Berakal Sehat Juga Harus Bertuhan

Justru saat ini ada orang yang mengaku berakal sehat tapi tidak bertuhan.

Sejarah panjang manusia selalu dibayang-bayangi oleh kekuatan gaib, ‘tak-terukur’, supranatural dan segala varian nama-nama bermakna ‘tak terdefinisikan’ atau ‘tak-terpersepsikan’ oleh pancaindra. Berjalannya jagat raya yang teratur dan tersistem sedemikian rupa membuat akal dan seluruh dalil ilmu pengetahuan hingga sekarang mesti ‘puas’ dengan jawaban tentang realitas adanya Sang Pengatur.

Pasti! Ada Kekuatan Besar di balik rupa-rupa kehidupan di dunia ini. Keyakinan yang bahkan sudah tumbuh di kepala manusia sejak zaman primitif, ketika Kekuatan Besar itu dipersepsikan amat manusiawi dengan rupa, simbol atau lambang yang mewakili keyakinan yang mencuat dari perasaan kolektif manusia kala itu.

Ketika rupa kehidupan, keajaiban dan kegaiban tak kunjung diselesaikan dengan kontemplasi, realitas adanya kematian akibat purnanya ruh dan raga dari kehidupan nyata membuat masalah manusia bertambah lagi. Mengapa ada sekian juta makhluk pernah hidup dan sekian juta lainnya kemudian mati? Mengapa terjadi perputaran semacam ini?

Manusia kemudian memercayai bahwa kekuatan gaib memang ada. Kekuatan gaib itu pernah ditafsirkan bersemayam di benda-benda (dinamisme). Ada pula yang melekatkannya di roh-roh nenek moyang (animisme) dan hewan-hewan yang disakralkan (totemisme). Manusia berpikir dan mengembangkan akalnya, tetapi tetap percaya di balik mekanisme ini kekuatan gaib itulah yang memiliki dan mengatur segalanya.

Begitulah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) memulai berfalsafah tentang ketuhanan. Tokoh melesat namanya sebagai pegiat susastra lewat Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)Lewat dua karya itu pula namanya berada di ingatan pembaca sebagai salah seorang ‘pengembang’ Sastra Indonesia Modern yang karyanya masih dicetak dan dijadikan bahan kajian oleh akademisi.

Khalayak mungkin agak mengaburkan biografi sang tokoh sebagai agamawan dan politikus karena ‘kedua’ karya di atas sempat muncul dengan wahana film dan memopulerkan namanya sebagai pengarang kasusastraan. Padahal puluhan buku hadir ke pembaca dikenal dengan buku-buku bercap agama.

Salah satu buku itu berjudul Falsafah Ketuhanan. Buku ini mengenalkan pelbagai sejarah manusia dalam memikirkan muasal alam dan Tuhan. Hamka berkisah bahwa sejak primitif, kala manusia belum mahir mengasah akalnya, telah mewujud perasaan ada yang menguasai alam ini.

Ia menulis: Kesan pertama bahwa ada yang Mahakuasa itu merata pada seluruh manusia karena kesan ini tumbuh apabila akalnya sudah mulai berjalan. Bahwasanya ada suatu kekuatan tersembunyi di latar yang tampak ini. Yang selalu terasa ada tetapi tidak dapat ditunjukkan tempatnya.

Hamka menerangkan semakin berkembangnya akal dan pikiran, maka akan berbanding lurus dengan ketakjuban dan keimanan kepada Tuhan. Namun, sekarang manusia lebih banyak menuhankan akal. Padahal akal tidak berkompetensi untuk berpikir hingga wilayah ruang, waktu dan aturan-aturan alamiah yang ada di muka bumi ini yang senantiasa berjalan berkecenderungan sifat sama yang artinya ada Zat yang membuatnya berlaku seperti itu.

Alam memiliki aturan-aturan dan sudah barang tentu aturan itu dapat dijalankan berkat adanya Sang Pengatur. Tidak ada yang mengatur mengartikan tidak ada aturan. Apabila semua yang hidup pada hari ini bebas bertindak sendiri, tetapi mengapa secara kebetulan dalam kebebasan itu seluruh makhluk itu ‘tumbuh’ dengan aturan yang sama?

Hamka menuliskan. “… memutuskan bahwa sang pengatur itu tidak ada adalah memutuskan suatu pikiran dalam kekacauannya. Sebab, lebih sangat sulit jika dikatakan bahwa zarrah mengatur dirinya sendiri dan lebih sulit lagi jika dikatakan bahwa zarrah itu menciptakan dirinya sendiri atau terjadi sendiri.” Perjalanan berakal mesti berakhir pada simpulan: ada yang mengatur. Titik.

Hamka melanjutkan bukti-bukti lain terkait mekanisme alam dan hubungannya dengan keberadaan Tuhan. Ia menyebutkan empat dalil: pertama, manusia mengakui bahwa mereka ada bukan atas kehendaknya. Begitu pula benda-benda baik hidup maupun tak hidup. Tak pernah sekalipun benar-benar ada peran manusia dalam penciptaannya.

Kedua, setiap kali manusia mendapati makhluk tumbuh dapat hidup dan bahkan menghidupi, manusia tak sekalipun pernah bisa benar-benar meniru dalam menciptakannya. Hewan, binatang, bahkan unsur abiotik seperti tanah, awan, gunung, dan seterusnya. Semua itu tumbuh dan bertahan menurut peraturan tertentu. Sudah pastilah yang menciptakan adalah Zat yang sama dengan yang memeliharanya sedemikian rupa.

Ketiga, manusia meyakini benda-benda berat akan tenggelam ketika dilemparkan ke air. Lalu lintas dengan jamaknya kendaraan akan berbenturan pula meski ada aturan, rambu dan petugas yang mengaturnya. Namun, mengapa bintang, bulan, matahari yang tentu lebih berat tak jua jatuh? Mengapa planet-planet, bintang-bintang dan benda-benda langit lain tak pernah berbenturan dan memiliki lintasannya masing-masing, meski di angkasa terdapat milyaran benda?

Keempat, dalil permulaan. Tiap-tiap hal memiliki permulaan. Suatu batu bisa bermula bermilyar-milyar tahun. Begitu pun tanah bisa bermula sekian juta tahun. Seburuk-buruknya kita hanya bisa menyebutkan ‘tidak tahu siapa yang membuat’, bukan berkata ‘tidak ada yang membuat’. Yang mengadakan adalah Allah atau Tuhan!

Hamka melalui Falsafah Ketuhanan sebenarnya telah membuka suaka pikiran kita dalam menuntaskan keraguan atas Allah atau Tuhan. Hamka berharap pembaca dapat lebih baik dalam membenarkan firman-firman Allah dalam Alquran dan yang tersirat melalui alam.

Orang-orang diajak membaca agar turut merasakan getaran-getaran dalam sanubari mereka atas fakta-fakta bergelimangan di sekitar mereka. Getaran-getaran itu lantas membuat mereka menunduk dan mengakui kebesaran dan kekuasaan-Nya yang takkan pernah sepadan disandingkan dengan akal, mental dan seluruh pengetahuan mereka. Hamka mengajak kita tetap berakal dan bertuhan agar meningkatkan iman dan takwa. Wallahua’lam.

Sekilas Kedokteran Ibnu Sina Era Islam Klasik

Ilmu kedokteran terus berkembang seiring zaman. Dalam beberapa artikel sebelumnya dibahas bagaimana institusi layanan kesehatan, yang disebut bimaristan banyak dikembangkan oleh penguasa kerajaan Islam. Anda bisa cermati tautan berikut seputar sejarah pembangunan bimaristan dan sistem pelayanannya.

Sekilas Pendidikan Kedokteran Era Islam Klasik

Bimaristan didirikan untuk kebutuhan publik. Ahmed Ragab dalam bukunya The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion, and Charity mencatat bahwa kebanyakan bimaristan dibangun pemerintah dengan akad wakaf. Pemberi wakaf ini berasal dari kalangan sultan atau saudagar kaya.

Dalam dokumen-dokumen wakaf yang dianalisis oleh Ahmed Ragab, rupanya perwakafan bimaristanpada masa Islam klasik, selain mendokumentasikan akad wakaf, juga menyertakan hal-hal penting yang patut diperhatikan para pengelola bimaristan.

Dalam kasus Bimaristan al Mansuri di Baghdad misalnya, selain untuk pengembangan infrastruktur, wakaf bimaristan ini mesti digunakan untuk pelayanan publik, serta anggaran yang disalurkan melalui lembaga-lembaga amal dan badan wakaf terkait mesti digunakan untuk kesejahteraan pasien dan para tenaga kesehatan.

Nah, di samping soal pengelolaan dan pelayanan, pengajaran ilmu kedokteran merupakan salah satu hal yang dimandatkan dalam dokumen wakaf bimaristan. Sebagaimana dicatat Ahmed Ragab, bimaristan al Mansuri mesti mengangkat guru-guru (syeikh) yang mampu mengajarkan ilmu pada “siswa-siswa kedokteran”.

Kendati tidak terdapat keterangan pasti bagaimana alur administratif bagaimana seorang dokter diberikan mandat menjadi syeikh atau guru oleh pengelola bimaristan atau pemerintah, syeikh ini adalah pakar yang disegani di rumah sakit berkat pengalaman dan keilmuannya.  Sebagai contoh, setelah meresmikan Bimaristan al Mansuri, khalifah al Mansur mengangkat Ibnu Abi Hulayqah untuk menduduki jabatan pengajar di bimaristan tersebut.

Para pengajar ini biasa membagi murid-murid dalam beberapa kelompok, seperti dicatat Ahmed Ragab, semisal dalam kelompok khusus bedah, khusus pengobatan mata, pengobatan tulang, serta peracikan obat. Dalam kelompok-kelompok belajar ini, para murid akan mempelajari dan mengingat hal-hal yang dibutuhkan dalam profesi mereka.

Biasanya, beberapa murid akan membaca suatu buku kanon kedokteran di hadapan seorang syeikh, lantas hasil bacaan ini dijelaskan dan didiskusikan oleh guru bersama para muridnya. Ibnu Abi Usaibiah dalam ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’ pernah mencatat bagaimana seorang dokter senior membimbing para pelajar kedokteran sepertinya dan staf medis lain di Bimaristan al Nuri. Model membaca di depan guru ini tidak lepas dari tradisi literasi qira’ah ‘ala syeikh yang marak kala itu, seperti dalam sistem kajian hadis dan filsafat.

Buku kanon yang mereka kaji merujuk pada karya-karya yang beredar di daerah Baghdad. Konon hal ini menyebabkan standar operasional yang dipakai oleh banyak bimaristan mengacu pada model bimaristan di Baghdad. Karya Al Razi yang berjudul Al Hawi, karya Ibnu Sina Al Qanun fi Al Tib, serta karya-karya murid mereka yang menjadi buku syarah, adalah sebagian kecil di antara bahan dan pedoman pembelajaran.

Selain membaca dan berdiskusi, para guru melakukan pengawasan bagaimana mestinya murid-murid ini bekerja. Barangkali seperti sistem pendidikan profesi di masa sekarang, para pelajar dihadapkan langsung pada masalah-masalah klinis.

Pendidikan dengan metode seperti dipaparkan di atas, disimpulkan oleh Ahmed Ragab mampu membentuk suatu cara pandang yang khas mengenai peranan dokter, cara mereka berpraktek dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain juga pasien mereka.

Pada akhir pendidikan, para murid ini mendapatkan rekomendasi dan ijazah untuk melakukan pengajaran atau praktek kedokteran. Ahmed Ragab mengutip dari Tarikh Ibn Furat mengenai bagaimana jika murid kedokteran telah menyelesaikan pendidikannya:

“…li-yuqaal li-kullin min thalabatihi idza syuri’a fi ijazatihi wa tazkiyatihi, la-qad ahsana shaykhuhu alladzi ʿalayhi taaddab

“…(Seorang syekh mesti mengajar pada muridnya), sehingga ia berkata pada setiap muridnya ketika telah diperkenankan atas ijazah (rekomendasi) bahwa gurunya ini – yaitu sang syeikh – telah melaksanakan pendidikan dengan baik…”

Keterangan seputar akhir pengajaran kedokteran di atas, kalimatnya menggunakan diksi taaddab, yang dalam bahasa inggrisnya adalah cultured yang berarti “membudayakan” atau “mendidik”. Dapat dipahami dari pilihan kata tersebut, bahwa pembelajaran kedokteran di masa itu – hingga masa sekarang, di samping keterampilan praktis dan klinis, pendidikan karakter dan moral adalah hal yang begitu ditekankan dalam pendidikan kedokteran.

Agaknya demikianlah ilmu kedokteran diajarkan, dari masa ke masa. Tidak hanya ilmu dan keterampilan, namun juga menempa perilaku. Wallahu a’lam.

Kolaborasi Kemandirian Vaksin Negara-Negara Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bandung – Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE) di bidang vaksin dan produk biologi di antara negara-negara OKI, dinilai memiliki leading role dalam mendorong kerja sama terkait ketersediaan dan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan obat termasuk vaksin yang aman, berkhasiat dan bermutu, serta terjangkau bagi rakyat di negara anggota OKI. Karena itu, pada November 2018, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Pengawas Obat Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jakarta. 

Kamis (25/07), Badan POM menggelar acara Sosialisasi Hasil Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara-Negara OKI di Aston Pasteur Bandung. Acara yang berlangsung selama dua hari ini dibuka langsung oleh Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. 

“Tahun lalu, kita sukses menjadi tuan rumah Pertemuan Pertama OKI pada tanggal 21–22 November 2018 lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI, yang perlu kita tindak lanjuti,” ujar Kepala Badan POM. “Indonesia sebagai penggagas pertemuan dan tuan rumah tentu memiliki tanggung jawab moral atas tindak lanjut hasil pertemuan dan kesinambungan forum Otoritas Pengawas Obat negara anggota OKI tersebut,” lanjutnya.

Melalui pertemuan hari ini, Badan POM mengajak seluruh pihak, yaitu para pemangku kepentingan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk saling mendukung dan bahu-membahu melakukan langkah nyata dalam upaya implementasi hasil pertemuan OKI yang strategis ini, guna meningkatkan peran strategis Indonesia dalam forum OKI, mendorong kerja sama antar negara anggota OKI melalui kerja sama teknis dan program perkuatan kapasitas serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI. 

Dalam rangkaian acara ini, Kepala Badan POM berkesempatan menyerahkan Laporan Lengkap Pertemuan Pertama OKI kepada tujuh perwakilan kementerian/lembaga diantaranya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Sekretariat Kabinet dan Bea Cukai. Selain itu juga diserahkan plakat ppresiasi atas dukungan pertemuan OKI kepada Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia dan 22 Pelaku Usaha.

“Saya mengundang Bapak/Ibu yang hadir pada hari ini untuk berdiskusi, memberikan masukan terkait rencana implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI,” ujar Kepala Badan POM. “Mari kita bersinergi untuk meningkatkan peran strategis Indonesia. Peningkatan kerja sama Indonesia dalam Forum OKI akan meningkatkan peran strategis Indonesia serta meningkatkan akses pasar/ekspor obat dan vaksin ke negara anggota OKI.” tutup Kepala Badan POM. 

Jangan jadi Ayah ‘Bisu’!

(wahdaniyah.com) – Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:

حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ

“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah…. Sudah gak sabar nih untuk baca bersama….

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, Subhanallah

Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.

Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf … marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an..

Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.

Dan…
Jangan jadi ayah bisu!

*Dengan sedikit editan tanpa mengubah makna

(ibm/wahdaniyah.com)

Tips Agar Anak Kecanduan Al Qur’an

(wahdaniyah.com) – Memiliki anak yang menghafal seluruh Al Qur’an adalah impian banyak orang tua Muslim saat ini, dan memangini adalah tujuan yang sangat mulia.

Berikut 5 tips agar anak-anak kecanduan Al Quran yang bisa dipraktekkan oleh Ayah dan Bunda di rumah:

1. Berhenti Menyuruh Anak

Cara pertama yakni berhenti menyuruh anak untuk membaca Al-Qur’an. Artinya sebagai orangtua kita tidak hanya meyuruh anak tapi harus memberikan tauladan atau contoh yang baik kepada anak-anak terlebih dahulu.

Ayah bunda sebaiknya membaca Al Quran rutin setiap hari di hadapan anak-anak. Walau awalnya mereka cuek, tapi percayalah, mereka itu memperhatikan dan mulai menginstal dirinya bahwa inilah yang harus mereka lakukan juga.

2. Meluangkan Waktu untuk Membuat Halaqah Al-Qur’an

Buatlah agenda keluarga untuk membuat halaqah Al Qur’an. Setiap ba’da Shubuh atau Maghrib, misalnya, ayah bunda duduk dalam lingkaran, kemudian bergantian membaca Al-Qur’an.

3. Tadabbur Terjemahan Al-Quran

Agar anak-anaknya tertarik untuk mentadaburi Al-Qur’an, maka ayah bunda bisa mulai membiasakan tadabbur terjemahan Al Quran. Insya Allah setelah konsisten, anak-anak pun penasaran dan ingin mengikuti apa yang dilakukan ayah bunda mereka. Saat mereka mendengarkan tadabbur terjemahan Al Qur’an, anak-anak mulai mengerti makna dari ayat-ayat Al-Qur’an yang setiap hari mereka baca.

4. Mencoba Menghafal Al-Qur’an Bersama

Jika sebelumnya anak-anak biasa menghafal Al-Qur’an sendiri, maka untuk membuat anaknya tidak bosan untuk menghafal Al-Qur’an, maka Ayah bunda bisa mengajak anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an bersama-sama.

Agar ayah bunda pun mengetahui susahnya menghafal Al-Qur’an, dan bisa memahami apa yang anaknya lalui untuk menghafal Al-Qur’an.

5) Puji Anak Depan Suami

Untuk membuat minat anak semakin besar terhadap Al Qur’an, maka biasakan memuji setiap perkembangan anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an di depan ayahnya. Bunda biasakan sengaja memuji anak-anak di depan ayahnya, agar mereka merasa diakui dan semangatnya semakin besar untuk mempelajari Al Qur’an.

Yaps, intinya sebelum orangtua mengajak anak untuk cinta Al-Qur’an maka orangtua harus terlebih dahulu mencintai Al Qur’an, maka barulah lahir anak-anak pecinta Al Qur’an.

Selamat menjadi pendidik cerdas dan sholehah.

Selamat mencoba!

(ibm/wahdaniyah.com)

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

(wahdaniyah.com) – Tatkala para pemuda yang terdesak dan harus mengungsi di suatu tempat asing demi mempertahankan aqidah mereka, tibalah mereka di sebuah gua. Tentu untuk tinggal beberapa saat lamanya disana mereka membutuhkan banyak hal seperti makanan, selimut,kasur, toilet dan lain sebagainya. Rasanya mustahil mendapatkan kebutuhan semua itu di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan belantara.

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

Tapi para pemuda tidak menjabarkan permintaan tersebut kepada Allah. Mereka mencukupkan hanya dengan satu permintaan yang khusyu’ dan penuh keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka dengan sebaik-baiknya.

(إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا)
[Surat Al-Kahf 10]

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Allah SWT langsung merespon doa mereka dengan memberikan penyelesaian yang sangat indah, yakni menidurkan dan menjaga mereka selama 309 tahun lamanya. Masya Allah..

Sahabat….

Ada seorang suami yang merasa mempunyai masalah yang sangat ruwet dalam keluarganya karena kesalahannya sendiri yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Satu Doa untuk Mengurai Semua Masalah yang Mendera

Istri yang terus memaki makinya dan sakit sakitan, anak anak yang susah diatur, beban kebutuhan hidup yang semakin banyak dan mendesak, kekhawatiran-kekhawatiran muncul dibenaknya dan semakin membuat ruwet pikiran sampai pada puncaknya dia merasa harus menyudahi hubungan pernikahannya dengan istri tercinta.

Lalu dia mendengar kisah Ashabul Kahfi dan langsung mempraktekkan doa tersebut.

Allah SWT merespon doanya dengan menurunkan rahmatNya. Tetiba ada rasa kangen mendera hati sang suami tersebut. Sekonyong-konyong hilang rasa ruwet tersebut dan dengan ringannya sang suami mengungkapkan perasaan rindu pada istri tercinta via WA.

Di seberang sana sang istri yang sebelumnya terus mengirimkan kalimat hinaan dan cacian spontan terdiam. Sejurus kemudian kalimatnya melembut. Masya Allah…

Sang suami merasa seperti tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Yang ada hanya rasa rindu yang membara dan ingin segera menemui sang kekasih sejati yang tetap selalu setia menemaninya walau hatinya terasa hancur saat ini.

Sang suami sudah tidak ingat lagi kata kata cacian dan hinaan istrinya terhadapnya, yang diingat adalah senyum sipu dan pelukan hangatnya yang selama ini menjadi penenang jiwanya.

Namun sayang sungguh sayang tiba tiba dia ingat dengan tugas luar kota pada sore itu, sedikit tercekat namun dia harus rela menunda kepulangannya dan balik arah menuju bandara.

Mungkin secara riil masalahnya belum selesai akan tetapi rohmat ALLah telah mengurai kekakuan hati suami istri tersebut hingga membuat sang suami kembali bersemangat menatap masa depan keluarga nya dan timbul keyakinan bahwa dia masih dapat mempertahankan bahtera rumah tangganya bersama istri tercinta.

Sahabat…

Jangan lupa berdoa dengan sepenuh kekhusyukan kepada Allah dengan doa yang singkat itu. Semoga Allah SWT segera memberikan jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi.
Aamiiin.

Sharing Terapi Qur’an

(ibm/wahdaniyah.com)

Sa’id bin Amir, di Antara Dua Cinta

(wahdaniyah.com) – Sahabat Rasulullah yang satu ini memang tak seterkenal Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash-shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, atau Bilal bin Rabah.

cinta Sa'id bin Amir

Sosok yang luar biasa inipun bukanlah termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Beliau berislam ketika futuhat Mekkah.

Namun jangan ditanya tentang kesholihan dan kezuhudan beliau. Ketika Umar mencari gubernur untuk Homs, maka setelah mencari kesana kemari, merenung dan berpikir keras, Khalifah Umar pun akhirnya merasa yakin dengan pilihan beliau. Umar memilih Sa’id bin Amir sebagai gubernur Homs.

Jika di zaman sekarang banyak orang rebutan kursi jabatan, namun tidak dengan para sahabat Rasul. Ketika Umar meminta Sa’id menjadi gubernur, awalnya beliau menolak sambil berkata: “janganlah engkau menjerumuskan aku dalam fitnah”.

Ya, bagi para sahabat yang hanya berharap ridho Allah ini, jabatan hanya akan membuat diri merasa lebih dari orang lain, ini akan menyuburkan sifat ujub/sombong.

Dengan tegas Umar bin Khattab berkata: “apakah engkau akan membebaniku dengan jabatan Khalifah sementara tak ada yang membantuku? Engkau biarkan aku menanggung beban berat ini?”

Benarlah adanya, bukan mudah menjadi seorang pemimpin. Pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya telah menanti di pengadilan akhirat. Pemimpin adalah pelayan rakyat. Memastikan setiap kebutuhan individu rakyat terpenuhi dengan layak dan manusiawi adalah tugas seorang pemimpin. Dalam wilayah Daulah yang luas, tentu Umar memerlukan pembantu di tiap daerah untuk memastikan pelayanan tersebut.

Sa’id bin Amir akhirnya menerima permintaan Umar bin Khattab. Berangkatlah beliau bersama istri yang baru dinikahinya dengan membawa perbekalan secukupnya dan uang tunjangan dari Khalifah Umar.

Ya, mereka adalah pengantin baru. Mendapatkan seorang istri yang cantik tentulah sangat membahagiakan hati.

Setelah beberapa lama di Homs, terkumpullah uang yang lumayan banyak untuk dibelikan keperluan rumah tangga. Istri Sa’id telah merancang-rancang daftar belanjaan termasuk untuk keperluan pribadinya sebagai perempuan. Ia pun menyampaikan kepada suaminya.

Lalu apa jawaban Sa’id? “Istriku, maukah engkau kuberi tahu hal yang lebih berguna daripada membelanjakan uang ini? Homs adalah kota dagang, semua orang berdagang ke sini, bagaimana kalau kita serahkan uang kita kepada beberapa orang untuk dia jadikan modal dan mengelolanya sehingga menghasilkan keuntungan untuk kita.”

Awalnya sang istri khawatir jika kerjasama itu mendatangkan kerugian, namun Sa’id berhasil meyakinkan sang istri.

Sa’id pun keluar memberi keperluan rumah tangga yang sangat sederhana. Sisanya, yang tentu saja masih dalam jumlah yang sangat banyak, ia bagi-bagikan kepada fakir dan miskin.

Hari demi hari berlalu, sang istri pun mempertanyakan keuntungan dari permodalan yang mereka usahakan. Sa’id hanya menjawabnya dengan senyuman dan berkata: “jangan khawatir”.

Hingga suatu hari, istri Sa’id bertanya di depan seorang kerabat yang mengetahui hal ihwal harta tersebut. Dan terbongkarlah apa yang selama ini disembunyikan oleh Sa’id.

Istri beliau pun menangis. Ia menyesal karena harta tersebut lenyap tanpa arti dan tidak dibelanjakan untuk keperluan hidup dan dirinya. Bahkan sekarang tak ada lagi yang tersisa.

Sa’id memandangi wajah istrinya yang semakin cantik oleh air mata di wajahnya. Namun, sebelum kecintaan pada istrinya menguasai dirinya, Sa’id mengalihkan mata batinnya ke surga, menengadah mencari ridho Ilahi.

Dalam perjalanan mata batinnya di surga, ia melihat rekan-rekannya yang telah mendahuluinya. Sa’id pun berkata: “Aku mempunyai rekan-rekan yang lebih dulu menemui Allah, dan aku tak ingin ketinggalan dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya.”

Karena takut cintanya pada sang istri melebihi dari cintanya kepada Allah dan Rasul, Sa’id pun menyampaikan kata-kata yang seakan diperuntukkan untuk dia dan istrinya, “Bukankah engkau tahu bahwa di dalam surga itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga andai seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, seluruhnya akan terang benderang, dan tentulah cahaya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan. Maka, mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi dirimu,” pungkasnya.

Sa’id mengakhiri ucapannya dengan tenang dan tenteram. Istrinya terdiam dan sadar bahwa tak ada yang lebih utama baginya daripada meniti jalan kebahagiaan untuk akhirat. Akhirnya sang istri meneladani sifat zuhud dan ketakwaan sang suami, Sa’id bin Amir.

Semoga kita semua bisa meneladani Sa’id dalam hal meletakkan kecintaan dan visi hidup. Akhirat adalah tujuan hidup kita, tentulah ridho Allah yang harus kita gapai. Sa’id tak ingin ketinggalan dalam beramal, meskipun start belakangan dibandingkan rekan-rekannya. Kerinduan akan surga yang senantiasa hadir di hati kita, tentulah akan membuat kita tak bisa berdiam diri dari beramal sholeh. Wallahu a’lam.

kendal, 18 Juli 2019

Sumber: Biografi 60 Sahabat Nabi

(ibm/arrahmah.com)

Jenggot Bukan Ciri Teroris

Jenggot Bukan Ciri Teroris

Merebaknya aksi-aksi terorisme di tanah air, berujung pada munculnya stereotip-stereotip di tengah masyarakat tentang ciri teroris. Diantaranya bahwa lelaki berjenggot adalah ciri dari teroris. Karena diantara pelaku terorisme ternyata memang berjenggot. Maka dalam artikel ini perlu kami jelaskan bahwa berjenggot adalah ajaran Islam yang jauh sudah disyariatkan sebelum para teroris lahir.

 

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Berjenggot Lebat

Ketahuilah bahwa manusia yang paling mulia, teladan dan junjungan kita semua, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau berjenggot lebat. Dari Jabir radhiallahu’anhu beliau berkata:

كانَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم قد شَمِطَ مُقدَّمُ رأسِهِ ولحيتِهِ، فإذا ادَّهَنَ ومشَطَ لم يتبيَّنْ، وإذا َعِثَ رأسُهُ تَبَيَّنَ، وكانَ كَثِيرَ الشَّعرِ واللّحيةِ، فقالَ رجُلٌ: وَجهُهُ مِثْلُ السَّيْفِ؟ قال: لا، بلْ كانَ مِثْلَ الشَّمسِ والقَمَرِ مُسْتدِيراً؛ قال: ورأيتُ خَاتمهُ عِندَ كَتِفِهِ مِثْلَ بَيْضَةِ الحمامَةِ يُشْبِهُ جَسَدَهُ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ada sedikit uban di bagian depan rambut kepala dan jenggotnya. Jika beliau meminyaki dan menyisir rambutnya, uban itu tidak nampak. Tapi ketika rambutnya kering, uban itu nampak. Dan beliau adalah orang yang lebat rambut dan jenggotnya. Ada yang bertanya: ‘apakah wajah beliau seperti pedang?’. Jabir menjawab: ‘Tidak, justru wajahnya seperti matahari dan bulan yang bersinar’. Jabir juga mengatakan: ‘dan aku melihat tanda kenabian di pundak beliau, bentuknya seperti telur merpati yang warnanya hampir sama seperti warna kulit beliau‘” (HR. Muslim no. 2344).

Padahal beliau adalah suri teladan terbaik dan kita diperintahkan Allah untuk meneladani beliau. Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21).

Maka bagaimana mungkin berjenggot dijadikan sebagai ciri teroris? Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah teroris?

 

Jenggot Adalah Sunnah Para Nabi dan Rasul

Ketahuilah bahwa para berjenggot adalah sunnah (kebiasaan) para Nabi dan Rasul terdahulu. Padahal kita ketahui bersama bahwa para Nabi dan Rasul tidak semua dari Jazirah Arab.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berjenggot. Berdasarkan sebuah hadits dari Jabir radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ورأيتُ إبراهيمَ صلواتُ اللهِ عليه . فإذا أقربُ من رأيتُ به شبهًا صاحبُكم ( يعني نفسَه )

Aku pernah melihat Ibrahim shalawatullah ‘alaihi. Dan orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian (yaitu Nabi sendiri)” (HR. Muslim no. 167).

Hadits ini menunjukkan bahwa rupa Nabi Ibrahim ‘alahissalam itu mirip dengan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, dan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berjenggot.

Nabi Nuh ‘alaihissalam berjenggot. Dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah, dari Hisyam bin Al ‘Ash, bahwa Heraklius menggambarkan sifat-sifat para Nabi dan diantaranya ia mengatakan:

في صفة نوح – عليه الصلاة والسلام – انه كان حسن اللحية

Tentang sifat Nabi Nuh ‘alaihis shalatu was salam, ia memiliki jenggot yang bagus” (Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah, 1/385. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya [3/484] mengatakan: “sanadnya laa ba’sa bihi”).

Nabi Harun ‘alaihissalam berjenggot. Lihatlah ketika Nabi Harun menjelaskan kepada Nabi Musa ‘alaihimassalam yang marah kepada beliau:

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku“” (QS. Thaha: 94).

Kesimpulannya, berjenggot adalah sunnah para Nabi dan Rasul. Syaikh Hamud At Tuwajiri mengatakan:

وإذا علم إن إعفاء اللحية ثابت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – من قوله وفعله وأنه من هديه الذي هو خير الهدي، فليعلم أيضًا أن إعفاءها من سنن الأنبياء والمرسلين وهديهم

“Jika telah diketahui bersama bahwa memanjangkan jenggot adalah sunnah yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dalam perintah beliau dan perbuatan beliau, dan beliau adalah orang petunjuknya adalah sebaik-baik petunjuk, maka ketahuilah bahwasanya memanjangkan jenggot itu juga sunnah para Nabi dan Rasul serta merupakan ajaran mereka” (Ar Radd ‘ala Man Ajaaza Tahdzibal Lihyah, 6).

Kesimpulan

Membiarkan dan memanjangkan jenggot bagi laki-laki adalah ajaran Islam yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan para ulama sepakat mewajibkannya dan melarang mencukurnya habis jenggot. Maka tidak layak menjadikan jenggot sebagai ciri teroris.

Hanya kepada Allah lah tempat mengadu…

Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang Harta

10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang Harta

Ketahuilah bahwa semua rezeki itu dari Allah Ta’ala. Terkadang Allah luaskan rezeki kepada seseorang, terkadang Allah sempitkan. Tugas kita adalah menerima semua putusan Allah dengan sabar, syukur dan qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah karuniakan. Inilah kunci kebahagiaan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قد أفلحَ من أسلمَ ، ورُزِقَ كفافًا ، وقنَّعَه اللهُ بما آتاهُ

“Sungguh beruntung orang yang sudah berislam, lalu Allah beri rezeki yang secukupnya, dan Allah jadikan hatinya qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya” (HR. Muslim no. 1054).

Namun kebanyakan kita terkalahkan oleh hawa nafsu sehingga merasa tidak pernah cukup. Demikianlah umumnya manusia, betapapun banyak yang Allah berikan, terasa tidak pernah cukup. Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian)” (HR. Bukhari no.6436 dan Muslim no.1048).

Terkadang, betapapun banyak yang Allah berikan, masih saja seseorang merasa miskin dan kurang. Sehingga hidupnya tidak pernah bahagian karena terkungkung oleh perasaannya yang senantiasa merasa kurang.

Maka, mari kita kenali sebab-sebab seseorang senantiasa merasa miskin dan merasa kurang, semoga kita bisa merenungkan dan mengambil faedah darinya.

Seseorang akan terus merasa miskin dan kurang ketika:

1. Karena tujuan hidup dan ambisi terbesarnya masih mencari dunia, bukan akhirat

Orang yang ambisi terbesarnya adalah dunia, Allah jadikan kefakiran di depan matanya, ia merasa miskin terus. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

محب الدنيا لا ينفك من ثلاث : هم لازم و تعب دائم و حسرة لا تنقضي

“pecinta dunia tidak lepas dari 3 hal: kegalauan yang terus-menerus, keletihan yang terus-menerus, dan kekecewaan yang tiada berakhir” (Ighatsatul Lahafan, 1/37).

2. Karena jahil terhadap ilmu agama

Ilmu membuat pemiliknya jauh dari cinta dunia, dan sadar bahwa akhirat adalah tujuan. Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar“” (QS. Al Qashash: 79-80).

Orang yang berilmu akan paham kekayaan hakiki bukanlah kaya harta benda, namun kekayaan hakiki adalah kaya hati. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu adalah banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Muslim no.6446, Muslim no. 1051).

3. Karena mengikuti bisikan setan dengan melakukan maksiat dan berbuat bid’ah

Karena setanlah yang menakut-nakuti dengan kefakiran lalu menyuruh manusia berbuat maksiat, bid’ah dan kesyirikan demi untuk mencari dunia. Allah Ta’ala berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. Al Baqarah: 268).

 

Orang yang terbawa oleh bisikan setan ini akan terus merasa kurang dan kurang, sehingga akhirnya ia menjalani jalan-jalan yang haram untuk mendapatkan harta.

4. Karena banyak bergaul dengan orang kaya, kurang bergaul dengan orang miskin

Orang yang banyak bergaul dengan orang-orang kaya, yang memiliki harta lebih banyak darinya, ia akan menganggap remeh nikmat Allah yang ia dapatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu” (HR. Bukhari – Muslim).

Banyak bergaul dengan orang-orang yang miskin dan lemah akan melembutkan hati dan menjauhkan jiwa dari cinta dunia. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata

أنَّ رجلا شكا إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ قسوةَ قلبِه فقال له إنْ أردتَ تَليينَ قلبِكَ فأطعمِ المسكينَ وامسحْ رأسَ اليتيمِ

“Ada seorang yang mengeluhkan kerasnya hatinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda kepada orang tersebut: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, berilah makanan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad, 2/ 263, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 854).

5. Kurang mensyukuri nikmat-nikmat yang kecil

Jika hal-hal kecil tidak disyukuri, maka nikmat-nikmat yang besar tidak akan disyukuri dan terus merasa kurang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن لا يشكرُ القَليلَ لا يَشكرُ الكثيرَ

“Orang yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia tidak akan bersyukur pada nikmat yang banyak” (HR. Ahmad no. 18449, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.3014).

6. Hati yang sakit dan mati

Sehingga tidak memiliki tawakkal, husnuzhan billah, qana’ah, syukur, dan ibadah-ibadah hati lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar:

أَفَتَرى قِلَّةَ المالِ هو الفقرَ ؟ . قلتُ : نعم يا رسولَ اللهِ ! قال : إنما الغنى غنى القلبِ ، و الفقرُ فقرُ القلبِ

“Apakah kalian menyangka kefakiran itu adalah kekurangan harta?”. Abu Dzar menjawab: “iya wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kekayaan hakiki itulah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati” (HR. Ibnu Hibban no.685, Al Hakim no. 7929, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 827).

Hati yang sehat akan merasakan ketenangan dan manisnya iman, tidak ada perasaan susah karena kurangnya harta. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4).

7. Kurang ibadah

Karena Allah menjanjikan orang yang banyak beribadah akan diberikan rasa lapang di dada dan akan dicegah dari kefakiran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يقولُ يا ابنَ آدمَ : تَفَرَّغْ لعبادَتِي أملأْ صدركَ غِنًى وأسُدُّ فقرَكَ ، وإِنْ لَّا تفعلْ ملأتُ يديْكَ شُغْلًا ، ولم أسُدَّ فقْرَكَ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai manusia! Habiskan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan akan Aku tutup kefaqiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka akan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefaqiranmu’” (HR. At Tirmidzi no. 2466, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Maka perbanyaklah ibadah dan ikhlaslah dalam beribadah, niscaya Allah akan berikan kecukupan.

8. Penghasilan atau pekerjaannya haram

Karena harta yang haram tidak ada keberkahan di dalamnya, semua yang didapatkan akan terasa kurang dan sedikit kebaikannya. Contohnya harta riba, Allah Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah menghancurkan harta riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276).

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجنةَ لحمٌ نبت من السُّحْتِ، وكلُّ لحمِ نبت من السُّحتِ ؛ كانتِ النارُ أوْلَى به

“Tidak masuk surga, daging yang tumbuh dari harta haram. Setiap daging yang tumbuh dari harta haram, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no.15284, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah[6/214]).

9. Tidak mau bekerja dan malas

Ketika seseorang tidak mau berusaha dan malas mencari rezeki bagaimana mungkin ia lepas dari kefakiran? Maka bagi laki-laki, tidak boleh malas dan enggan bekerja. Umar radhiyallahu ‘anhu:

يا معشر القراء (أي العباد) ارفعوا رؤوسكم، ما أوضح الطريق، فاستبقوا الخيرات، ولا تكونوا كلاً على المسلمين

“Wahai para pembaca Qur’an (yaitu ahli ibadah), angkatlah kepada kalian (baca: bekerjalah!), sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Para lelaki kaum Muslimin tidak boleh malas bekerja, karena mereka bertanggung-jawab memenuhi nafkah keluarganya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو

تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah. Namun setiap Mukmin itu baik. Semangatlah pada perkara yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam perkara tersebut), dan jangan malas. JIka engkau tertimpa musibah, maka jangan ucapkan: andaikan saya melalukan ini dan itu. Namun ucapkan: “qadarullah wa maa-syaa-a fa’ala (ini takdir Allah, apa yang Allah inginkan itu pasti terjadi)”. Karena ucapkan “andaikan…” itu akan membuka pintu setan” (HR. Muslim no. 2664).

10. Jarang berdoa

Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan banyak doa-doa agar terhindar dari kefakiran. Diantaranya:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau” (HR. Abu Daud no.5092, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)” (HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya).

Dan doa-doa lainnya yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah.

Maka pembaca yang budiman, mari kita kenali dan renungkan poin-poin di atas, dan kita tumpas segera sehingga kita terbebas dari perasaan selalu miskin dan selalu kurang.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.