Sa’id bin Amir, di Antara Dua Cinta

(wahdaniyah.com) – Sahabat Rasulullah yang satu ini memang tak seterkenal Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash-shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, atau Bilal bin Rabah.

cinta Sa'id bin Amir

Sosok yang luar biasa inipun bukanlah termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Beliau berislam ketika futuhat Mekkah.

Namun jangan ditanya tentang kesholihan dan kezuhudan beliau. Ketika Umar mencari gubernur untuk Homs, maka setelah mencari kesana kemari, merenung dan berpikir keras, Khalifah Umar pun akhirnya merasa yakin dengan pilihan beliau. Umar memilih Sa’id bin Amir sebagai gubernur Homs.

Jika di zaman sekarang banyak orang rebutan kursi jabatan, namun tidak dengan para sahabat Rasul. Ketika Umar meminta Sa’id menjadi gubernur, awalnya beliau menolak sambil berkata: “janganlah engkau menjerumuskan aku dalam fitnah”.

Ya, bagi para sahabat yang hanya berharap ridho Allah ini, jabatan hanya akan membuat diri merasa lebih dari orang lain, ini akan menyuburkan sifat ujub/sombong.

Dengan tegas Umar bin Khattab berkata: “apakah engkau akan membebaniku dengan jabatan Khalifah sementara tak ada yang membantuku? Engkau biarkan aku menanggung beban berat ini?”

Benarlah adanya, bukan mudah menjadi seorang pemimpin. Pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya telah menanti di pengadilan akhirat. Pemimpin adalah pelayan rakyat. Memastikan setiap kebutuhan individu rakyat terpenuhi dengan layak dan manusiawi adalah tugas seorang pemimpin. Dalam wilayah Daulah yang luas, tentu Umar memerlukan pembantu di tiap daerah untuk memastikan pelayanan tersebut.

Sa’id bin Amir akhirnya menerima permintaan Umar bin Khattab. Berangkatlah beliau bersama istri yang baru dinikahinya dengan membawa perbekalan secukupnya dan uang tunjangan dari Khalifah Umar.

Ya, mereka adalah pengantin baru. Mendapatkan seorang istri yang cantik tentulah sangat membahagiakan hati.

Setelah beberapa lama di Homs, terkumpullah uang yang lumayan banyak untuk dibelikan keperluan rumah tangga. Istri Sa’id telah merancang-rancang daftar belanjaan termasuk untuk keperluan pribadinya sebagai perempuan. Ia pun menyampaikan kepada suaminya.

Lalu apa jawaban Sa’id? “Istriku, maukah engkau kuberi tahu hal yang lebih berguna daripada membelanjakan uang ini? Homs adalah kota dagang, semua orang berdagang ke sini, bagaimana kalau kita serahkan uang kita kepada beberapa orang untuk dia jadikan modal dan mengelolanya sehingga menghasilkan keuntungan untuk kita.”

Awalnya sang istri khawatir jika kerjasama itu mendatangkan kerugian, namun Sa’id berhasil meyakinkan sang istri.

Sa’id pun keluar memberi keperluan rumah tangga yang sangat sederhana. Sisanya, yang tentu saja masih dalam jumlah yang sangat banyak, ia bagi-bagikan kepada fakir dan miskin.

Hari demi hari berlalu, sang istri pun mempertanyakan keuntungan dari permodalan yang mereka usahakan. Sa’id hanya menjawabnya dengan senyuman dan berkata: “jangan khawatir”.

Hingga suatu hari, istri Sa’id bertanya di depan seorang kerabat yang mengetahui hal ihwal harta tersebut. Dan terbongkarlah apa yang selama ini disembunyikan oleh Sa’id.

Istri beliau pun menangis. Ia menyesal karena harta tersebut lenyap tanpa arti dan tidak dibelanjakan untuk keperluan hidup dan dirinya. Bahkan sekarang tak ada lagi yang tersisa.

Sa’id memandangi wajah istrinya yang semakin cantik oleh air mata di wajahnya. Namun, sebelum kecintaan pada istrinya menguasai dirinya, Sa’id mengalihkan mata batinnya ke surga, menengadah mencari ridho Ilahi.

Dalam perjalanan mata batinnya di surga, ia melihat rekan-rekannya yang telah mendahuluinya. Sa’id pun berkata: “Aku mempunyai rekan-rekan yang lebih dulu menemui Allah, dan aku tak ingin ketinggalan dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya.”

Karena takut cintanya pada sang istri melebihi dari cintanya kepada Allah dan Rasul, Sa’id pun menyampaikan kata-kata yang seakan diperuntukkan untuk dia dan istrinya, “Bukankah engkau tahu bahwa di dalam surga itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga andai seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, seluruhnya akan terang benderang, dan tentulah cahaya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan. Maka, mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi dirimu,” pungkasnya.

Sa’id mengakhiri ucapannya dengan tenang dan tenteram. Istrinya terdiam dan sadar bahwa tak ada yang lebih utama baginya daripada meniti jalan kebahagiaan untuk akhirat. Akhirnya sang istri meneladani sifat zuhud dan ketakwaan sang suami, Sa’id bin Amir.

Semoga kita semua bisa meneladani Sa’id dalam hal meletakkan kecintaan dan visi hidup. Akhirat adalah tujuan hidup kita, tentulah ridho Allah yang harus kita gapai. Sa’id tak ingin ketinggalan dalam beramal, meskipun start belakangan dibandingkan rekan-rekannya. Kerinduan akan surga yang senantiasa hadir di hati kita, tentulah akan membuat kita tak bisa berdiam diri dari beramal sholeh. Wallahu a’lam.

kendal, 18 Juli 2019

Sumber: Biografi 60 Sahabat Nabi

(ibm/arrahmah.com)

Pesan Rasulullah SAW, Jangan Pernah Usir Kucing yang Mendekatimu!

Nabi Muhammad SAW juga memelihara kucing, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza.

Walau tak memelihara kucing, beberapa kita mungkin saja pernah didatangi oleh kucing waktu melakukan aktivitas, semisal saat tengah makan. Beberapa salah satunya mungkin memberi makan, tetapi sebagian lagi malah mengusir kucing itu lantaran dikira mengganggu.

Bila alami keadaan ini, jangan buru-buru untuk mengusir hewan yang paling disayangi Nabi Muhammad SAW itu.

Berpikirlah sesaat kenapa kucing itu mendatangi Anda serta bukanlah orang lain yang juga tengah menyantap makanan sama? Tahukah Anda kalau kucing yang datang itu nyatanya membawa ‘pesan’ atau sinyal?

Kehadiran kucing adalah tandanya kalau Allah SWT mengingatkan kita mengenai inti berikan.

Semuanya rejeki yang kita peroleh tidaklah seutuhnya hak kita. Ada hak-hak orang lain yang semestinya kita mengeluarkan. Seperti zakat fitrah serta zakat harta yang harus di keluarkan sebagai rukun islam yang perlu dipenuhi.

Dalam konteks kucing yang datang waktu makan, mengingatkan kita kalau karunia Allah yang kita terima harus juga dibagi dengan makhluk lain seperti kucing. Berarti dalam makanan yang kita santap, nyatanya ada rejeki untuk kucing yang semestinya kita berikanlah.

Berikan makanan pada makhluk Allah termasuk juga kucing adalah satu kebaikan. Sesuai sama firmannya, Allah bakal melipat gandakan satu kebaikan dengan 10 kali lipat kebaikan yang lain.

Terutama jika kita memberi dengan ikhlas serta tak sangat terpaksa. Bila berbuat baik pada manusia, seorang sering inginkan ada balasan sama dari orang lain.

Tapi tak sekian bila manusia berbuat baik pada kucing. Hewan ini pasti tak dapat membalas apa yang telah kita berikanlah terhadapnya. Saat membagi makanan dengan hewan ini, manusia belajar bagaimana rasa-rasanya berikan dengan penuh keikhlasan.

Aksi berikut yang semestinya dikerjakan manusia saat berikan suatu hal pada orang lain. Allah tengah memberi tahu jika kita tak berikan makanan pada kucing itu, sesungguhnya kita tengah menampik rejeki baru yang bakal Allah berikanlah pada kita.

Daya Pikat Sekolah Islam

Apa saja daya pikat sekolah Islam yang saat ini mengalami kemajuan pesat?

Perkembangan mendasar dalam kehidupan keagamaan di Indonesia kontemporer adalah kemajuan pesat sekolah Islam. Daya pikatnya terletak pada tata kelola profesional dan pengembangan budaya sekolah Islami dan bermutu.

Sungguh mengejutkan, fenomena baru ini nyaris luput dari perhatian publik. Minimnya perhatian publik disebabkan dua hal. Pertama, kerja di lintasan pendidikan merupakan arus bawah yang sunyi dari jepretan kamera.

Perubahannya sangat pelan sehingga orang yang hanya melihat sekelebatan tidak mampu menangkap denyut perubahan itu. Kemungkinan kedua, perhatian publik tengah tertuju pada pergumulan politik yang menguras energi dan pikiran.

Terlepas dari dua hal itu, bukan sikap bijak bila kita mengabaikan pendidikan karena ia bersentuhan dengan hajat hidup publik.

Dalam dua dasawarsa terakhir, bangsa Indonesia memasuki era politik yang melahirkan cara berpikir sarwa politik. Imbasnya, bidang lain yang tidak bersentuhan dengan politik pun disangkutpautkan dengan politik, tidak terkecuali pendidikan.

Singkat kata, pendekatan politik telah merasuki alam pikiran sedemikian rupa sehingga inovasi sekolah Islam ini pun kemudian ditafsirkan sebagai menguatnya radikalisme Islam yang layak diwaspadai.

Menafsirkan kemajuan pendidikan Islam sebagai perluasan dan penguatan radikalisme ataupun populisme Islam, bukan sudut pandang yang tepat. Apabila cara pandang ini terus dipegang, tentu kontraproduktif dan menyesatkan.

Untuk mengurai itu, diperlukan sudut pandang baru, yakni teropong sosio-historis. Dengan teropong ini, suatu dinamika dilihat dari dimensi internalnya, baik sinkronis maupun diakronis, melalui mata rantai sejarah dan fase perubahan sosial umat Islam.

Secara hipotetik dapat dirumuskan, ciri menonjol sekolah Islam ‘baru’ adalah secara institusional memilih pola sekolah sehari penuh dan pola berasrama, tata kelola profesional, mengembangkan budaya sekolah unggul dan Islami.

Selain itu, mutu akademik tinggi, pendidikan agama bukan hanya text book melainkan melalui pembiasaan, dan pengajaran tahsin-tahfid Alquran dilakukan penuh kegembiraan. Wajah sekolah Islam model baru inilah yang menjadi daya tarik publik.

Khususnya, bagi kelas menengah santri yang tengah tumbuh. Mereka menginginkan buah hatinya memiliki kemampuan akademik tinggi sekaligus memahami dan meresapi ajaran Islam, serta memiliki hafalan Alquran minimal satu juz sampai 30 juz.

Perkembangan baru pendidikan Islam kontemporer ini tentu membingungkan para analis sosial.

Perubahan yang berlangsung selama itu, tandas Karel A Steenbrink (1994:103), merupakan suatu proses penyesuaian diri sistem pendidikan asli Indonesia (baca: pesantren) kepada sistem pendidikan Barat.

BJ Boland (1985: 120) menyebut adanya krisis pesantren (baca: sekolah Islam) yang tidak mampu mengikuti derap langkah pendidikan Barat. Tesis Steenbrink dan Boland merupakan simpulan atas pengamatan saksama situasi pendidikan Islam dekade 1970-an.

Artinya, hal itu tepat untuk memotret situasi pada masanya, tetapi sudah tidak relevan lagi untuk membaca situasi pendidikan Islam kontemporer. Untuk memudahkan memahami konteks perbedaan waktu, perlu pembabakan sejarah yang dikenal periodisasi.

Pembabakan sejarah, berdasarkan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Dalam Negeri tahun 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah.

SKB ini pengakuan pemerintah bahwa madrasah, yang mengajarkan sekurang-kurangnya 30 persen mata pelajaran umum, disetarakan dengan sistem sekolah. Jadi, pendidikan Islam (baca: madrasah) terintegrasi, bukan lagi anak tiri, dalam sistem pendidikan nasional.

SKB menjadi titik yang membedakan tema dan orientasi pengembangan pendidikan Islam. Tema yang mengemuka sebelum SKB adalah ‘konvergensi’ dan ‘integrasi’ antara ilmu agama dan ilmu umum.

Meminjam istilah Steenbrink, periode ini ditandai dengan proses penyesuaian diri sistem pendidikan asli Indonesia (baca: pesantren) kepada sistem pendidikan Barat, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah Islam.

Dengan SKB ini, orientasi pengembangan pendidikan Islam untuk mengintegrasikan diri dalam sistem pendidikan nasional tercapai. Namun, ini tidak menyurutkan pelaku pendidikan Islam untuk mengembangkan diri.

Pasca-SKB, terjadi perubahan tema pengembangan pendidikan Islam, dari orientasi ‘integrasi’ kepada ‘pencarian jati diri’, suatu upaya menemukan ciri khas pendidikan Islam di tengah-tengah taman pendidikan nasional. Perubahan ini berimplikasi pada perubahan strategi gerakan dari pola sentripetal ke sentrifugal

Dalam gerakan sentripetal, orientasi pengembangan pendidikan menuju pada pusat lingkaran (baca: sistem sekolah/pendidikan nasional). Dalam pola ini, orientasi pengembangan pendidikan Islam cenderung monoton dan bergerak ke satu arah, yakni sistem sekolah.

Kebalikan dari strategi sentripetal adalah gerakan sentrifugal yang berusaha menjauhi pusat lingkaran. Artinya, proses inovasi sekolah dengan melakukan pencarian jati diri, baik dengan berkaca pada sejarah, melihat kebutuhan masyarakat, maupun visi masa depan.

Dalam pencarian jati diri ini, secara hipotetik ada tiga orientasi filsafat sekolah Islam, yakni perenialisme, esensialisme, dan progresivisme. Orientasi perenialisme menghendaki sekolah Islam dikembalikan pada suasana zaman salaf secara verbatim (baca: regresif). Ciri menonjolnya adalah pengarusutamaan hafalan Alquran dan pemeliharaan kebiasaan kaum salaf seperti cara berpakaian.

Berbeda dengan kaum perenialis, orientasi pendidikan kaum esensialis menekankan keagungan tradisi keilmuan Islam berupa khazanah kitab kuning sebagai gudang ilmu (baca: generasi imam mazhab fikih).

Pendidikan dimaknai sebagai penyerapan terhadap keilmuagamaan klasik sebagai bekal untuk kehidupan masa kini. Sekolah Islam yang berorientasi perenialis bercorak regresif, esensialis bercorak tradisionalis, sedangkan progresivisme bercorak progresif.

Kaum progresif menghargai generasi salaf secara substantif dan menghargai imam mazhab secara manhaji. Bahan-bahan itu diolah sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki pengalaman aktual sebagai bekal memecahkan kehidupan yang tengah dihadapi.

Baik yang berorientasi perenialis, esensialis, maupun progresif ditantang memformulasikan sekolah model baru yang dapat memikat publik.

Umumnya, sekolah Islam yang mampu memikat publik mutu akademiknya bagus, budaya sekolah bagus (bersih, disiplin, ramah anak), dan diliputi suasana religius (pembiasaan shalat berjamaah, hafalan Alquran).

Secara historis, kehadiran sekolah Islam model baru ini awalnya (baca: 1980-an) terbatas di kota-kota besar ibu kota provinsi. Ia terus tumbuh dan sejak 2000-an mulai merambah kota-kota kabupaten, dan saat ini menembus kota-kota kecamatan di pelosok Tanah Air.

Institusi pendidikan Islam adalah corong dakwah paling efektif untuk penyiaran/dakwah Islam. Tanpa kehadiran sekolah Islam, menurut Clifford Geertz (2013:255), di Indonesia tidak akan ada apa yang disebut masyarakat Islam.

Dengan hadirnya sekolah Islam model baru yang bermutu ini, pada gilirannya melahirkan masyarakat Islam berkualitas.

Pengaruh Kuliner Islam: Dari Asia Hingga Eropa 

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar.

Pada tahun 1258, Bangsa Mongol menaklukkan Baghdad dan menggulingkan Dinasti Abbasiyah. Sementara itu, di Iberia orang-orang Kristen mendesak kaum Muslimin kembali ke wilayah selatan Andalusia.

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar, bahkan wilayah penyebarannya kian luas. Pada tahun 1300, pengaruh kuliner Islam sudah menjangkau kota-kota di Asia Tengah, seperti Samarkand, Bukhara, dan Merv, serta di Kesultanan Delhi, India.

Di India bagian tengah, sebagaimana terungkap dalam Book of Delights yang ditulis pada akhir abad ke-15, Sultan Mandu, yakni Ghiyath al-Din digambarkan sedang berada di taman sembari memperhatikan para juru masaknya. Di buku yang dilengkapi gambar-gambar itu terdapat sejumlah resep favorit pada masa itu, se perti aneka kue di antaranya samosa, aneka masakan berbahan dasar daging, serta minuman.

Di Cina, buku kuliner dan tata cara pengaturan makanan (diet) dikemas dalam satu buku bagus berjudul Proper and Essential Things for the Emperor’s Food and Drink. Ditulis pada tahun 1330 oleh dokter kekaisaran, Hu Szu-hui, buku ini menerangkan tentang bagaimana orangorang Mongol mengadopsi unsur-unsur kuliner Islam dalam masakan mereka.

Sentuhan Islam itu antara lain tampak dalam sup tradisional Mongol. Karena pengaruh kuliner Islam itulah, orang Mongol saat membuat sup akan menambahkan sedikit beras, sejenis kacang Arab, dan membumbuinya dengan kayu manis, biji fenugreek, kunyit, asafetida, mawar, lada hitam, dan sedikit cuka sebagai penambah cita rasa.

Begitupun saat memasak mi. Orang Mongol, sebagaimana kebiasaan dalam kuliner Islam di Turki maupun Timur Tengah, akan menambahkan saus bawang putih dengan yoghurt yang creamy. Selain itu, mereka pun membuat permen dan minuman ala Islam, seperti jus buah, selai, jeli, julab, dan umbi.

Pengaruh kuliner Islam juga menyentuh daratan Eropa, di antaranya berkat jasa para pedagang Kristen dari Genoa, Barcelona, dan Venesia. Saat berdagang dan menetap cukup lama di negeri-negeri Islam, mereka jadi tahu tentang kuliner Islam, seperti jenis-jenis masakannya, bumbunya, juga cara mengolahnya.

Bahkan, para saudagar Eropa itupun membeli perangkat masak dari dunia Islam. Di antaranya, mereka memborong panci masak di Afrika Utara lalu menjual nya kembali di Eropa Selatan. Dengan sendirinya, segala hal ihwal mengenai kuliner Islam makin dikenal bangsa Eropa.

Kisah Nur Arisa Maryam, Mualaf Asal Jepang yang Ditolak Ibu hingga Neneknya Ikut Mualaf

Potret Nur Arisa, Mualaf Jepang Berhijab yang Temukan Damai dalam IslamPerjalanan berat Nur Arisa Maryam dalam memeluk Islam

Perjalanan berat Nur Arisa Maryam dalam memeluk Islam
Keputusan berpindah agama memang tidak selalu mudah. Terlebih lagi saat membayangkan bagaimana reaksi keluarga, yang mungkin tidak bisa menerima keputusan salah seorang anggota keluarga yang berpindah agama. Kebanyakan keluarga memang tidak rela. Itulah yang dialami oleh Nur Arisa Maryam.

Sang ibu bahkan enggan mengakui Arisa sebagai anak, setelah mendengar pengakuan Arisa bahwa dia telah masuk Islam. Lebih parah lagi, keduanya bahkan tidak saling bicara untuk beberapa waktu yang cukup lama. Lalu apa yang membuat Arisa mantap untuk memeluk Islam?

Kisah berawal ketika Nur Arisa Maryam bekerja paruh waktu di acara Tokyo International Book Fair sebagai penerjemah bahasa Malaysia. Kebetulan pada saat Arisa bekerja dua orang wanita Muslim asli Jepang, yang datang ke stannya.

Melihat kedatangan dua wanita Muslim itu, Arisa sangat bersemangat bertemu dengan mereka. Dia ingin mengetahui bagaimana orang asli Jepang seperti mereka bisa tertarik untuk masuk Islam.

Nur Arisa Maryam
Nur Arisa Maryam

Beruntung, salah satu wanita yang datang itu tidak keberatan untuk menceritakan kisahnya untuk memilih memeluk Islam. Kisah tersebut ternyata telah menyentuh hati Arisa.

“Saya begitu tersentuh dengan kisahnya, dan saya juga merasa lega ketika tahu bahwa saya bukan hanya satu-satunya yang khawatir tentang beralih (ke agama Islam). Saya tidak dapat menghentikan air mata yang mengalir,” kata Nur Arisa Maryam, seperti dikutip oleh Tribunnews.

Selepas pembicaraan di acara book fair, Arisa masih berkirim pesan dengan wanita Muslim tersebut, hingga pada akhirnya Arisa memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, meski tanpa ada saksi.

“Saya mengucapkan syahadat di dalam kamarku. Meskipun ini tidak resmi, tetapi hatiku penuh dengan kebahagiaan, sebab saya merasa Allah melihatku. Alhamdulillah,” ujar Nur Arisa Maryam.

Nur Arisa Maryan jepang islam
Sayangnya, keputusan Arisa untuk memeluk Islam tidak disambut baik oleh ibunya yang memeluk agama Shinto.

“Ibuku kaget saat saya memberitahunya. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putrinya menjadi Muslim tanpa pemberitahuan sebelumnya,” kata Arisa mengenai reaksi ibunya setelah mengetahui dirinya masuk Islam.

“Dia benar-benar khawatir bahwa orang akan melihat saya secara berbeda dan menyerang saya, dan dia juga khawatir tentang pernikahan saya, karena dia tahu bahwa kita tidak memiliki banyak Muslim di Jepang,” imbuhnya.

Parahnya lagi, bahkan ibunya tidak mau lagi mengakuinya sebagai anak. Ibunya bahkan tidak mau lagi berbicara dengan Arisa dalam beberapa waktu yang cukup lama.

Kendati demikian Arisa, tetap sabar dan mencoba yang terbaik agar ibunya mau menerima keputusanya masuk Islam.

“Saya tahu ini adalah reaksi yang wajar, jadi saya melakukan yang terbaik untuk membuatnya menerima saya. Dan saya ingin membuatnya melihat saya menjadi orang yang lebih baik karena Islam. Jadi, saya berusaha menjaga hubungan yang baik dengan ibu saya,” ujar Nur Arisa Maryam.

Cukup sulit untuk membuat sang ibu menerima Arisa, sampai pada akhirnya dia bisa melihat Islam dengan cara yang berbeda. Kini dia menilai Islam adalah agama yang indah setelah Arisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Kisah Snouck Hurgronje Orang Belanda, Orientalis Imperialis yang Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori, Tapi tidak Islam

Gus Muwafiq, Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? 
Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar.

Kisah Snouck Hurgronje, Orientalis Belanda Hafal Al Quran dan Sahih Bukhori

Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : “…. masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat ‘imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma’mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma’mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. “Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Makam Penyebar Agama Islam Sun An Ing, Tergores Lokalisasi Sunan Kuning

LOKALISASI Sunan Kuning di Semarang dikenal sebagai salah satu lokalisasi terbesar di Indonesia. Mendengar nama Sunan Kuning, pikiran sebagian orang tertuju pada kompleks lokalisasi di bagian barat Kota Semarang, yang oleh Pemkot Semarang rencananya akan ditutup tahun ini.

Sebelumnya lokalisasi tersebut lebih dikenal sebagai resosialisasi Argorejo. Letaknya berdekatan dengan Simpang Kalibanteng, Semarang.

Asal usul nama Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK) secara tidak langsung ada hubungannya dari sejarah dengan Petilasan Sun Ang Ing yang sudah ada di kampung Argorejo.

Menurut warga sekitar, nama Sunan Kuning merupakan nama penyebutan lafal yang telah berubah, dari seorang tokoh ulama keturunan Tionghoa-Jawa yang dimakamkan di komplek Argorejo, yakni Soen An Ing. Dia hidup sekitar abad 17 Masehi, menyebarkan agama Islam di wilayah Semarang dan Pantura Jateng.

Sunan Kuning sebenarnya memiliki nama lain yakni Raden Mas Garendi. Nama itu populer saat membantu pemberontakan Jawa-Tionghoa melawan VOC Belanda di Pati Jawa Tengah tahun 1742.

Bahkan Sunan Kuning dinobatkan juga sebagai Raja Orang Jawa – Tionghoa karena kegigihannya melawan penjajahan.

Untuk mempermudah lafal penyebutan masyarakat lokal pun akhirnya menyebut Sunan Kuning. Nama itu kian melekat jika menyebut sebuah komplek prostitusi di Semarang.

Berusaha menyusuri makam Sunan Kuning yang terletak 50 meter dari Resosialisasi Argorejo. Tepatnya, di bukit kecil Gunung Pekayangan di Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang. Makam itu kini dikelilingi pekuburan umum oleh warga sekitar.

Memasuki area pekuburan umum Bukit Pakayangan, makam Sunan Kuning ada di posisi paling atas komplek pekuburan warga Argorejo Kalibanteng Kulon itu. Dipisahkan dengan tembok dan gapura khas Tiongkok, pohon rindang menjadikan komplek makam itu terasa sejuk.

Di sana dapat ditemui tiga bangunan makam, dengan gaya khas Tiongkok perpaduan rumah Jawa. Aksesori serba China juga terpasang, ada lampion, tulisan kanji, juga dupa di depan pintu masuk tiga bangunan makam itu.

Dua makam itu merupakan makam pengikut setianya semasa menemani penyebaran Islam di Semarang yaitu makam Sunan Kali dan Sunan Ambarawa. Ada juga satu bangunan mushala diperuntukan bagi peziarah yang datang.

Pada Jumat (14/6/2019) hingga sekarang Petilasan Sun An Ing banyak didatangi para musafir dan peziarah dari luar kota, seperti Surabaya, Jakarta dan bahkan dari luar Jawa.

Dengan cat dominasi warna kuning dan merah dan pagar kayu berwarna merah, nampak ada dua orang musafir yang sedang tidur-tiduran di teras luar petilasan. Karena memang saat ini belum dibuka untuk umum. Karena masih sedang proses pergantian pengurus dari yang lama ke pengurus baru.

Juru kunci petilasan Soen An Ing, Mbah Noer Ichwan saat ditemui mengatakan, menurut kisah masyarakat setempat, sejak jejaka Soen Ang Ing tinggal dikampung ini sebagai penyebar agama Islam.

“Dan sampai meninggal di sini, dan dimakamkan juga di sini. Soen Ang Ing mengikuti agamanya Cheng Hoo, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Indonesia, meski dari etnis Tionghoa,” katanya.

Ditambahkan Mbah Nur, sekarang banyak orang yang salah kaprah, menggunakan nama Sunan Kuning sebagai penyebutan nama kompleks lokalisasi. Sebenarnya, nama Soen Ang Ing sendiri merupakan kompleks makam, bukan
kompleks lokalisasi yang selama ini berada di kampung Argorejo tersebut. Memang kompleks petilasan berada dekat dengan lokalisasi itu, yakni di Jalan Taman Srirejeki, di kelurahan Kalibanteng Kulon.

 

Kompleks Petilasan Soen An Ing.

 

Menjamurnya Prostitusi

Awal mula persoalan pergeseran nama muncul setelah Pemerintah Kota Semarang menetapkan komplek di sebelah makam ulama Soen An Ing, menjadi lokalisasi pada 1963.

Saat itu Kota Semarang dilanda menjamurnya prostitusi liar di jalan-jalan kota. Imbasnya, operasi prostitusi di Kota Lunpia secara besar-besaran yang sudah menjamur di sekitar jembatan Banjir Kanal Barat, Jalan Stadion, Gang Warung, Gang Pinggir, Jagalan, Jembatan Mberok, Sebandaran, dan lainnya.

Melalui Wali Kota Semarang saat itu Hadi Subeno, diterbitkan SK Nomor 21/15/17/66, menetapkan komplek Argorejo sebagai lokalisasi. Penempatan resminya pada 29 Agustus 1966 dan tanggal itu diperingati Hari Jadi Resosialisasi Argorejo.
Tahun 2003, istilah lokalisasi Sunan Kuning diubah menjadi Resosialisasi Argorejo. Lokalisasi ini resmi dibentuk pemerintah agar para kupu-kupu malam tidak menyebar di sudut-sudut kota.

Sementara dari sumber yang diperoleh Dian Arymami dalam essainya “Transaksi Seks di Era Media Baru ” dalam buku berjudul Media (Baru), Tubuh, dan Ruang Publik (Jalasutra, 2017), lokalisasi Sunan Kuning (SK) berawal dari upaya pemerintah Kota Semarang, sekitar tahun 1960-an yang berusaha mengumpulkan penjaja seks perempuan yang berkeliaran di jalan raya Kota Semarang dalam satu kompleks resosialisasi.

 

Tujuannya supaya kota menjadi bersih dari praktik prostitusi liar di jalan-jalan. Kemudian wanita-wanita penghibur ini dicarikan satu tempat di sebuah kampung yang bernama Karang Kembang. Akibat dari pemekaran kota, Karang Kembang dirasa sudah tidak cukup untuk menampung jumlah para penjaja seks perempuan yang semakin banyak.

Untuk itu, pada tahun 1963, pemerintah daerah Kota Semarang waktu itu memindahkannya ke sebuah bukit yang jauh dari permukiman penduduk, yaitu di daerah Kalibanteng Kulon. Nama Sunan Kuning sendiri sebenarnya adalah penyebutan lain nama Soen An Ing, seorang tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Tiongkok.

Pada pemerintahan Wali Kota Hadi Subeno meresmikan lokalisasi Sunan Kuning lewat SK Wali Kota Semarang pada tanggal 15 Agustus 1966, No 21/5/17/66. Lokalisasi Sunan Kuning resmi ditempati pada tanggal 29 Agustus 1966.

Sekitar tahun 1984-1985 ketika Semarang dipimpin Wali Kota Iman Soeparno Tjakrayuda, sempat timbul wacana untuk memindahkan lokalisasi tersebut ke daerah Dawung, Pudakpayung. Namun rencana tersebut gagal total karena masyarakat sekitar Dawung menentang adanya lokasisasi tersebut.

Para penghuni sebagian pulang kampung, namun tidak sedikit di antara mereka beroperasi di pinggir jalan. Karena kondisi ini dianggap lebih berdampak buruk, maka sebagian penjaja seks perempuan kembali lagi ke Argorejo. Pada sekitar tahun 2000, lokalisasi tersebut dibuka kembali dan tetap beroperasi.

Obat Awet Muda Menurut Sains Dan Ajaran Nabi Muhammad

Sejak dahulu orang berusaha agar tampak lebih muda daripada umur yang sebenarnya atau awet muda. Seoramg wanita muslimah pernah ditanyakan tentang alat kosmetiknya, lalu ia menjawab; ”Alat kecantikanku adalah;

  • Berbicara jujur untuk bibirku
  • Membaca Qur’an untuk suaraku
  • Kasih sayang dan rahmat untuk mataku
  • Berbuat kebaikan untuk tanganku
  • Istiqamah untuk tubuhku
  • Ikhlas karena Allah untuk hatiku.

Anda pun akan tampak awet muda ,lebih menarik dan mempesona ,asalkan anda juga mau mengikuti petunjuk yang diberikan dibawah ini,

cantik alami

Caranya adalah sebagai berikut;

Hindari perbuatan maksiat,karena maksiat dapat menggelapkan hati dan muka
Laksanakan shalat 5 wktu
Jangan tinggal dari wudhu / membiasakan berwudhu
Menjadikan kebiasaan dalam membaca Qur’an
Membiasakan Shalat tahajjud
Kurangi/hindari makan yang berlebih-lebihan
Membiasakan puasa sunnah Senin dan Kamis
Bacalah Asma Allah ; ”YAA HAMIIDU” setiap selesai shalat Subuh 99x, lalu ditiupkan pd kedua belah tangannya dan disapukan kemuka.
Wallahu a’lam

 

7 Tips Awet Muda Dan Cantik Alami Ala Islam

Assalamualaikum sahabat hijab, setiap wanita pastilah ingin selalu tampil mempesona diberbagai kesempatan. Bagi sebagaian wanita bahkan rela mengeluarkan budget yang lumayan besar hanya untuk melakukan berbagai perawatan kecantikan agar tampil selalu awet muda. Namun tahukah kamu sahabat, bahwa sekarang kamu tidak harus mengeluarkan budget yang besar hanya untuk tampil awet muda. Karena ternyata dalam Islam ada beberapa cara yang bisa membuatmu selalu awet muda. Nah daripada penasaran langsung simak ulasan berikut ya sahabat.

1. Berwudhu

Wudhu salah satu syarat wajib bagi umat Islam sebelum sholat. Ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang menempel di tubuh kita. Namun, ternyata bermanfaat besar bagi kecantikan kulit kita, terbukti dalam peneliti Austria.

Profesor Leopold Werner von Ehrenfels, psikiater dan ahli saraf. Dalam penelitiannya, ia mengatakan bahwa wudhu memiliki sesuatu yang luar biasa. Bahwa pusat saraf dahi, tangan, dan kaki sangat sensitif terhadap air segar, dan tentunya menyehatkan kulit yang tersentuh air wudhu.

2. Gerakan Sujud

Sujud merupakan salah satu dari gerakan shalat yang wajib dilakukan oleh seluruh umat muslim ketika melakukan ibadah sholat. Ternyata sujud tidak hanya sebagai bagian dari gerakan sholat tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.Seperti yang dikatakan oleh Dr Fidelma O’Leary, Phd Neuroscience dari St Edward’s University. Dalam kajiannya ia mengungkapkan bahwa dengan sujud maka otak manusia akan dimasuki oleh darah dan urat pada otak ini hanya bisa dimasuki oleh darah ketika sedang sujud saja.

3. Mengucapkan Salam

Mengucap salam merupakan kebiaasan baik yang harus tetap anda jaga karena selain mendapatkan pahala, hal ini juga bisa membuat anda menjadi awet muda. Seseorang yang sering mengucap salam apabila bertemu sesama muslim maka otomotis wajahnya akan berseri-seri, karena tidak ada orang yang mengucap salam sambil cemberut.

Nah, karena kita selalu bahagia maka hal ini tanpa anda sadari akan membuat kita terhindar dari penuaan dini dan selalu awet muda.

4. Murah Senyum

Senyum merupakan ibadah yang paling murah dan mudah dilakukan sehingga tidak ada salahnya apabila anda murah senyum kepada setiap orang. Selain enak dipandang ternyata orang yang murah senyum akan cenderung lebih awet muda karena hal ini akan membuat wajah kita damai sehingga tidak hanya cantik diluar tetapi cantik juga didalam.

Dalam ajaran Islam, selain tersenyum merupakan salah satu perbuatan baik, tersenyum juga dianggap sedekah. Sabda Rasulullah SAW:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya: “Senyummu untuk saudaramu adalah (berpahala) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

5. Menghilangkan Iri dan Dengki

Perasaan iri dan dengki hanya merugikan diri sendiri karena sangat dibenci oleh Tuhan YME. Selain itu, seseorang yang selalu memendam rasa iri dan dengki dalam hatinya maka wajahnya akan terlihat kusam dan membosankan, cemberut, muram dan sinis. Tentu saja membuat anda cepat terlihat tua karena tidak pernah tersenyum. So, singkirkan iri dan dengki bila anda ingin awet muda.

6. Menyayangi Anak Yatim

Dengan banyak bergaul, menyayangi dan menyantuni anak anak yatim/ piatu hati kita akan menjadi lembut. Dan kelembutan itu akan terpancar dari wajah kita, hingga wajah kita menjadi teduh dan enak dipandang orang.

7. Berfikir Positif

Seseorang yang sering mengucap salam apabila bertemu sesama muslim maka otomotis wajahnya akan berseri-seri, karena tidak ada orang yang mengucap salam sambil cemberut. Nah, karena sahabat selalu bahagia maka hal ini tanpa sahabat sadari akan membuat sobat terhindar dari penuaan dini dan selalu awet muda.

Nah itulah 7 tips agar awet muda dan cantik alami ala islam. Bagaimana mudah bukan ? tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal dan perawatan-perawatan yang ribet.

 

Cara Awet Muda Alami Dalam Islam Sesuai Ajaran Nabi Muhammad

Islam selalu mengajarkan cara berperilaku dan berfikir yang baik agar aura positif selalu terpancar. Sebagai teladan semua umat islam, Nabi Muhammad telah memberikan contoh dengan sangat jelas.

Cara awet muda alami dalam islam, tidaklah rumit atau sulit untuk dijalankan seperti operasi plastik ataupun meracik ramuan tradisional. Bagi yang sudah terbiasa menjalankanya maka tidak ada kesusahan di dalamnya. Sedikit tips tentang cara awet muda alami dalam islam berdasarkan ajaran Nabi Muhammad, SAW:

Taat Ibadah, Sabar, Senang Bersyukur, dan Ramah
Shalatt, sabar, bersyukur, dan ramah merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari umat islam. Semua Muslim wajib menjalankan sholat dan selalu bersyukur dalam segala keadaan.

Sabar selalu ramah meski dalam kondisi sempit. Karena semua yang kita alami sudah ada yang mengatur. Pedoman harus dipegang teguh semua Muslim supaya hati tenang dan fikiran lebih fresh. Karena fikiran stress dan hati suntuk akan membunuh sel lebih cepat, yang membuat kita terlihat lebih tua.

Menganut Pola Makan Sehat

Makan tidak hanya mengisi sesuatu yang mengenyangkan dalam perut, tetapi kita juga harus mempertimbangkan takaran gizi yang masuk dalam tubuh kita. Makanan sehat harus seimbang antara sayuran, buah-buahan, dan daging. Tidak berat sebelah. Nabi juga mengajarkan untuk tidak makan terlalu banyak , membagi ruang perut menjadi tiga, 1/3 makanan, 1/3 air, dan 1/3 udara.

Puasa Sunah
Selain baik untuk kesehatan tubuh, puasa sunnah juga baik untuk perawatan wajah dan kecantikan.

Rajin Memakai Minyak Zaitun di Wajah
Minyak zaitun memiliki manfaat yang sangat luar biasa untuk wajah karena bisa menjaga kelembapan wajah dan mengatur kadar minyak di wajah. Apalagi anda hidup di Negara Indonesia yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Penting sekali untuk menjaga wajah anda tetap lembab. Rajin-rajinlah mengoleskan minyak zaitun apabila wajah anda sudah mulai kering dan bersisik.

Cara awet muda alami dalam islam merupakan cara yang paling mudah untuk diikuti, tanpa obat-obatan kimia atupun operasi plastik anda bisa menjadi cantik dan awet muda. Benar-benar alami dan menggunakan bahan-bahan yang mudah kita dapatkan di alam. Jika anda benar-benar ingin terlihat selalu muda dan cantik, maka anda bisa mencoba untuk mengikuti bagaimana Nabi Muhammad merawat diri.

Hanya dengan memperbaiki diri, resep awet muda tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah. Namun terkadang setiap kita ingin berubah, satu-satunya hal yang selalu menghalangi adalah diri kita sendiri. Jadi mulailah dengan melawan diri anda sendiri agar bisa menjadi pribadi lebih baik lagi.

 

Kesal Dijodohkan Wanita Bercadar, Ternyata Istrinya


Kesibukan bekerja membuat Arman tak sempat memikirkan hal hal romantis yang berkaitan dengan wanita. Keseriusannya mengejar karir agar orang tuanya hidup nyaman menjadikannya sebagai pria lajang yang tak tahu menahu tentang dunia yang berbau cinta.

Orang tua yang sudah ingin sekali menimang cucu, ingin Arman membawakan mereka menantu. Sayangnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Arman tak memiliki teman dekat wanita seorang pun.

Alhasil, karena bosan terus menerus ditanya, dia serahkan urusan tersebut kepada kedua orang tuanya. Ya, dia minta dicarikan saja. Kalau bapak dan ibunya suka, maka dia juga akan menyukainya, begitu pikirnya.

“Wanita seperti apa yang kau inginkan?” tanya ayahnya suatu hari.

“Nggak usah macem-macem lah, Pa. Orangnya nutup aurat dan bisa mengaji,” jawab Arman.

Ayahnya tersenyum mendengar keinginan anaknya. Demikian pula ibunya.

“Intinya, papa dan mama suka dan senang kepadanya,” tambah Arman.

Usai percapakan itu, orang tua Arman tak pernah lagi menyinggung pernikahan. Sedang Arman kembali sibuk dengan dunia kerjanya.

Namun, setelah satu bulan berlalu, urusan itu dibahas lagi.

“Arman, kami telah menemukan seseorang yang siap untuk menjadi istrimu,” ucap ayahnya via telepon. Kala itu, kebetulan Arman sedang ada keperluan di luar kota untuk beberapa minggu.

“Iya, Pa.”

“Apa kau tak ingin melihat wajah calon istrimu dulu?”

“Kalau papa dan mama sudah sreg, Arman ikut saja.”

“Jika demikian, kami akan mengatur semua kebutuhan pernikahannmu. Sepulang dari luar kota, kau akan langsung melakukan akad.”

Arman menyetujui usul ayahnya. Toh, daripada dia juga masih repot dengan urusannya di luar kota. Entah kenapa, tak pernah terbetik di hatinya untuk melihat wajah calon istrinya. Hanya ada perasaan yakin, bahwa apa yang dipilih orang tuanya adalah yang terbaik.

***


Tibalah hari pernikahan Arman. Saat itu dia benar-benar syok, ternyata calon istrinya seorang wanita bercadar. Sungguh, hal ini diluar bayangannya. Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan menemukan yang seperti ini.

Atas dasar apa orang tuanya menjodohkannya dengan wanita bercadar? Dia meminta yang bisa mengaji dan menutup aurat, tapi bukan yang seperti ini. Dan darimana pula orang tuanya bisa mendapatkan wanita seperti itu? Kapan mereka mengenalnya?

Memang dalam urusan agama, Arman tidaklah terlalu buruk. Dia masih menjaga shalat lima waktu dan bisa mengaji. Kadang, dia juga melakukan puasa senin kamis. Namun, menghadapi istri bercadar tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Entah kenapa, tiba-tiba timbul perasaan kesal pada kedua orang tuanya. Arman menyesal karena terlalu menggampangkan urusan ini pada mereka. Tapi ya sudahlah. Mungkin wanita seperti ini yang membuat ayah dan ibunya senang. Bukankah menyenangkan hati orang tua juga disebut berbakti pada mereka?

Akhirnya, pernikahan dilangsungkan. Pesta dihelat dengan meriah. Undangan berdatangan, memberi ucapan selamat dan mendoakan silih berganti. Hingga sampailah kemeriahan itu usai, dan Arman beserta istrinya telah di dalam kamar.

Malam pertama menjadi momen yang sangat bagi keduanya. Namun, kala itu Arman bingung harus memulai dari mana. Dia belum pernah berada sedekat ini dengan wanita.

“Ba .. bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Arman.

“Hanin…” jawab sang istri malu malu.

Setelah itu keadaan terasa beku. Tak seorang pun berani angkat bicara. Hanin yang masih tersipu di balik cadarnya tiba-tiba keluar.

Arman semakin salah tingkah. Apakah dia melakukan sesuatu yang tak disukai istrinya? Tapi, tanyanya terjawab beberapa saat kemudian. Ternyata, Hanin datang dengan segelas susu dan beberapa potong kue.

Arman sadar, bahwa apa yang dilakukan istrinya adalah salah satu sunnah Rasulullah di malan pertama. Dia lalu mulai memahami apa yang harus dilakukan.

Seharusnya, inilah saatnya Arman untuk melihat wajah asli sang istri. Dengan berdebar debar dia mendekatinya.

“Bolehkan aku melihat wajahmu?”

Hanin mengangguk dengan malu malu.

Ketika Arman menyentuh cadar itu dengan bergetar dan ingin menyingkapnya. Tiba sang istri menghentikan tangannya.

“Kita shalat sunnah dua rakaat dulu, Kak,” pinta Hanin.

***

Malam pertama itu menjadi sangat berkesan bagi Arman. Bahkan dia cukup syok dengan segala seremonial yang dilakukan sang istri.

Dia tak menyangka di balik cadar Hanin, ada wajah yang sangat indah dan menawan. Wajah yang menenangkan hati saat dipandang. Menyejukkan mata saat dekat dengannya. Arman sangat mensyukurinya.

Rasa kesal yang semula pernah muncul di hatinya terhadap orang tuanya dia buang jauh jauh. Kini dia mengerti mengapa orang tuanya memilih Hanin untuknya.

Hukum Niat Puasa Saat Adzan Subuh

Hukum Niat Puasa Saat Adzan Subuh

Niat menempati posisi penting dalam Islam sebagaimana hukum membaca niat saat shalat. Hal ini bisa dilihat dari hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa sesungguhnya nilai segala amal itu tergantung pada niat yang bersangkutan. Teristimewa ibadah baik wajib maupun sunah. Ibadah mesti diawali dengan niat.

Dari hadits itu yang merupakan dasar hukum islam ulama memasukkan niat di awal rangkaian ibadah sebagai rukun dari ibadah itu sendiri. Tetapi khusus untuk ibadah puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, dan puasa qadha, niat harus dikerjakan di malam hari.
Karenanya keabsahan puasa Ramadhan dan jenis pahala yang tidak disadari kita bergantung niat di malam hari. Setidaknya demikian menurut madzhab Syafi’i. Demikian diterangkan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’-nya sebagai berikut.

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر.

Artinya, “Disyaratkan memasang niat di malam hari sesuai sumber syariat islam bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, Darul Fikr, Beirut, 2007 M/1428 H, Juz II).

Lalu bagaimana dengan orang yang lupa niat puasa Ramadhan di malam hari. Apakah sah puasanya bila ia memasang niat di siang hari dan tetap mendapat pahala puasa ramadhan selama 30 hari? Perihal niat puasa wajib di siang hari para ulama berbeda pendapat. Menurut Madzhab Syafi’i, puasa wajib dengan niat di siang hari tidak sah.

Semenentara bagi kalangan Madzhab Hanafi, puasa baik wajib maupun sunah dengan memasang niat di siang hari tetap sah, hanya saja puasanya kurang sempurna. Karena puasa baik wajib maupun sunah akan menjadi sempurna kalau diniatkan di malam hari sebagaimana keterangan hadits Rasulullah SAW.

Perbedaan pandangan ulama ini didokumentasikan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna sebagai berikut.

قوله: فلا صيام له أي صحيح لا كامل خلافا للحنفية، فإن نفي الصحة أقرب إلى نفي الحقيقة من نفي الكمال. وقوله خلافا للحنفية فإنهم يجوزون النية في النهار في الفرض والنفل.

Artinya, “Redaksi ‘maka tiada puasa baginya’, maksudnya tidak sah, bukan tidak sempurna. Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah. Karena menurut Syafi’iyah, menganulir keabsahan itu lebih dekat dipahami dengan menganulir puasa itu sendiri, dibandingkan hanya menganulir kesempurnaan puasa. Sementara ‘Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah’ karena Hanafiyah membolehkan niat di siang hari baik puasa wajib maupun puasa sunah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, Darul Fikr, Beirut, 2007 M/1428 H, Juz II).

Sebagai wujud ihtiyath (kehati-hatian), orang yang lupa memasang niat puasa di malam hari ada baiknya memasang niat seketika ia ingat di siang hari dan tetap meneruskan puasanya. Insya Allah puasanya sah.

Hanya saja saran kami, ada baiknya kita mengantisipasi lupa niat puasa Ramadhan di malam hari dengan misalnya shalat tarawih berjamaah. Karena sebelum bubaran sembahyang tarawih, imam lazimnya di Indonesia memimpin jamaah masjid dan mushalla melafalkan niat untuk puasa esok harinya.

Jika ada yang berniat puasa setelah masuk waktu Shalat Shubuh (waktu fajar) -misal sudah jam 8 pagi-, apakah dibolehkan?

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar (Shubuh), maka puasanya tidak sah.” (HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, dan An Nasa’i no. 2333. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Adapun hadits ‘Aisyah di mana ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalil di atas adalah dalil bagi mayoritas ulama bahwa boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal (matahari bergeser ke barat) pada puasa sunnah.”(Syarh Shahih Muslim, 8: 33)
Al Lajnah Ad Daimah, Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum berniat puasa di pagi hari setelah terbit fajar shubuh dan sebelumnya belum mencicipi makan dan minum sama sekali?”

Jawab para ulama Lajnah, “Jika puasanya adalah puasa sunnah, maka sah-sah saja berniat di siang hari. Sedangkan untuk puasa wajib tidaklah sah. Niat untuk puasa wajib haruslah dilakukan sebelum terbit fajar shubuh (di malam hari). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat di malam hari (sebelum fajar shubuh, -pen)”.

Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 17468, juz 9, hal. 150)

Seringkali karena aktivitas yang begitu padat di siang harinya, ditambah lagi aktivitas ibadah taraweh dan kembali melanjutkan segala pekerjaan di malam harinya, terkadang membuat kita kesiangan untuk bangun sahur.

Atau bahkan yang lebih kebablasan lagi, sampai kesiangan bangun untuk sholat subuh.Nah, apakah dengan bangun kesiangan, membuat puasa kita pun tidak sah alias batal? Kita lihat dulu, apakah dia telah berniat puasa sebelumnya ataukah belum berniat puasa?Adapun hadist yang membahas mengenai niat puasa ini sebagai berikut:

Rasulullaah bersabda:

Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah“.  (H.R. Tirmidzi No. 662, Abu Daud No 2908, Nasa’i No. 2291 s.d 2296)

Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih. Rasulullah s,a,w, bersabda:

Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat di waktu malam. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1690 dan Daruqutni)

Lain halnya dengan puasa pada hari Assyura yang diperintahkan Rasulullaah untuk berpuasa, mendadak diserukan di siang harinya. Sehingga bagi yang belum berencana untuk puasa atau sudah makan pun diperbolehkan untuk berpuasa.

Diceritakan kepada Abu ‘Ashim dari Yazid bin Abu ‘Ubaid dari Salamah bin Al Akwa’ radiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah mengutus seseorang agar menyeru manusia pada (waktu sahur) hari ‘Asyura’, bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia meneruskan makannya atau hendaklah shaum dan barangsiapa yang belum makan, maka hendaklah ia tidak makan (maksudnya meneruskan berpuasa) “. (H.R. Bukhari No. 1790)

Pendapat Beberapa Imam

1. Pendapat Imam Hanafi

Orang yang lupa berniat di malam sebelumnya kemudian kesiangan bangun, lalu langsung berpuasa Ramadhan. Dia tidak juga sempat makan sahur. Maka puasanya tetap sah dan tidak perlu dibayar di luar Ramadhan.

Ketentuan ini berlaku untuk puasa ramadhan dan puasa sunnah. Beda halnya untuk puasa yang sifatnya hutang. Haruslah berniat pada malam harinya.

2. Pendapat Imam Malik

Boleh niat puasa Ramadhan setelah terbit fajar yaitu jika benar-benar tidak sengaja untuk bangun kesiangan.

Sama seperti Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki pun memberlakukan ketentuan ini untuk puasa Ramadhan, maupun puasa sunnah. Bahkan diperbolehkan untuk berniat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh.

3. Pendapat Imam Syafi’i

Harus tabyīt niat (niat di malam hari), sehingga bila lupa niat di malam hari harus imsāk (tidak makan dan minum dan sebagainya) di siang harinya, selain juga berkewajiban mengqodlo puasanya. Catatan: Menurut Imam Hanafi sebagaimana di atas sebelumnya, niat di siang hari (qabla al-zawāl) tidak apa-apa (sah puasanya).

Karena itu, para ulama Syafi’iyah menganjurkan golongan Syafii ikut pada mazhab Hanafi ini agar (sekalipun tidak niat di malam hari) puasanya tetap sah dan tidak berkewajiban qodlo.Bahkan, lebih dianjurkan lagi golongan Syafi’i mengikuti mazhab Maliki yang meperbolehkan niat puasa 1 bulan penuh, dengan cara niat di malam hari tanggal 1 bulan Romadlon.

Pendapat Mayoritas Ulama

Menurut pendapat para ulama mayoritas, untuk lebih amannya lagi. Sebaiknya kita berniat puasa setelah Maghrib untuk berpuasa di esok harinya. Dengan begini, kita tetap bisa melanjutkan untuk puasa Ramadhan meskipun bangun kesiangan dan tidak sempat makan sahur.

Adapun lafadz niat puasa Ramadhan, bisa diucapkan dengan lisan. Atau juga bisa diniatkan di dalam hati saja. Meskipun tidak harus sesuai dengan niat lengkap untuk sahur. Karena dalam hatii pun sudah merupakan niat dan dihitung oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun, sekali lagi ditekankan dan disarankan bahwa dalam sahur itu ada keberkahan tersendiri.

Sehingga, kita harus pandai-pandai membagi waktu ibadah, waktu belajar, waktu kerja, dan waktu istirahat kita sesuai porsi masing-masing. Dan meniatkan untuk bangun lebih awal, berniat puasa Ramadhan dan bangun sahur. Karena bila kita telah terbiasa dengan waktu yang disiplin. Maka insya Allah segalanya akan berjalan dengan lancar.

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah di bulan ramadhan ini dengan lebih khusyu’ dan teratur.