Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah

Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah


(wahdaniyah.com) – Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.

Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.

Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah.” (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)

Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari’at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam.” Ditanyakan kepadanya, “Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?” Beliau menjawab, “Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka.”

Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.

Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama’ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.

Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.

Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya. Aamiin.

(ihza/wahdaniyah.com)

“Mukjizat” Sepucuk Surat


(wahdaniyah.com) – Peradaban agung, dibangun oleh tokoh agung. Sosok paling revolusioner sepanjang sejarah. Dialah Nabi Muhammad saw. Pembawa risalah, peletak dasar peradaban Islam. Kejayaan peradaban ini dicapai bukan dari kilatan pedang, justru sebagian takluk berkat sepucuk surat.

***

Annajasyi, Raja Habasyah, membaca dengan seksama surat yang dibawa Amru bin Umayyah Adh Dhamri. Isinya 17 baris. Ditangkupkannya surat Nabi Muhammad saw itu ke kepala dan menutupi wajahnya. Lalu ia beringsut dari pembaringannya dan duduk di bawah sebagai sikap pengagungan.

Dipanggilnya Ja’far bin Abi Thalib. Di hadapannya, penguasa Nasrani itu mengucapkan syahadat. “Kalau aku sudah mampu maka aku akan mendatanginya, pasti aku akan pergi menjumpainya (menemui Muhammad saw, red),” ujar Annajasyi.

Ia tak bisa mengelak dari kebenaran. Kendati belum bertemu, berdialog atau menyimak dakwah langsung beliau, ia telah menemukan tanda-tanda kebenaran yang dikabarkan injil. Di mana? Surat dari Nabi.

Ia pun menulis surat balasan untuk Rasulullah saw yang isinya antara lain: “Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasulullah dan dapat dipercaya. Aku telah berbaiat kepadamu dan kepada anak pamanmu serta di hadapannya menyatakan memeluk Islam kepada Allah Tuhan semesta alam.”

Demikianlah dakwah melalui tulisan yang dilakukan Rasul. Menyeru dengan jalan damai. Banyak negeri-negeri ditaklukkan dengan perantara sepucuk surat. Dakwah dengan pena ini gencar dilakukan pasca Perjanjian Hudaibiyah, yaitu masa gencatan senjata dengan kafir Quraisy. Beliau segera memanfaatkan suasana tenang dan damai itu dengan mengirimkan surat ajakan dan seruan masuk Islam kepada segenap umat manusia.

Setidaknya, ada 31 pucuk surat yang ditulis untuk pemimpin negeri dan 43 pucuk surat untuk kepala suku dan kabilah. Beliau dibantu 46 sahabat sebagai sekretaris atau penulis. Antara lain Zaid bin Tsabit, Hamdhalah Ibnu Arabi, Amir ibn Fuhairah, Assijill dan masih banyak lagi.

Mereka bertugas mencatatkan berbagai kepentingan negara. Di antaranya, tim penulis yang khusus menulis surat kepada raja-raja dan penguasa-penguasa dengan menggunakan berbagai bahasa asing. Terbayang hebatnya generasi literasi di masa itu. Kendati dengan sarana terbatas, tak ada mesin tik, printer, apalagi internet. Namun, mampu menaklukkan dunia.

Para sahabat itu memahami sepenuhnya urusan baca-tulis. Menguasai masalah akidah, politik, taktik, diplomasi dan berargumen. Rasul yang buta huruf, memercayakan penulisan surat kepada mereka. Beliau memerintahkan dakwah kepada segenap bangsa menggunakan gaya bahasa masing-masing untuk lebih melunakkan hati dan perasaan umat.

Lalu, beliau mengirimkan para utusan untuk menyampaikan surat-surat itu ke penjuru dunia. Beliau tidak buang-buang waktu. Gigih, segera menyampaikan tulisan itu ke segenap kabilah dan bangsa-bangsa di seluruh pelosok negeri. Sepucuk surat berisi seruan dakwah, untuk menyelamatkan umat manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar.

Surat Nabi bersifat terbuka, tulus dan terus terang agar mampu mengarahkan akal, hati dan nafsu tunduk pada kebenaran. Itu sebabnya Raja Annajasyi pun tunduk bersyahadat.

Demikianlah, Nabi saw diutus untuk seluruh umat manusia. Rahmat bagi semesta. Membawa cahaya Islam, mengentaskan kejahiliyahan. Waktu itu tak ada pesawat, tak ada email kilat, tak ada internet, tak ada media sosial. Namun literasi islami telah dimulai. Bisa dibilang, Rasulullah saw sebagai peletak dasarnya.

Beliau membuka pintu hidayah dunia dengan perantara sepucuk surat. Menaklukkan negeri-negeri tanpa pertumpahan darah. Melembutkan jiwa-jiwa kufur hingga tunduk pada kebenaran. Menjadi teladan bagi kita, akan “mukjizat” sepucuk surat. Sebuah tulisan yang mampu mengislamkan berbondong-bondong manusia. Demikianlah ketinggian literasi Nabi yang semestinya kita teladani.(*)

Diolah dari “Surat-surat Nabi Muhammad” karya Khalid Sayyid Ali.

(ihza/wahdaniyah.com)

Fakta di Balik Film ‘Aladdin’

Disney merilis “Aladdin” dalam format aksi nyata yang dibintangi Mena Massoud dan Naomi G Scott. Film ini hadir setelah 27 tahun animasi diterbitkan pada tahun 1992.

Ada sederet fakta menarik di balik cerita film berlatar Timur Tengah ini. Berikut di antaranya:

1. ‘Aladdin’ berusia 309 tahun

‘Aladdin’ merupakan adaptasi dari kumpulan cerita Seribu Satu Malam. Cerita ini menjadi dikenal luas setelah seorang penerjemah asal Prancis menambahkan koleksi cerita rakyat Timur Tengah dari zaman keemasan Islam di 1710.

Kisah Aladdin tersampaikan dari mulut ke mulut. Hingga kini naskah 1001 Malam sendiri belum ditemukan sumber aslinya yang berasal dari Arab.

2. Karakter dalam film ‘Aladdin’ berasal dari film ‘The Thief of Baghdad’

“The thief of Baghdad”, sebuah film Inggris yang dirilis pada tahun 1940,  menampilkan karakter Jaffar, seorang tokoh agung sosok yang keji dan jahat dan Abu, seorang pencuri yang membantu pahlawan Ahmad, seorang Sultan yang jatuh cinta pada Putri dari kota sebrang.

Dalam film animasi dan aksi langsung tahun 1992, Jafar kembali dan digambarkan dengan karakter yang sama, sementara Abu diberikan pada monyet yang menjadi sahabat karib Aladdin.

3. Karakter Genie didedikasikan untuk Robin Williams

Animator dari kisah ‘Aladdin’ (1992) menciptakan sosok Genie menyamakannya dengan Robin Williams. Ia kocak sekaligus lucu dengan gaya stand up comedy yang sering ditampilkan Williams.

4.Penampilan Aladdin disesuaikan dengan penampilan Tom Cruise

Meskipun karakternya diceritakan berasal dari Arab, animator awalnya menggunakan Michael J. Fox sebagai inspirasi untuk penampilannya. Tetapi akhirnya mereka mendasarkan penampilannya pada Tom Cruise.

”Ada kepercayaan diri dengan semua sikap yang ditampilkan Tom Cruise.,” kata pemimpin animator Glen Keane kala itu.

Kini versi live-action film tersebut dibintangi oleh aktor Mena Massoud.

5. Disney mengadakan audisi 2.000 orang untuk peran utama live-action ‘Aladdin’

Disney mengeluarkan seruan casting di seluruh dunia untuk aktor dan penyanyi dari latar belakang Arab atau Asia untuk berperan sebagai Aladdin dan Jasmine.

Ini berlangsung berbulan-bulan karena sulit untuk menemukan mereka yang dapat melakukan keduanya tetapi pada akhirnya Achraf Koutet (aktor asal Belanda), Mena Massoud, dan George Kosturos (American Wrestler) turun ke tiga final untuk Aladdin sementara Naomi Scott dan Tara Sutaria (aktris asal India) adalah dua harapan terakhir untuk Jasmine.

Massoud dan Scott akhirnya berperan dan keduanya melakukan peran tersebut.