Memutus Silaturahim Diancam Tidak Masuk Surga

Memutus Silaturahim Diancam Tidak Masuk Surga

Inilah bahaya menjalin hubungan silaturahim. Ingat silaturahim yang dibahas di sini adalah menjalin hubungan dengan sesama kerabat. Bahasannya diambil dari kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.

بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ

Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat)

Hadits 1464

Dalam Bab Al Birr wa Ash Shilah. Kita masuk pada hadits berikutnya:

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari shahābat Jubair bin Muth‘im radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhāri & Muslim).

Dalam surah Muhammad : 22-23 juga telah menguraikan larangan plus ancaman Allah.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَ‍‍وَلَّيْتُمْ أَنْ تُ‍‍فْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَ‍‍مَّ‍‍هُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْ‍‍صَارَهُمْ

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

Faedah Hadits
  1. Dikatakan tidak masuk surga, ini merupakan kalimat ancaman, bisa jadi ditafsirkan. Bisa jadi pula kalimat tersebut disebutkan apa adanya karena dikhawatirkan berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan ini lebih membuat seorang takut sehingga menjauhi larangan yang disebutkan. Jika kalimat “tidak masuk surga” ditafsirkan maknanya bukanlah tidak masuk surga sama sekali, namun yang dimaksud adalah tidak masuk surga untuk pertama kali karena mesti disiksa dahulu, setelah disiksa sesuai dengan dosanya barulah dimasukkan dalam surga. Karena orang yang memutus hubungan silaturahim bukan yang melakukan dosa kekafiran yang diharamkan masuk surga. Ada juga penjelasan bahwa setiap maksiat di bawah kesyirikan tergantung pada masyiah Allah (kehendak Allah). Jika Allah menghendaki, maka akan disiksa. Jika Allah menghendaki, maka akan diampuni.
  2. Diharamkan memutuskan silaturahim, bahkan perbuatan ini termasuk dosa besar.
  3. Bentuk memutus silaturahim bisa dengan menyakiti kerabat, atau enggan berbuat baik kepadanya. Bentuk berbuat baik kepada kerabat adalah dengan menziarahi, mengucapkan salam, dan berkhidmat kepada mereka, juga menjenguk mereka ketika sakit dan memenuhi undangan mereka. Kebalikan dari ini berarti termasuk qathi’ rahim.
  4. Di antara bentuk memutus silaturahim adalah mengelompok-kelompokkan kerabat, sehingga timbul saling benci dan dendam, juga saling menjauhkan hubungan. Akhirnya anak-anak juga tidak mengetahui siapakah kerabat mereka.
  5. Memutus silaturahim membuat seseorang jauh dari rahmat dan ridha Allah, timbul permusuhan dan benci terhadap sesama.

 

Derajat menyambung silaturahmi terhadap kerabat ada 3 tingkatan:

■ TINGKATAN PERTAMA

Adalah tingkatan yang paling afdhal (paling mulia) yaitu menyambung tali silaturahmi terhadap kerabat yang memutuskan silaturahmi.

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah seorang penyambung silaturahmi sejati adalah yang menyambung silaturahmi kalau dibaiki, akan tetapi penyambung silaturahmi yang sesungguhnya yaitu jika dia diputuskan silaturahmi, dia tetap menyambungnya.” (HR Al Bukhāri)

Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Dalam Shahih Muslim dari hadits Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu:

Ada seorang lelaki berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونَنِي ، وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ.

“Ya Rasūlullāh, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahmi kepada mereka namun mereka memutuskan silaturahmi kepadaku.

Aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat buruk kepadaku.

Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku (yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang buruk).”

Maka kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Kalau memang engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas di mulut-mulut mereka.

Dan senantiasa ada penolong dari Allāh bersamamu di atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.”(HR Muslim No. 2558)

⇒ Yaitu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau masukkan debu yang panas ke mulut mereka (mereka terhina/terendahkan) karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.

Ini adalah tingkat silaturahmi yang tertinggi karena seseorang menyambung silaturahmi bukan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari kerabat tetapi karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka tatkala dia mendapati saudaranya berbuat buruk kepadanya maka dia tetap bersabar karena dia menyambung silaturahmi bukan karena mereka tetapi karena perintah Allāh dan berharap surga.

■ TINGKATAN KEDUA

Tingkatan kedua adalah menyambung silaturahmi jika kerabat berbuat baik.

⇒ Kalau dibaiki maka dia berbuat baik dan kalau diburuki maka dia membalas keburukan.

■ TINGKATAN KETIGA

Adapun tingkatan yang ketiga adalah tingkatan yang buruk dan haram yang menyebabkan masuk neraka yaitu memutus silaturahmi;

• Tidak menyambung silaturahmi.
• Cuek (tidak memperhatikan) kepada kerabat.
• Tidak menghubungi mereka
• Tidak berbuat baik kepada mereka bahkan berbuat kasar.

Maka ia telah melakukan perbuatan yang terancam dengan neraka jahannam.

Referensi:

Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *