Pemimpin yang Meminta Nasihat

Pemimpin yang Meminta Nasihat

Seorang pemimpin yang bijak ialah yang tak segan meminta nasihat
Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Umar bin Abdul Azis telah memberikan keteladanan yang sangat mulia kepada kita, khususnya bagi para pemimpin umat sepeninggalnya. Hal tersebut ia contohkan ketika usai dilantik menjadi pemimpin kaum Muslimin. Setelah diangkat menjadi khalifah, dengan penuh rendah hati beliau mengirimkan surat kepada seorang ulama terkemuka, Hasan Al-Basri. Dalam suratnya itu, beliau meminta nasihat agar dapat menunaikan kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.

Dalam surat balasannya, Imam Hasan Al-Basri memberikan beberapa nasihat yang berharga, penuh kebijaksanaan, dan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah. Beliau menulis: Wahai, Amirul Mukminin, dalam segala apa yang telah dikuasakan Allah kepada engkau, janganlah sekali-kali berlaku khianat dan berbuat sewenang-wenang serta menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggunganmu.

Tentu kita bertanya, mengapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Ummayah itu mau melakukan tindakan yang belum pernah dilakukan para pemimpin pendahulunya?

Jawabnya, karena ia meyakini dan mengamalkan sepenuhnya hadis Nabi Muhammad saw: Siapa saja yang telah diberikan Allah amanat untuk memimpin dan ia tidak saling menasihati, maka ia tidak akan mencium wanginya surga. (HR Bukhari).

Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah saw juga bersabda: Sesungguhnya Allah meridlai kamu sekalian, jika saling memberi nasihat kepada orang yang telah diberi amanat untuk mengurusi segala urusan kalian. (HR Muslim).

Kenyataan sejarah tersebut, bertolak belakang dengan apa yang banyak terjadi dewasa ini. Para pemimpin yang telah diberi amanat untuk memimpin, seakan terlena dengan jabatan prestisius yang tengah didudukinya. Sehingga, jarang sekali kita temukan dari mereka yang mau berbuat seperti yang telah dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Pada dasarnya, para pemimpin itu wajib kita taati selama mereka berpijak pada kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, kita juga harus mengingatkan mereka takkala melakukan kekeliruan atau kesalahan. Untuk itu, guna menghindari terjadinya kesalahan dalam bertindak, para pemimpin hendaknya mau berkonsultasi atau meminta nasihat terlebih dahulu kepada orang yang dianggap alim dan bijaksana, para ulama.

Tampaknya pelajaran dari keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu yang perlu kita hayati. Bahwa, meminta nasihat kepada orang-orang alim dan saleh atau ulama merupakan perbuatan mulia dan sesuai dengan prinsip pokok ajaran Islam, yaitu saling menasihati. Sebagaimana sabda Nabi saw: Agama Islam itu adalah nasihat. (HR Muslim).

Dengan kata lain, meminta nasihat bukanlah suatu tindakan yang menghinakan diri atau menjadikan seseorang rendah diri, melainkan hal tersebut cerminan dari budi pekerti yang mulia. Sedangkan bagi para pemimpin, meminta nasihat merupakan suatu tindakan kehati-hatian dalam menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, juga menandakan optimalisasi kinerja yang dinamis.

Hal ini hendaknya menjadi perhatian para elite politik yang tengah berlomba-lomba menuju tampuk kekuasaan. Dengan demikian, pemimpin bangsa di masa depan adalah mereka yang mengutamakan kebaikan dan umat, bukan kepentingan duniawi dan pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *