode ini ditandai dengan proses penyesuaian diri sistem pendidikan asli Indonesia (baca: pesantren) kepada sistem pendidikan Barat, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah Islam.

Dengan SKB ini, orientasi pengembangan pendidikan Islam untuk mengintegrasikan diri dalam sistem pendidikan nasional tercapai. Namun, ini tidak menyurutkan pelaku pendidikan Islam untuk mengembangkan diri.

Pasca-SKB, terjadi perubahan tema pengembangan pendidikan Islam, dari orientasi ‘integrasi’ kepada ‘pencarian jati diri’, suatu upaya menemukan ciri khas pendidikan Islam di tengah-tengah taman pendidikan nasional. Perubahan ini berimplikasi pada perubahan strategi gerakan dari pola sentripetal ke sentrifugal

Dalam gerakan sentripetal, orientasi pengembangan pendidikan menuju pada pusat lingkaran (baca: sistem sekolah/pendidikan nasional). Dalam pola ini, orientasi pengembangan pendidikan Islam cenderung monoton dan bergerak ke satu arah, yakni sistem sekolah.

Kebalikan dari strategi sentripetal adalah gerakan sentrifugal yang berusaha menjauhi pusat lingkaran. Artinya, proses inovasi sekolah dengan melakukan pencarian jati diri, baik dengan berkaca pada sejarah, melihat kebutuhan masyarakat, maupun visi masa depan.

Dalam pencarian jati diri ini, secara hipotetik ada tiga orientasi filsafat sekolah Islam, yakni perenialisme, esensialisme, dan progresivisme. Orientasi perenialisme menghendaki sekolah Islam dikembalikan pada suasana zaman salaf secara verbatim (baca: regresif). Ciri menonjolnya adalah pengarusutamaan hafalan Alquran dan pemeliharaan kebiasaan kaum salaf seperti cara berpakaian.

Berbeda dengan kaum perenialis, orientasi pendidikan kaum esensialis menekankan keagungan tradisi keilmuan Islam berupa khazanah kitab kuning sebagai gudang ilmu (baca: generasi imam mazhab fikih).

Pendidikan dimaknai sebagai penyerapan terhadap keilmuagamaan klasik sebagai bekal untuk kehidupan masa kini. Sekolah Islam yang berorientasi perenialis bercorak regresif, esensialis bercorak tradisionalis, sedangkan progresivisme bercorak progresif.

Kaum progresif menghargai generasi salaf secara substantif dan menghargai imam mazhab secara manhaji. Bahan-bahan itu diolah sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki pengalaman aktual sebagai bekal memecahkan kehidupan yang tengah dihadapi.

Baik yang berorientasi perenialis, esensialis, maupun progresif ditantang memformulasikan sekolah model baru yang dapat memikat publik.

Umumnya, sekolah Islam yang mampu memikat publik mutu akademiknya bagus, budaya sekolah bagus (bersih, disiplin, ramah anak), dan diliputi suasana religius (pembiasaan shalat berjamaah, hafalan Alquran).

Secara historis, kehadiran sekolah Islam model baru ini awalnya (baca: 1980-an) terbatas di kota-kota besar ibu kota provinsi. Ia terus tumbuh dan sejak 2000-an mulai merambah kota-kota kabupaten, dan saat ini menembus kota-kota kecamatan di pelosok Tanah Air.

Institusi pendidikan Islam adalah corong dakwah paling efektif untuk penyiaran/dakwah Islam. Tanpa kehadiran sekolah Islam, menurut Clifford Geertz (2013:255), di Indonesia tidak akan ada apa yang disebut masyarakat Islam.

Dengan hadirnya sekolah Islam model baru yang bermutu ini, pada gilirannya melahirkan masyarakat Islam berkualitas.