Luka Palestina, Aib bagi Dunia Islam

Luka Palestina, Aib bagi Dunia Islam

Luka Palestina, Aib bagi Dunia Islam


Remaja yang membawa bendera Palestina berjalan di antara asap gas air mata yang dilepaskan pasukan Israel untuk menghalangi aksi “Great March of Return” di perbatasan Israel-Gaza yang terletak di timur Khan Yunis, Gaza pada 24 Mei 2019.

Bulan Ramadhan kali ini kembali menghadirkan luka nestapa bagi saudara kita umat Islam di Gaza, Palestina.

Tak sanggup melukiskan rasa perih yang mereka rasakan. Bukan saja mereka perih karena blokade yang terus menerus berlangsung yang membuat Gaza bagai penjara terbesar di dunia, namun juga perih karena Ramadhan seperti agenda tahunan Israel untuk membombardir wilayah Gaza yang sempit.

Akibatnya, dalam serangan Israel kali ini seorang ibu hamil dan bayi turut menjadi korban rudal canggih Israel.

Para pemimpin Barat yang dikutip media menyebut serangan Israel sebagai upaya membela diri.

Tapi mereka lupa bahwa Palestina adalah tanah umat Islam yang dijajah Israel.

Palestina lah yang berupaya membela diri.

Sementara Israel jelas sedang menjalankan agenda penjajahan.

Sesungguhnya, Israel dan Palestina bukanlah perihal konflik dua negara bertetangga, tapi penjajahan dimana Israel tidak berhenti mencaplok tanah Palestina dan memerangi warganya yang telah hidup dalam kemelaratan dan penderitaan bertahun-tahun lamanya.

Hampir seluruh wilayah Palestina dulunya kini sudah dikuasai Israel.

Sementara sebagian wilayah lain tunduk pada kemauan negara Yahudi tersebut, kecuali Gaza yang dikuasai oleh Hamas.

Karena Gaza tidak mau tunduk, wilayah kecil ini pun diblokade oleh Israel.

Sehingga kehidupan umat Islam di Gaza, menurut cerita beberapa Syaikh Palestina yang berkunjung ke Aceh, berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Kemiskinan dan kemelaratan hidup adalah pemandangan yang biasa dan dimana akses aliran listrik dan air yang sangat sulit karena dikendalikan Israel.

Tapi umat Islam di Gaza lewat sayap militer Hamas Izzuddin al-Qassam dan Jihad Islam konsisten berjuang melawan pendudukan Israel dengan senjata.

Sebuah perjuangan yang sah tentu saja.

Mereka melihat tidak akan ada kemulian tanpa perlawanan.

Apalagi untuk menghadapi zionis Israel yang tidak memahami bahasa apapun kecuali bahasa kekerasan senjata.

‘Hidup mulia atau mati sebagai syuhada’ adalah motto hidup mereka sehingga meski hanya berbekal ketapel, mereka tetap melawan.

Perlawanan mereka selain untuk tetap bertahan hidup dalam kemuliaan dan membela negerinya, juga untuk menjaga harga diri kaum muslimin sedunia dan menghidupkan cita-cita pembebasan Al-Aqsha di Yerussalem.

Antara Qatar, Turki, Mesir, Arab Saudi, dan UEA

Pada faktanya, hari demi hari wilayah Palestina semakin sempit.

Rumah-rumah warga Palestina dihancurkan dengan buldoser dan diganti dengan pembangunan pemukiman baru bagi warga Israel.

Pada saat yang bersamaan, Masjid Al-Aqsha juga terus menerus dilecehkan oleh oleh zionis Israel.

Padahal, ini adalah situs suci ketiga bagi umat Islam.

Dari sini Rasulullah Saw melakukan perjalanan mi’raj ke langit untuk menerima perintah shalat.

Dan celakanya, dunia Islam seakan tidak mampu berbuat banyak.

Memang terdapat sejumlah negara yang menunjukkan konsistensinya berupaya membantu Palestina seperti Qatar dan Turki, tetapi di sisi lain sejumlah negara muslim lain justru lebih asyik melayani kepentingan zionis Israel.

Mesir misalnya, negara ini berbatasan langsung dengan Gaza dimana satu-satunya pintu muslim Gaza untuk keluar melihat dunia ada di negara ini, yaitu pintu Rafah.

Tapi setelah Jenderal As-Sisi mengkudeta presiden pilihan rakyat Mesir yang pro-Palestina, yaitu Muhammad Mursi Alhafizh, akses muslim Gaza ke Mesirsemakin dibatasi.

Selain pintu Rafah yang jarang dibuka, bahkan Mesir juga dengan sigap menghancurkan terowongan-terowongan yang menghubungkan Gaza dan Sinai.

Padahal dengan terowongan ini denyut nadi kehidupan di Gaza tetap hidup.

Bayangkan, seluruh perbatasan Gaza lainnya telah lama ditutup Israel, dan satu-satunya pintu Gaza ke Mesir juga sangat jarang dibuka.

Bahkan terowongan pun dihancurkan militer Mesir.

Sungguh kondisi kehidupan yang sangat sulit dan terlalu sulit untuk dibayangkan.

Ketika sewaktu-waktu terjadi perang antara Hamas dan Israel, kebanyakan sikap Mesir di bawah rezim pengkudeta adalah membela Israel secara terselubung, bukan membantu Palestina.

Kalau Mesir ingin membantu Palestina, tentu mereka akan lebih dulu mengawalinya dengan membuka pintu perbatasan Rafah seluas-luasnya serta membiarkan terowongan-terowongan itu.

Itu bantuan yang paling mudah.

Sikap Mesir yang pro-Israel ini sebenarnya tidak aneh.

Barangkali ini adalah balasan rezim kudeta di Mesir untuk Israel yang telah membantu mereka mengkudeta Muhammad Mursi dan menghancurkan gerakan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan Islam politik terbesar di Mesir.

Selain Mesir, sejumlah negara muslim lainnya, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jarak yang lebih dekat dengan Palestina, juga memperlihatkan ketidakpeduliannya kepada Palestina.

Dan bahkan bukan saja negara-negara ini tidak peduli, namun juga mereka ikut memusuhi negara-negara muslim yang membela Palestina, seperti Turki dan Qatar.

Karena tidak mampu mendikte Qatar yang pro-Palestina, seperti dilansir sejumlah media, selain mengembargo negara ini, Arab Saudi bahkan juga berencana membangun kanal yang akan menghapus perbatasan daratnya dengan Qatar.

Sementara pemimpin Uni Emirat Arab juga telah secara nyata menunjukkan keberpihakannya kepada Israel dalam sejumlah statemen yang dikutip berbagai media di dunia.

Dengan keadaan negara-negara muslim seperti ini, tidak mengherankan apabila Palestina terus merintih dalam kenestapaan panjang mereka.

Tapi ini bukan keadaan yang ideal.

Warga yang di bawah usia 40 atau pemuda untuk melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa Shalat pada suci Ramadhan 1440 H.
Nubuwwah Pohon Gharqad

Luka Palestina Aib bagi dunia Islam.

Dunia Islam tidak menjadi hebat dengan membiarkan muslim Palestina berjuang sendirian menghadapi penjajahan dan upaya membebaskan Yerussalem.

Hati nurani muslim yang beriman pasti akan memahami sikap dunia Islam ini sebagai pengkhianatan dan dimana kelak semuanya akan diminta pertanggungjawaban di mata mahkamah Allah Swt.

Bahwa Allah Swt tidaklah lalai dari melihat setiap kezaliman.

Tapi meskipun sejumlah negara Islam meninggalkan Palestina dan memilih bersekongkol dengan Israel, namun Allah Swt yang Maha Perkasa pasti akan senantiasa menolong hamba-hambaNya yang berjuang di jalanNya.

Akan selalu ada orang-orang mukmin yang akan terus menerus saling tolong menolong di antara sesama mereka.

Dalam kesempitan dan kesulitan, mereka tidak akan meninggalkan saudara-saudaranya sendirian dalam perjuangan.

Orang-orang mukmin dari seluruh dunia Islam pasti akan berjuang sekuat tenaga membantu Palestina dalam berbagai bentuknya.

Dan hari ini kita melihat orang-orang mukmin itu terus bergerak.

Mereka dipersatukan oleh ikatan aqidah dan kemanusiaan.

Do’a-do’a mereka tidak akan terputus.

Dalam kondisi Palestina yang terjajah, kerugian sesungguhnya berada di pihak yang mengkhianati perjuangan mereka.

Sebab, hari perhitungan (Yaumil Hisab) bukanlah dongeng.

Mungkin hari ini kita melihat akhirat sebagai khayalan.

Tapi kelak di akhirat pasti kita akan melihat dunia ini sebagai masa lalu yang singkat.

Allah Swt pasti akan memintai pertanggung jawaban umat Islam atas derita yang menimpa muslim Palestina.

Bantuan apa yang pernah kita berikan untuk meringankan derita mereka?

Dan yang jelas, peduli atau tidak dunia Islamnya kepada Palestina, namun Allah Swt pasti memberkahi Palestina sesuai dengan pernyataan Alquran, “barakna haulahu”.

Zionis Israel, sesuai dengan pesan-pesan nubuwah, pasti akan dikalahkan.

Akan tiba masanya mereka akan lari terbirit-birit dari Palestina dan bersembunyi di balik pohon Gharqad.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.”

Dikabarkan sejumlah media bahwa Yahudi hari ini semakin banyak menanam pohon Gharqad.

Bukankah ini membenarkan pesan nubuwah bahwa Yahudi pasti akan dikalahkan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *