Guru Tua, Penyebar Islam di Sulteng, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Doktor Abdul Gani Jumat, menyerahkan secara resmi buku berjudul Nasionalisme Ulama Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri kepada Ketua Tim Pengusulan Guru Tua Pahlawan Nasional Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Fahri Timur, Sabtu sore (8/6).

Penyerahan buku ini berlangsung di sela-sela rapat mengampanyekan Guru Tua alias Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri sebagai Pahlawan Nasional di Masjid Al Kautsar, Jalan Mangga, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Acara ini diinisiasi oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulteng. Dalam acara itu, turut hadir pula Ketua Pengurus Wilayah (PW) Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Sulteng, Dedi Irawan; perwakilan PMII; dan perwakilan dari Ansor.

Lantas, siapa sebenarnya Guru Tua? Ulama karismatik yang juga memiliki sebutan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri ini lahir di Taris, Hadramaut, Yaman pada 15 Maret 1892. Ia dikenal sebagai tokoh ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di Sulawesi Tengah.

Guru Tua juga adalah pendiri lembaga pendidikan Islam Alkhairaat pada tahun 1930, tahun pertama ia datang ke Palu–yang saat itu masih bernama Celebes di bawah masa pemerintahan kolonial Belanda. Lembaga ini adalah salah satu bentuk kontribusi dakwahnya.

Sebenarnya, 13 tahun lalu, tepatnya 2006, Guru Tua sudah pernah diusulkan jadi Pahlawan Nasional tapi hasil akhirnya baru sampai pada penghargaan gelar Bintang Mahaputra. Saat itu, PB Alkhairaat menunjuk tokoh bernama Abah Nongtji sebagai Ketua Tim Pengusulan Guru Tua Pahlawan Nasional.

Kini, Abah Nongtji sudah wafat. Fahri Timur adalah anak dari almarhum Abah Nongtji, dan seperti yang sudah disebutkan, Fahri kini mengemban jabatan yang pernah dipercayakan kepada mendiang ayahnya itu.

Buku Nasionalisme Ulama Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri merupakan hasil disertasi Abdul Gani saat meraih gelar doktornya. Sampul bukunya adalah wajah sang Guru Tua dan tebalnya 200 halaman.

Abdul Gani pernah bertemu mendiang Abah Nongtji sebelumnya. Kala itu, Abdul Gani Jumat menyampaikan pada Abah Nongtji bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan S3. Abah Nongtji lalu berpesan, kalau ingin lanjut S3, ia harus menulis buku tentang Guru Tua.

“Buku Nasionalisme Ulama Habib Sayid Idrus Bin Salim Aljufri inilah hasilnya,” ujar Abdul Gani.

“Jadi kata dia (Abah Nongtji), asbabul khuruj (sebab terbitnya) buku ini, lahir atas inspirasi Abah Nongtji,” lanjutnya.

Berangkat dari situ, Abdul Gani lantas mengajak semua badan otonom (Banom) Alkhairaat, NU, dan PMII untuk menyatukan langkah dan persepsi dalam memperjuangkan Guru Tua sebagai pahlawan Nasional.

Menurut Abdul Gani, sebenarnya gelar Pahlawan Nasional ini tidak diinginkan oleh Guru Tua sendiri, tapi ia merasa perlu ada apresiasi dari generasi penerusnya untuk sang ulama yang telah berdedikasai. “Untuk itu luruskan hati dan niat, bismillah,” katanya.

Atas pemberian buku tersebut, Fahri Timur menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia juga akan menambahkannya sebagai salah satu syarat materil untuk pengajuan Guru Tua sebagai Pahlawan Nasional.

Fahri mengatakan berdasarkan fakta sejarah, rekam jejak perjuangan Guru Tua alias Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri adalah nyata. Salah satu buktinya adalah pendirian lembaga pendidikan Alkhairaat yang kini sudah tersebar di kawasan Indonesia Timur.

Gura Tua, kata Fahri, juga tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi turut serta berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Caranya dengan membangun sumber daya manusia (SDM) yang berjiwa nasionalisme.

Dengan kata lain, bisa dibilang bahwa Gura Tua berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan lewat jalur pendidikan. Fahri mengklaim ada banyak bukti-bukti sejarah dan literasi, termasuk yang ada di luar negeri.

Secara kelembagaan, Fahri mengakui Alkhairaat memang tidak sebesar NU dan Muhamadiyah. Namun, secara personal, Fahri menyebut Guru Tua cukup dikenal di kalangan habaib. Menurutnya, Alkhairaat juga kini tidak bisa lagi dilihat sebagai lembaga pendidikan saja, sehingga Guru Tua bisa juga dianggap sebagai tokoh politik keagaamaan.

Guru Tua meninggal di Palu pada 22 Desember 1969, saat berusia 77 tahun. Ia disebut telah mewariskan 800 bangunan sekolah dan masjid, sekaligus menjadi benteng Islam di kawasan Indonesia Timur. Atas dasar ini juga, Guru Tua dianggap pantas mendapat penghargaan dari negara berupa Pahlawan Nasional dalam bidang tokoh pendidikan agama.

Untuk saat ini, terkait seluruh syarat yang dipersyaratkan, baik syarat formil maupun materil untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional, semuanya telah selesai.

Ketua PW GP Ansor, Alamsyah Palenga, mengatakan dalam mengampanyekan Guru Tua sebagai pahlawan Nasional, ia telah meminta izin pada Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri; dan Ketua Umum PB Alkhairaat; H.S. Ali Aljufri.

Deklarasi terkait isu ini juga sudah dilakukan sejak 24 September 2018, di depan gedung tua SMA Alkhairaat di Jalan Sis Aljufri, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat.

Untuk itu, pada momen kedatangan Ma’ruf Amin pada Haul Guru Tua ke-51 pada 15 Juni 2019, perwakilan GP Ansor, HPA, PMII, dan lainnya akan melakukan aksi simpatik dengan membagi-bagikan foto Guru Tua di tempat-tempat strategis di Kota Palu.

Selain menggelar dialog publik dengan menghadirkan tokoh nasional dan tokoh lokal, mereka juga akan membuat konten video terkait kampanye Guru Tua sebagai Pahlawan Nasional. Direncanakan juga membuat petisi tanda tangan publik dengan menyediakan kain sepanjang 51 meter pada puncak acara haul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *