Pengaruh Kuliner Islam: Dari Asia Hingga Eropa 

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar.

Pada tahun 1258, Bangsa Mongol menaklukkan Baghdad dan menggulingkan Dinasti Abbasiyah. Sementara itu, di Iberia orang-orang Kristen mendesak kaum Muslimin kembali ke wilayah selatan Andalusia.

Meski secara politik dunia Islam terdesak, kuliner Islam tetap berkibar, bahkan wilayah penyebarannya kian luas. Pada tahun 1300, pengaruh kuliner Islam sudah menjangkau kota-kota di Asia Tengah, seperti Samarkand, Bukhara, dan Merv, serta di Kesultanan Delhi, India.

Di India bagian tengah, sebagaimana terungkap dalam Book of Delights yang ditulis pada akhir abad ke-15, Sultan Mandu, yakni Ghiyath al-Din digambarkan sedang berada di taman sembari memperhatikan para juru masaknya. Di buku yang dilengkapi gambar-gambar itu terdapat sejumlah resep favorit pada masa itu, se perti aneka kue di antaranya samosa, aneka masakan berbahan dasar daging, serta minuman.

Di Cina, buku kuliner dan tata cara pengaturan makanan (diet) dikemas dalam satu buku bagus berjudul Proper and Essential Things for the Emperor’s Food and Drink. Ditulis pada tahun 1330 oleh dokter kekaisaran, Hu Szu-hui, buku ini menerangkan tentang bagaimana orangorang Mongol mengadopsi unsur-unsur kuliner Islam dalam masakan mereka.

Sentuhan Islam itu antara lain tampak dalam sup tradisional Mongol. Karena pengaruh kuliner Islam itulah, orang Mongol saat membuat sup akan menambahkan sedikit beras, sejenis kacang Arab, dan membumbuinya dengan kayu manis, biji fenugreek, kunyit, asafetida, mawar, lada hitam, dan sedikit cuka sebagai penambah cita rasa.

Begitupun saat memasak mi. Orang Mongol, sebagaimana kebiasaan dalam kuliner Islam di Turki maupun Timur Tengah, akan menambahkan saus bawang putih dengan yoghurt yang creamy. Selain itu, mereka pun membuat permen dan minuman ala Islam, seperti jus buah, selai, jeli, julab, dan umbi.

Pengaruh kuliner Islam juga menyentuh daratan Eropa, di antaranya berkat jasa para pedagang Kristen dari Genoa, Barcelona, dan Venesia. Saat berdagang dan menetap cukup lama di negeri-negeri Islam, mereka jadi tahu tentang kuliner Islam, seperti jenis-jenis masakannya, bumbunya, juga cara mengolahnya.

Bahkan, para saudagar Eropa itupun membeli perangkat masak dari dunia Islam. Di antaranya, mereka memborong panci masak di Afrika Utara lalu menjual nya kembali di Eropa Selatan. Dengan sendirinya, segala hal ihwal mengenai kuliner Islam makin dikenal bangsa Eropa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *